Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Info

Memahami Yoga


Kita tentu tidak asing dengan istilah Yoga, walaupun banyak kalangan non Hindu yang mengeluarkan fatwa larangan melakukan Yoga tapi banyak masyarakat yang menggunakan Yoga sebagai olah kesehatan. banyak yang tidak paham mengenai Yoga terlebih orang-orang dengan pemikiran yang dangkal. Berikut adalah artikel mengenai Yoga. Anda melakukan Yoga atau tidak, sama sekali tidak mengurangi Makna dan Fungsi Yoga sebenarnya.

Image by: bloom yoga

Image by: bloom yoga

Berasal dari akar kata yuj, mengikat bersama, yoga berarti mengikat kekuatan psikik (mental) seseorang, menyeimbangkan dan menguatkannya. Yoga dipakai di dalam demikian banyak pengertian, akan tetapi maknanya berarti baik jalan maupun tujuan yang hendak dicapai, sama seperti kata dhamma di dalam Buddhisme (bahasa Palawa untuk dharma).

Dengan mengumpulkan bersama serta memanfaatkan kekuatan kita melalui pemusatan yang intense dan kepribadian, kita memaksakan jalur ego yang sempit kepada kepribadian yang transenden. Jiwa membebaskan dirinya dan belenggu raga jasmani dan mencapai keberadaannya yang paling dalam.

Persatuan dalam kemanusiaan. Yoga-yoga yang berbeda adalah penerapan khusus dan disiplin yang cii alam yang menuju ke arah pembebasan jiwa dan pemahaman baru mengenai persatuan dan arti kemanusiaan. Semua hal yang berhubungan dengan disiplin ini disebut yoga dan kesempurnaan pada tingkat manusia adalah kewajiban yang mesti dicapai melalui usaha yang sadar.

Demikian luasnya hal yang dicakup di dalam agama Hindu dan hal yang paling mencengangkan adalah adanya kesamaandan konsistensi antara yang dikatakan oleh salah satu disiplin yoga dibandingkan dengan yang lainnya. Dan sungguh tepat pengandaian tentang pendakian gunung dari berbagai arah di mana ketika sampai di puncak kita akan menikmati pemandangan yang sama.

Apa yang diceriterakan di dalam Bhagavad Gita adalah yogasastra, Sebuah tuntunan bagaimana seharusnya manusia di marcapada ini berbuat dan bertindak sehingga tetap agamis dan menuju ke arah pembebasan (moksa, mukti); pemahaman ini memastikan bahwasanya kehidupan rohani dengan kehidupan di dunia nyata ini tidaklah bertentangan, malah kehidupan duniawi ini seharusnyalah memperoleh tuntunan dari hal-hal yang bersifat rohani. Kalau pemahaman seperti ini diyakini oleh para pemimpin agama non- Hindu/Buddha maka tentu saja mereka akan mengatakan bahwa yoga tidaklah bertentangan dengan kaedah agama yang mereka anut. Lantas dari mana datangnya penyebab pelarangan praktek yoga di Malaysia dan oleh MUI di negara kita?

Matahari dan Bulan. Hal ini berkaitan erat dengan hatha yoga dan yoga asana yang populer dan bahkan banyak diminati terutama oleh para intelektual dan pelaku business. Di sini terjadi pula semacam kesalah-pahaman mengenai penerapan mantra atau doa di dalam aplikasinya. Hatha yoga berasal dari suku kata ha dan tha yang berarti matahari dan bulan, prana dan apana. Di dalam Tantra dikatakan bahwa prana (yang bersemayam pada jantung) menarik apana (yang berada pada muladara-cakra, cakra paling bawah) dan sebaliknya apana menarik prana, bagaikan burung elang yang terikat pada tali akan kembali ketika dia mau terbang menjauh.

Keduanya melalui ketidak-cocokan di antara mereka, mencegah salah satunya untuk meninggalkan raga jasmani kita, sebab ketika keduanya setuju untuk pergi, berarti kita sebagai pemilik raga akan mati. Persatuan di antara keduanya di dalam sumsumna dan proses ke arah itu disebut pranayama, dan ketika hal itu terjadi, samadhi (meditasi) sesungguhnya dicapai. Karena itulah sebenarnya hatha-yoga adalah pengetahuan tentang azas hidup dan memakai ungkapan ini untuk menjelaskan mengenai berbagai bentuk prana.

Prana (azas hidup) di dalam raga perseorangan adalah bagian dari nafas semesta. Karena itulah diupayakan untuk menyeimbangkan azas hidup perseorangan, pinda atau vyasti-pinda dengan azas-hidup atau fas-kosmis, brahmanda atau samastiprana. Hasilnya adalah jiwa raga yang kuat dan sehat. Harmonisasi dan nafas membantu harmonisasi dan pikiran dan karena itu memudahkan pemusatannya.

Hatha-yoga sebagian besar adalah olah jasmani (asana) dan di dalam disiplin ini (seperti juga didalam Tantra) diyakini bahwasanya melalui hal yang bersifat fisik kita sesungguhnya bisa mengatur dan mengubah hal-hal yang bersifat halus yang di dalam. Praktek dan latihan yang berhubungan dengan hatha-yoga memiliki 7 bagian atau manfaat: pembersihan (sodhana), kekuatan atau keteguhan (drdhata), keteguhan hati (sthirata), kemantapan fikiran (dhairya), tubuh menjadi ringan melalui pranayama (laghava), realisasi (pratyaksa) melalui meditasi (dhyana) dan tiadanya keterikatan (nirliptatva).

Tujuan akhir Persatuan Atman dengan Tuhan Akan tetapi walaupun olah-jasmani, tahap akhir dan hatha-yoga adalah tetap samadhi (dhyana) yaitu persatuan daripada atman dengan paramatman, jiwa kita ini dengan Yang Maha Kuasa dan hal ini dengan jelas dikatakan oleh para rsi yang sudah pernah mengalami-Nya (anubhava); sama dengan pembebasan (mukti, moksa) seperti yang dijelaskan di atas. Seperti dikatakan bahwa tujuan dan Rg.Veda adalah menjadikan manusia seperti Dewata (Hyang Widhi) melalui perbuatannya (devo bhutva devan apyeti) atau ungkapan, ‘Wahai Indra, ijinkanlah aku menjadi Anda,’ atau ucapan Vamadewa ketika merasakan dirinya bersatu dengan semua makhluk, ‘aku adalah Manu, aku adalah Surya,’ serta tentu saja ungkapan termashur ‘aku adalah brahman.’

Hal-hal seperti ini tentu sajalah tidak sesuai dengan ajaran umum Islam sehingga orang-orang seperti Al Hallajj (dan Syech Siti Jenar, red) harus dihukum bunuh. Belum lagi di dalam latihan yang benar sebagai seorang sisya, penghormatan kepada Siva (yang menurunkan hatha-yoga ini) serta kepada guru tentu saja nyata-nyata tidak sesuai dengan ajaran non-Hindu! Buddha.

Hal ini harus jelas jelas dikatakan sebab kita seharusnya tidak ingin seseorang menjadi seperti kita melalui pembohongan atau penipuan. Sangat penting.untuk menjelaskan apa adanya, boleh diterima atau boleh tidak, sebab sepanjang sejarah Hindu yang paling utama adalah pencarian kebenaran dan bukan bertahan didalam kepercayaan.

Ke-populer-an yoga (terutama hatha -yoga) sekarang di seluruh dunia (bahkan di negara-negara yang mayoritasnya Islam seperti Indonesia dan Malaysia) tentu saja tidak mengakar secara mendalam seperti pemahaman yang kita ceriterakan di atas; walaupun dia bukanlah sekedar fad (mode) yang datang dan kemudian menghilang.

Tidak sedikit orang di seluruh dunia yang merasakan manfaat (kesehatan)-nya. Yang agak menonjol adalah tidak sedikit dari apa yang kita jumpai sekarang adalah bentuk hatha-yoga atau asana bahkan samadhi yang sudah mengalami semacam modifikasi, ‘diformat ulang’ (di Barat) sehingga menjadi sesuatu yang menarik dan bisa menghasilkan uang (yang banyak).

Di tempat-tempat seperti ini memang ada kalanya hal-hal yang ‘berbau’ Hindu dihilangkan akan tetapi tidak jarang orang-orang yang non-Hindu menyukai berbagai kebiasaan yang di dalam keadaan normal tentu bisa disebut musyrik. Misalnya saja (yang kadang-kadang menggelikan) . adalah ketika sang guru (trainer) memulai latihannya dengan menyiratkan air suci (tirta) sambil mengatakan, holy water, holy water.

Secara keseluruhan kecenderungan mode seperti ini sesungguhnya bisa dianggap hanya sekedar seperti latihan olahraga biasa, semacam aerobik ala India yang (memang) semata-mata untuk kepentingan kesehatan dan kita harapkan bahwasanya para ulama di dalam MUI bisa menerimanya.

Rangkaian manfaat hatha-yoga adalah sisi lain dan astanga-nya (delapan tangga atau tahap) Patanjali, yang memberikan urutan duduk yang benar, bernafas yang benar, menempatkan fikiran yang benar dst.

Hatha -yoga juga tidak menyebutkan mengenai tenaga positif/negative. Jadi tidak sama dengan Taichi di mana di dalam satu jurus kedua unsur itu ada. Perlu juga ditegaskan bahwa di dalam sistimatikanya Patanjali yang paling penting di antara nyama adalah ahimsa, sedang di antarayama adalah mitahara (makan tidak berlebihan). Hal ini menyangkut pola makan yang sedapat mungkmn harus selamanya satvika.

Jadi tidak benar seperti iklan di TV di mana seorang ‘pakar yoga’ mengatakan bahwa latihan yoga bersama dengan minum teh-celup (merek tertentu) adalah bagus. Teh memberi rangsangan dan karena itu sudah pasti bersifat tamasika di samping teh-celup adalah abu/debu teh (tea-dust), Sedang yang bermanfaat untuk pengobatan adalah daun teh (tea-leaves). Pemahaman prana di dalam yoga dengan di dalam Reiki juga tidak sama, sebab di dalam yoga tidak dijelaskan mengenai prana yang bisa dipindahkan (di transfer). Di dalam yoga, prana adalah azas-hidup dan kalau ada orang yang bisa memanipulirnya niscaya orang yang demikian tidak akan bisa mati!

Pranayama: bernafas yang benar. Olah jasmani apa saja yang dilakukan di dalam hatha-yoga? Dalam arti harfiahnya, yang dimaksud dengan asana adalah bagaimana atau dengan cara seperti apa kita menempatkan tubuh! raga kita? Apa tempat berpijaknya? Ada 8,400,000 jenis asana akan tetapi yang terpenting jumlahnya 33. Asana dengan pranayama berhubungan sangat erat. Kalau kita melakukan asana dengan benar maka kita dengan sendirinya akan bernafas pranayama.

Yang terakhir ini adalah pernafasan perut (1) di mana kita menarik dan mengeluarkan nafas melalui kedua lubang hidung (2); di sini kita kembali kepada azas ha (matahari) dan tha (bulan) di mana dipastikan bahwa di dalam keadaan normal, kita bernafas secara bergantian dan salah satu lubang hidung (alternate breathing) masing-masing selama 45 menit; (lama) waktu ini adalah jam (muhurta) di dalam Hindu. (Pernafasan melalui) lubang hidung kanan adalah matahari sedang dari lubang kiri adalah bulan, keduanya memiliki pengaruh dominan atas keseluruhan kehidupan.

Kalau anda ingin menjadi seorang sadhaka dan ingin mempelajari hatha-yoga secara sempurna maka diperlukan seorang guru yang kompeten. Di dalam proses pembelajaran ini semuanya harus diurut. Tidak mungkin pembelajaran anda maju apabila tidak melalui tahapan yama, nyama seperti yang dijelaskan oleh maharsi Patanjali dan para guru lainnya.

Terima kasih kepada:

  • Media Hindu

Artikel Terkait:

  1. Memulai Yoga
  2. Mengenal Kundalini

Tentang Saput Poleng


Saput Poleng identik dengan Bali, lembaran kain kotak-kotak hitam-putih ini biasanya dipakai oleh pecalang(keamanan adat)di Bali. Saput Poleng juga sering digunakan saput(baca: Selimut) untuk pelinggih, padmasana atau pohon besar. Selain itu saput poleng juga sering digunakan oleh penari kecak, drama gong dan tokoh-dalam pewayangan. Dewasa ini beberapa restoran dan hotel bahkan menggunakan kain poleng untuk menghiasi interior bangunannya dari sebagai alas meja sampai wallpaper pada bagian tertentu bangunannya.

Saput poleng berupa selembar kain bercorak kotak-kotak dengan warna putih dan hitam seperti papan catur. Menurut tradisi di Bali ada tiga jenis Saput Poleng yaitu saput poleng Rwa Bhineda, Sudhamala dan Tri Datu. Saput Poleng Rwabhineda berwarna putih dan hitam. Warna terang dan gelap sebagai cermin baik dan buruk. Saput Poleng Sudhamala berwarna putih, hitam dan abu-abu. Warna Abu-Abu sebagai peralihan hitam dan putih, atau perpaduan keduanya(Hitam-Putih). Artinya menyelaraskan yang baik dan buruk. Saput Poleng Tridatu berwarna putih, hitam dan merah. Merah simbol rajas (keenergikan), hitam adalah tamas (kemalasan), dan putih simbol satwam (kebijaksanaan, kebaikan).

Saput Poleng sebagai simból masyarakat Hindu di Bali digunakan oleh para pecalang (perangkat keamanan), patung penjaga pintu gerbang, dililitkan pada kulkul/kentongan, dikenakan oleh balian/pengobat tradisional, dihiaskan pada tokoh-tokoh itihasa (Merdah, Tualen, Hanoman, dan Bima), dikenakan oleh dalang wayang kulit ketika melaksanakan pangruwatan/penyucian, dililitkan pada pohon-pohon tertentu, atau dililitkan pada tempat suci yang diyakini berfungsi sebagai penjaga. Pada intinya Saput Poleng digunakan sebagai simbol penjagaan.

Bentuk saput poleng beraneka ragam. Misalnya dari segi warna, ukurannya, hiasannya, hiasan tepinya, bahan kainnya, dan ukuran kotak-kotaknya.
Kain Poleng / Saput Poleng sudah digunakan sejak dahulu. Diperkirakan, kain poleng yang pertama ada dan digunakan umat Hindu adalah kain poleng rwa bhineda. Setelah itu barulah muncul kain poleng sudhamala dan tri datu. Berdasarkan perkiraan, perkembangan warna ini juga mencerminkan tingkat pemikiran manusia, yakni dari tingkat sederhana menuju perkembangan yang lebih sempurna.

Jika dikaitkan dengan Dewa Tri Murti, warna merah melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta, warna hitam lambang Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan warna putih melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur. Dewa Tri Murti ini terkait dengan kehidupan lahir, hidup dan mati.

Kain Poleng dalam budaya Bali merupakan pencetusan ekspresi penghayatan konsep Rwa Bhineda, suatu konsep keseimbangan antara baik dan buruk, yang menjadi intisari ajaran tantrik (tantrayana).
Dengan menjaga kesimbangan antara kebaikan dan keburukan dapat menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Diolah: Dari berbagai sumber

Mengadopsi Anak Dalam Perspektif Adat Bali


Banyak terjadi kasus bayi yang baru lahir dibuang oleh orang tuanya atau anak-anak menjadi korban tindak kekerasan dalam keluarga. Disisi lain banyak pasangan yang telah menikah cukup lama namun belum memiliki anak. Keluarga akan terlihat sempurna manakala hadirnya seorang anak dalam keluarga tersebut. Beberapa kasus poligami diakibatkan oleh tidak adanya anak dalam keluarga. Keluarga yang tidak mempunyai anak menurut disebut Aputra, Niputrika dan Nirsamtana namun yang mereka tidak mempunyai anak dari rahim sendiri tidak berarti tertutup jalan untuk mencapa kebahagiaan yang sejati. Ketidakhadiran seorang anak hendaknya disikapi dengan bijaksana salah satu pilihan sebagai solusi adalah dengan Mengangkat anak atau mengadopsi dari kerabat terdekat, anak angkat dalam bahasa sanskerta disebut dengan krtakaputra, datrimasuta atau putra dattaka.

Ilustrasi : Image by: Anonymous

Hal yang perlu dipahami dan diyakini adalah bahwa apapun statusnya anak kandung maupun anak angkat sesunguhnya memiliki kedududkan yang sama dalam segala hal. Hal ini tercemin dalam kekawin nitisastra bahwa yang bisa disebut anak adalah anak kandung (lahir dari hasil perkawinan), anak yang lahir dari pendididkan kesucian, anak yang ditolong jiwanya saat menemui jiwanya, anak yang dipelihara, diberi makan selama hidup. Dengan mengacu pada kekawin nitisastra tersebut maka dapat ditafsirkan sebagai anak angkat adalah anak yang seorang bapak diberi makan selama hidupnya dengan tiada mengharapkan balasan apa-apa.

Masyarakat Bali mengenal beberapa istilah dalam pengangkatan anak antara lain: Ngidih pianak, Nyentanayang, Ngedeng/Ngengge pianak dan Memeras anak. Sedangkan anak yang diangkat disebut sentana, anak ban ngidih, anak sumendi, anak pupon-pupon dan sentana peperasan.

Menurut Hukum Adat Bali proses pengangkatan anak sebagai berikut:

  1. Dimulai dari musyawarah keluarga kecil (pasutri yang akan mengangkat anak). Kemudian diajukan dengan rembug keluarga yang lebih luas meliputi saudara kandung yang lainya.setelah ada kesepakatan matang, lalu mengadakan pendekatan dengan orang tua atau keluarga yang anaknya yang mau diangkat.
  2. Setelah semua jalan lancar dilanjutkan dengan pengumuman(pasobyahan) dalam rapat desa atau banjar. Tujuanya, untuk memastikan tidak ada anggota keluarga lainnya dan warga desa atau banjar yang keberatan atas pengangkatan anak yang dimaksud. Oleh karena itu, anak angkat harus diusahakan dari lingkungan keluarga yang terdekat, garis purusa, yang merupakan pasidi karya. Ada tiga golongan pasidikarya yaitu pasidikarya waris (mempunyai hubungan saling waris), pasidikarya sumbah ( pempunyai hubungan salaing menyembah leleuhur), dan pasidikarya idih pakidih ( mempunyai hubungan perkawinan).
  3. Apabila tidak ada garis dari garis purusa, maka dapat dicari dari keluarga menurut garis pradana (garis ibu). Apa bila tidak ditemuakn pula maka dapat diusahakan dari keluarga lain dalam satu soroh dan terakhir sama sekali tidak ada pengangkatan anak dapat dilakukan walaupun tidak ada hubungan keluarga (sekama-kama).
  4. Anak yang diangkat wajib beragama Hindu. Jika yang diangkat seseorng yang bukan umat Hindu, pengangkatan anak itu akan ditolak warga desa karena tujuan pengangkatan anak antara laian untuk meneruskan warisan baik dalam bentuk kewajiaban maupun hak, termasuk berbagai kewajiaban desa adat, terutama dalam hubungan dengan tempat suci (pura).
  5. Melakukan upacara pemerasan yang disaksikan keluarga dan perangkat pemimpin desa atau banjar adat. Pengangkatan anak baru dipandang sah sesudah dilakukan upacara pemerasan. Itulah sebabnya anak angkat itu disebut pula dengan istilah sentana paperasan.
  6. Selain melakukan upacara pemerasan proses berikutnya adalah pembuatan surat sentana. Walaupun hal ini tidak merupakan syarat bagi sahnya pengangkatan anak, tetapi hal ini penting dilakukan sebagai alat bukti bahwa telah terjadi pengangkatan anak. Menurut hukum positif pengangkatan anak dilakukan dengan penetapan hakim. Dengan demikian sesudah upacara pemerasan, patut dilanjutkan dengan mengajukan pemohonan penetapan pengangkatan anak kepada Pengadilan Negeri dalam daerah hukum tempat pengangkatan anak itu dilaksanakan.

Menurut Dyatmikawati jika pasangan suami istri adalah orang Bali yang beragama Hindu, maka proses pengangkatan anak patut mengikuti ketentuan hukum adat Bali, awig-awig yang berlaku didesanya dan juga harus mengikuti tata cara pengangkatan anak sebagaimana ditentukan berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dengan adanya proses pengangkatan anak yang sesuai dengan hukum yang berlaku (baik hukum adat maupun hukum nasional), maka anak itu akan memiliki kedudukan hukum persis seperti anak kandung.
Dalam hukum Hindu sudah ditegaskan bahwa kedudukan anak angkat tidak berbeda dengan anak kandung. Hal ini dapat dilihat dalam Manawadharmasastra IX.141 sebagai berikut:
Jika anak laki yang mempunyai anak angkat laki-laki yang mempunyai sifat-sifat mulia yang sama akan mewarisi walaupun lahir dari keluarga yang lain.

Kemudian dalam Manawadharmasastra IX.142 menyatakan: Keluarga dan harta warisan dari orang tua yang sebenarnya. Tarpana (upacara persenmbahan kepada kepada orang tua yang meningal), ia arus mengikuti nama keluarga (yang mengangkat) serta menerima warisan dari orang tua angkat (setelah tarpana kepadanya).

Tujuan Mengangkat Anak Menurut Hindu

Sebagaimana disebutkan, bahwa salah satu tujuan perkawinan dilingkungan umat Hindu di Bali adalah untuk mendapat keturunan dengan maksud untuk meneruskan warisan orang tua atau keluarganya. Dalam Hukum adat Bali yang dijiwai oleh ajaran Hindu adalah sebagai kewajiban (swadharma) dan hak, baik dengan hubungan dengan parahyangan, pawongan maupun palemahan.
Tujuan pengangkatan anak sebagai berikut:

  • Meneruskan warisan, Menurut ajaran agama Hindu yang tercemin dalam hukum adat Bali bahwa yang dimaksud dengan warisan adalah segala kewajiaban(swadharma) dan hak, baik dalam hubungannya dengan parahyanagan, pawongan maupun palemahan. Dengan demikian, anak angkat tidak saja berhak mewarisi harta benda orang tua angkatnya, tetapi juga memiliki kewajiban seorang anak yang sama dengan anak kandung. Kewajiaban itu misalnya memelihara merajan dan tempat suci lainya warisan aornag tua angkatnya termasuk melakuakan persembahan roh leluhur orang tua angkatnya (parahyangan), mensuciakn orang tua angkatanya atau roh leluhurnya (upacara ngaben), melaksanakan kewajiban dengan anggota keluarga yang lain dan dalam kaitanya dengan sesoroh, banjar (pawongan) dan memelihara rumah, lingkungan milik orang tua mengangkatnya (palemahan).
  • Menyelamatkan roh leluhur, Dengan adanya anak angkat maka sebuah keluarga tidak mengalami puntung atau putus. Dalam kepercayaan Hindu, keturunan yang berlanjut ini dapat menyelamatkan roh leluhur. Dalam adi parwa menyebutkan tentang pentingnya keturunan untuk menyelamatkan roh leluhur. Dalam Adiparwa disebutkan tentang pentingnya keturunan untuk menyelamatkan roh leluhur. Betapa pentingnya kehadiran seorang anak dalam keluarga sebagai penurus keturunan dan dapat menyelamatkan roh leluhur dari neraka. Dalam Manawadharmasastra IX.138 menyebutkan karena anak laki-laki akan mengantarkan pitara dari neraka yang disebut put, karena itu ia di sebut putra dengan kelahirannya sendiri. Sedangkan dalam Adiparwa, 74,38 disebutkanseseorng dapat menundukan dunia dengan lahirnya anak ia memeper oleh kesenagan yang abadi, memperoleh cucu-cucu dan kakek-kekek akan memeperoleh kebahagiaan yang abadi dengan kelahiran cucu-cucunya.
  • Pengingkat tali kasih keluarga, kelahiran seorang anak/anak angkat dalam keluarga dapat sebagai pengingkat tali kasih dalam keluarga hal ini diungkapakan dalam sastra hindu, yakni dalam Adiparwa yang di sebutkan seorang anak merupakan pengikat tali kasih yang sangat kuat dalam keluarga, ia merupakan pusat penyatunya cinta kasih orangtuanya. Dalam ajaran agama Hindu dapat dikatakan kehadiran seorang anak/anak angkat sebagai penjalin cinta kasih dalam keluarga. Penomena yang ada betapa pun kemelut yang terjadi antara orang tua dan anak akan selalu damai dalam pelukan orang tua, anak juga akan menjadi pelekat diantara kemelut orang tua. Anak juga dapat menciptakan kedamaian dalam keluarga disamping orang suci dan seorang istri.

Dengan melihat begitu pentingnya peranan anak dalam keluarga yang perlu disimak selagi seorang anak adalah menyucikan dan mengagungkan tugas-tugas dan fungsi-fungsi yang melekat pada anak sesuai dengan sastra-sastra Hindu dengan berlaku sebagai anak yang suputra.

Artikel diolah dari berbagai sumber.