Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Upacara

Hewan Dalam Upacara


I Ketut Wiana | DALAM rangkaian upacara Panca Bali Krama banyak digunakan sarana hewan. Penggunaan hewan itu memiliki makna luas dan mendalam. Dalam Lontar Dangdang Bang Bungalan dinyatakan, penggunaan hewan dalam penyelenggaraan yadnya, dalam upacara Ekasata menggunakan seekor ayam brumbun sampai upacara Eka Dasa Rudra sampai Maligia Marebu Bhumi menggunakan puluhan ekor kerbau. Hal tersebut Sebagai visualisasi tatwa Agama Hindu yang tersurat dan tersirat dalam kitab suci Weda.

Dalam Manawa Dharmasastra V.40 dinyatakan, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang digunakan sebagai sarana upacara keagaman kelak akan menjelma dalam tingkatan yang lebih tinggi. Penggunaannya dalam upacara memiliki muatan niskala untuk membangkitkan daya spiritual umat, agar dengan kecerdasan intelektual dan kepekaan emosionalnya meningkatkan pelestarian flora dan fauna. Dalam Sarasamuscaya 135 dinyatakan, untuk menyukseskan tercapainya tujuan hidup mencapai dharma, artha, kama dan moksha terlebih dahulu sejahterakanlah alam itu. Alam sejahtera dinyatakan dengan istilah bhuta hita. Sloka Sarasamuscaya tersebut menegaskan lagi “aywa tan masih ring sarwaprani”. Artinya janganlah tidak menaruh belas kasihan pada semua makhluk hidup.

Penggunaan hewan dalam upacara yadnya ini tidak sama di kalangan umat Hindu, meskipun tujuan utamanya sama, untuk melestarikannya. Di kalangan penganut Hindu yang waisnawa umumnya hewan itu tidak disemblih, malahan dipelihara dengan sebaik-baiknya terutama sapi. Hewan tersebut dipelihara dengan teliti sampai ia sehat dan gemuk serta mengeluarkan susu. Susu itulah yang dinikmati sebagai makanan dan minuman yang satwika. Memelihara sapi dengan sebaik-baiknya itu sebagai simbol memelihara dan merawat bumi ibu pertiwi agar tetap subur. Bumi yang subur akan memunculkan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan makanan dan obat-obatan. Ini berarti penggunaan tumbuh-tumbuhan dan hewan itu secara simbolis memotivasi umat manusia agar senantiasa memelihara kesejahteraan alam lingkungannya terutama tumbuh-tumbuhan dan hewan.

Ada juga kelompok Hindu dalam menggunakan hewan dalam upacara dengan cara menyembelihnya dan menjadikan hewan tersebut sebagai simbol tertentu dalam membuat upakaranya. Manawa Dharmasastra V.42 menyatakan, penggunaan hewan oleh seorang dwijati yang ahli Weda dengan cara menyembelihnya, tetapi berdasarkan petunjuk kitab suci dengan tujuan yang suci.

Hal itu menyebabkan beliau mencapai keadaan yang lebih bahagia bersama-sama makhluk tersebut di alam niskala. Penyembelihan hewan untuk upacara yadnya sesuai dengan aturan suci bukanlah penyembelihan dalam pengertian yang lumrah (Manawa Dharmasastra V.39).
Sesungguhnya makna utama penyembelihan hewan adalah menyembelih sifat-sifat hewan yang negatif yang ada dalam diri kita. Penyembelihan hewan yang tidak berdasarkan alasan suci akan menimbulkan dosa sejumlah bulu hewan yang disembelih. Yang menyembelih akan mengalami mati yang tidak wajar dalam tiap penjelmaannya (Manawa Dhatmasastra.V.38).

Kalau ketentuan tersebut benar-benar diterapkan, maka penyembelihan hewan akan sangat terbatas dan sangat terpilih. Yang dapat kita upayakan secara nyata adalah memelihara hewan itu dengan sebaik-baiknya sebagai upaya pelestarian alam. Kalau pandangan Hindu tentang penggunaan hewan ini dikaitkan seruan PBB terkait global warning akan amat sesuai. PBB menyatakan di AS tiap tahun disembelih 10 miliar ekor hewan darat. Penyembelihan itu menghasilkan 1,3 juta ton amoniak yang menimbulkan pengotoran udara. Karena itu penyembelihan hewan hendaknya dikurangi kalau tidak karena alasan-alasan yang suci yang diyakini.

Penggunaan hewan tertentu memiliki makna simbolis sebagai visualisasi ajaran Hindu. Misalnya itik, dalam Sarasamuscaya dinyatakan sebagai hewan yang bijaksana. Itik bisa makan nasi campur lumpur, tetapi yang masuk ke perutnya nasinya saja. Penggunaan itik dalam upacara agama Hindu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan wiweka jnyana atau kemampuan untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Itik sebagai simbol guna sattwam. Ayam dan babi sebagai simbol guna rajah dan tamah. Penggunaan ayam dan babi sebagai simbol agar manusia dapat menguasai guna rajah dan tamah-nya agar jangan sombong dan rakus. Anjing sebagai simbol kesetiaan. Dalam kitab Cinakata atau fragmen ceritra anjing dinyatakan anjing amat taat dan setia membela majikannya. Berahi anjing juga tidak sembarangan. Kalau sedang Sasih Kesanga barulah muncul berahinya. Ini artinya anjing itu lambang yang memotivasi manusia agar jangan sembarangan mengumbar nafsu berahinya.

Penggunaan kambing bermakna untuk mengikuti sifat konsisten memegang prinsip dan si kambing seperti diungkapkan dalam ceritera Aji Dharma atau Angling Dharma. Berbagai jenis hewan yang digunakan itu juga bermakna agar semua makhluk ciptaan Tuhan dapat diajak bersama-sama ber-bhakti pada Tuhan, agar semua makhluk ciptaanNya meningkat terus, kualitas maupun kuantitasnya.

Filosofi Hari Raya Saraswati


Upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu, khususnya di Bali memiliki nilai-nilai filosofis, dan para generasi Hindu tidak henti-hentinya diarahkan untuk memahami filosofi yang tersembunyi dibalik semua upacara tersebut. Sebab sesungguhnya ajaran-ajaran agama Hindu lebih banyak disampaikan dalam bentuk upacara, yang mana perlu terus dikupas untuk mendapatkan makna yang terkandung didalamnya.
Secara etimologi, kata Saraswati sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Saras yang berarti sesuatu yang mengalir, seperti air ataupun ucapan. Sedangkan kata Wati berarti memiliki. Jadi kata Saraswati berarti sesuatu yang terus mengalir, atau sebagai suatu ucapan yang terus mengalir. Bagaikan ilmu pengetahuan yang tiada habis-habisnya untuk di pelajari.

Sebuah kata atau ucapan baru akan mempunyai makna lebih bilamana didasari oleh ilmu pengetahuan. Sebab hanya ilmu pengetahuan (dalam arti luas) yang mampu menjadi dasar bagi seseorang untuk memperoleh kebijaksanaan yang merupakan landasan untuk mencapai suatu kebahagiaan lahir bhatin (Ananda).
Pada saat pelaksanaan upacara hari raya Saraswati, umat Hindu di Bali khususnya merayakan dengan menghaturkan upakara kepada tumpukan lontar-lontar dan kitab sastra-sastra agama, serta buku-buku ilmu pengetahuan lain, sebagai wujud syukur atas ilmu pengetahuan yang telah terbit menerangi kehidupan manusia. Umat Hindu memandang Aksara sebagai lambang sthana Sang Hyang Aji Saraswati. Aksara yang termuat dalam bentuk lontar ataupun buku-buku adalah serangkaian huruf-huruf yang membentuk ilmu pengetahuan baik Apara Widya maupun Para Widya.

Apara widya adalah segala pengetahuan yang mengetengahkan tentang ciptaan-ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang keberadaan Bhuwana agung dan Bhuwana alit.
Para Widya adalah ilmu pengetahuan yang mengajarkan tetang hakekat Ketuhanan itu sendiri.

Di Bali dan di Indonesia pada umumnya tidak terdapat pelinggih khusus untuk memuja Sang Hyang aji Saraswati. Gambar maupun patung Dewi Saraswati yang kita kenal saat ini berasal dari India. Ada yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang duduk, ada pula yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang berdiri di atas seekor angsa dan bunga teratai. Pun ada yang melukiskan Beliau berdiri di atas setangkai bunga teratai (Padma), dengan ditemani seekor angsa dan merak yang berdiam di kedua sisinya atau mengapit Beliau. Perbedaan versi tersebut bukanlah suatu masalah yang harus di permasalahkan atau di perdebatkan. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai simbol-simbol yang ada untuk memperoleh sari-sari filosofis yang termuat di dalamnya.

Dewi Saraswati yang digambarkan sebagai seorang Dewi yang cantik rupawan, dimaksudkan untuk menyatakan dan melambangkan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang demikian menarik dan mengagumkan, sehingga banyak yang tergila-gila untuk mengenalnya. Maka dari itu, seseorang yang dipenuhi oleh ilmu pengetahuan akan memancarkan aura daya tarik yang luar biasa, yang mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk mendekat. Dalam Kekawin Niti sastra dikatakan bahwa : Orang yang tanpa ilmu pengetahuan, amatlah tidak menarik, meskipun masih muda usia , berwajah tampan, dari keturunan yang baik ataupun bangsawan, karena orang seperti itu ibarat bunga teratai yang berwarna merah menyala namun tidak memiliki bau yang harum, yang mampu menarik kumbang-kumbang untuk mendekat, tiadalah gunanya.

Cakepan atau Lontar yang di bawa oleh Dewi Saraswati merupakan perlambang dari ilmu pengetahuan.
Genitri/Japa Mala,  melambangkan bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnyalah sesuatu yang tiada akhirnya, tidak akan ada habis-habisnya untuk dipelajari, bagaikan putaran sebuah genitri/japamala yang tiada terputus.
Wina/Rebab adalah sejenis alat musik yang suaranya amat merdu dan melankolis, sebagai perlambang bahwa ilmu pengetahuan mengandung suatu keindahan dan nilai estetika yang sangat tinggi.
Bunga Padma/Teratai berdaun delapan adalah lambang dari pada Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa dengan Asteswarya-Nya,dan juga merupakan lambang kesucian yang menjadi hakekat daripada ilmu pengetahuan.
Angsa adalah sejenis unggas yang dikatakan memiliki sifat-sifat kebaikan, kebersamaan dan kebijaksanaan. Mereka memiliki kemampuan untuk memilih makanannya, meskipun makanan itu bercampur dengan lumpur atau air kotor. Yang dimasukkan kedalam perutnya hanyalah makanan-makanan yang baik saja, sedangkan yang kotor dan merugikan disisihkannya. Demikianlah seseorang yang telah memahami hakekat kesujatian dari ilmu pengetahuan, akan dapat memilah-milah secara bijak hal-hal yang baik dan benar serta menyisihkan hal-hal yang buruk.
Burung Merak adalah perlambang suatu kewibawaan, sehingga seseorang telah memahami hakekat ilmu pengetahuan dengan baik dan benar akan memancarkan aura kewibawaan, disegani dan dihormati oleh masyarakat.

Artikel Terkait:

  1. Dewi Saraswati
  2. Makna Perayaan Hari Raya Saraswati
  3. Banten Saraswati dan Bantennya

Sanggah Cucuk dan Tawur Agung Kesanga


Sanggah Cucuk tidak dapat dipisahkan dengan Upacara Agama Hindu, Sanggah cucuk berasal dari kata sanggah yang berarti penyanggah/menopang, dan cucuk yang berarti pemucuk. Jadi dapat diartikan sanggah cucuk ini adalah pertemuan antara penyangga dan pemucuk, maka dari itu sanggah cucuk berbentuk segi tiga. Selain itu fungsi sanggah cucuk adalah sebagai upasaksi dari pelaksanaan ritual bhuta yadnya khususnya pecaruan.

cucuk

Image by: Warung Bu Siki

Dalam kaitannya dengan tawur agung kesanga, sanggah cucuk ini dipakai sebagai salah satu sarana upasaksi yang pasang disamping lebuh atau sebelah pintu/kori masuk rumah. Sedikit pengetahuan tentang tawur agung kesanga, dapat dijelaskan bahwa tawur berasal dari kata nawur atau membayar utang. Lalu kepada siapa kita membayar utang? Kepada para bhuta kala yang mana utang kepada bhuta kala dalam Tri Rna termasuk dalam utang kepada Dewa Rna. Dari utang kepada bhuta inilah perlu dilaksanakannya bhuta yadnya yang tujuannya adalah agar energi-energi negatif dari para bhuta kala tidak mengganggu umat manusia di dunia ini. Selain itu juga fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar bisa menyatu dengan sang hyang tunggal, maka dari itu pada mantram ngalukat bhuta disebutkan :

“Om lukat sira sang bhuta dengen masurupan sang kalika, lukat sang kalika masurupan ring bhatari durga, lukat bhatari durga masurupan ring bhatari uma, lukat bhatari uma masurupan ring bhatara guru, lukat bhatara guru masurupan ring sang hyang tunggal, lukat sang hyang tunggal masurupan ring sang hyang sangkaning paran, apan sang hyang sangkaning paran rat kabeh siddha mawali paripurna. Om siddhir astu tat astu ya namah swaha”

Dikatakan tawur agung kesanga karena dilaksanakan serentak di seluruh daerah dan juga pada tilem kesanga/tilem caitra adalah tilem yang paling gelap sehingga merupakan hari yang paling baik untuk melaksanakan bhuta yadnya.

Bagaimana pelaksanaan Upacara Tawur Agung Kesanga?

Untuk pelaksanaan upacara tawur agung kesanga di tingkat rumah dibagi menjadi tiga bagian sebagai haturan kepada Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buchari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari. Berikut penjelasannya :

  • Di halaman Merajan Kamulan dihaturkan segehan agung cacahan 11 tanding atau yang lebih sederhana satu segehan berwarna 5 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara, tengah warna brumbun) tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari, mantramnya : “Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni soang-soang”
  • Di pekarangan rumah dihaturkan segehan manca warna 9 tanding berisikan daging ayam brumbun (ayam dengan bulu warna-warni), atau yang lebih sederhana 1 segehan berwarna 4 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara), tetabuhan arak & brem, toya anyar ditujukan kepada Sang Kala Bhucari, mantramnya : “Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”
  • Di lebuh rumah atau pamedal karang dipasang sanggah cucuk di sebelah kanan. Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada sanggah cucuk tersebut digantungkan juga sujang (batang bambu kecil 2 biji masing-masing diisi arak & brem) Haturan di sanggah cucuk tersebut ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.
  • Di sor (bawah) sanggah cucuk diletakkan segehan manca warna 9 tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja. Selain itu juga dihaturkan segehan cacah 108 (satus kutus) berisi jeroan mentah, segehan agung 1 tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala. Atau lebih sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa sanga. Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan pengikut dari Bhatari Durgha. Mantramnya : “Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”

Dalam melaksanakan tawur di atas, hendaknya nunas tirtha caru dan tirtha kahyangan tiga di masing-masing desa pakraman. Selain itu juga pelaksanaan tawur agung kesanga di tingkat rumah tangga, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi desa pekraman/lingkungan sekitar.

Pesan terakhir, maknailah setiap upacara yang kita lakukan karena dengan begitu setiap yadnya demi yadnya kita lakukan akan mengubah tata cara kita berpikir, perkataan, dan perbuatan kita mengarah ke arah yang lebih baik. Disebutkan dalam Manava Dharma Sastra III.97

Nacyanti nawyah kawyani naranama wijanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhih

Arti Bebas : Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu.

Om loka samstha sukinoh bhavantu
Om shanti shanti shanti om

Sumber : Pinandita Pasek Ketut Adi Wibardi

Artikel lainnya:

  1. Hari Raya Nyepi
  2. Upacara Melasti
  3. Banten Hari Raya Nyepi