Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: June 2012

Hukum Karma dalam Kehidupan


Apan pran eti svadhaya grbhito
Amartyo martyena sayonih
[Rig Veda I.164.38]

-Jiwa yang memiliki tubuh yang sementara, mengambil bentuk eksistensi lain mahluk seperti ini atau seperti itu [terlahir kembali] menurut perbuatannya [sesuai dengan karmanya] sendiri.

Milyaran tahun di dalam mengarungi roda samsara [siklus kelahiran-kematian-kelahiran] ini, ada empat hal yang harus kita ketahui :

  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, kita membutuhkan tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia dan berjodoh dengan ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, lalu mengalami pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.

Kita harus menyadari bahwa kelahiran kita sebagai manusia adalah sebuah berkah, yang kita ciptakan sendiri sebabnya dengan hidup secara baik dengan timbunan tabungan karma baik yang banyak pada kehidupan-kehidupan kita sebelumnya. Sebaliknya, kelahiran kita yang akan datang juga akan ditentukan oleh segala apa yang kita lakukan saat ini juga.

Seseorang yang dalam kehidupannya penuh dengan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup. Sebaliknya seseorang yang dalam kehidupanya penuh dengan karma buruk, suka mementingkan diri sendiri, suka merugikan orang lain, suka menyakiti, suka mengganggu, dll, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam gelap [Bhur Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya banyak merasakan kesengsaraan dan ketidakberuntungan. Sederhananya, kita bisa membayangkan sendiri seperti apa kehidupan kita yang akan datang hanya dengan melihat sikap dan tindakan kita pada saat ini.

Adhursata svayam ete vacobhir
Rjuyate vrjinani bruvantah
[Rig Veda V.12.5]

-Orang-orang yang tidak berjalan lurus [melaksanakan dharma], akan mengalami kehancuran semata karena perbuatan-perbuatan [karma buruk] mereka sendiri.

Di alam semesta ini berlaku hukum karma, ada akibat karena ada sebab. Tapi sebagian orang, walaupun sudah tahu akan adanya hukum karma, tapi dia tetap merasa heran, marah dan protes ketika berbagai masalah, kesulitan dan kesengsaraan datang dalam hidupnya. Hanya orang yang sadar dan memahami dalam-dalam tentang hukum semesta ini [hukum karma] akan menerima setiap kejadian buruk dengan bathin damai [karena dia sadar sedang membayar hutang karma], serta secara bersamaan berupaya “memotong” sebab yang akan menghasilkan akibat buruk.

  • Disinilah pentingnya terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, karena karma baik akan membantu meringankan karma buruk kita.
  • Disinilah pentingnya terus-menerus berupaya melenyapkan kebiasaan-kebiasaan yang menghasilkan karma buruk dan terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan [yang akan menghasilkan karma baik].

Sesungguhnya kebiasaan-kebiasaan ini akan berlanjut antar kehidupan. Bila pada kehidupan sebelumnya kita adalah orang yang bersifat penuh kebaikan, sabar dan penyayang, maka kecenderungan tersebut akan muncul dan berlanjut kembali pada kehidupan kita yang sekarang. Bila sifat-sifat dharma tersebut terus-menerus diperkuat dan dikembangkan pada kehidupan saat ini, hal itu akan semakin kuat dan menonjol pada kehidupan kita selanjutnya. Sebaliknya bila dalam kehidupan sekarang kita lalai untuk mengembangkan sifat-sifat dharma tersebut, sifat mulia tersebut akan berangsur melemah dan salah-salah akan pudar dalam kehidupan mendatang. Hal ini akan membuka kemungkinan bangkitnya kegelapan bathin dalam diri kita, menghasilkan karma-karma buruk, yang sekaligus akan mengakibatkan pengalaman-pengalaman hidup yang menyengsarakan dan jauh dari jalan kesadaran.

Berdasarkan hal inilah kemudian para Maharsi mengintisarikan bahwa ada dua hal PALING PENTING yang harus terus-menerus kita laksanakan dalam kelahiran sebagai manusia, yaitu :

TUGAS PERTAMA KITA : SETIAP ADA KESEMPATAN TERUS BERUPAYA MELAKUKAN KEBAIKAN, KEBAIKAN DAN KEBAIKAN.

Di dalam berbagai teks-teks Hindu, dijelaskan secara eksplisit tentang pentingnya banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Di bawah ini adalah beberapa contoh kutipan-kutipan tersebut dalam bentuk ringkasan :

-Atharva Veda-
Tapas caiva-astam karma ca
Antar mahati-arna ve
[Atharva Veda XI.8.2]

-Tapa [pengendalian pikiran dan indryia-indriya] dan keteguhan melaksanakan karma baik [terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan] adalah satu-satunya sumber keselamatan di dunia yang mengerikan ini.

Atharva Veda menjelaskan bahwa dalam eksistensi kita sebagai mahluk, sumber keselamatan kita sangat terbatas dan itupun sepenuhnya tergantung kepada diri kita sendiri. Sangat penting dalam hidup ini untuk terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan. Dijelaskan sebagai berikut :

  1. Dengan banyak-banyak melakukan kebaikan, kita belum tentu tahu bagaimana perasaan orang tersebut, tapi satu hal yang pasti adalah bathin kita akan banyak mengalami pembersihan-pembersihan. Bathin kita dibimbing rapi menuju ketenangan, bebas dari rasa iri hati, tidak mudah marah, tidak mudah terganggu oleh orang lain, tidak mendendam, dll. Dan yang pertama kali mengalami kedamaian bathin itu adalah diri kita sendiri. Lalu kita juga menjadi sumber kedamaian dan harmoni bagi lingkungan kita.
  2. Kita bisa mengamati sendiri melalui fakta sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dalam kehidupan keseharian kita selalu baik hati, penyayang, suka menolong, suka menyenangkan hati orang, dll, orang-orang akan cenderung menyukai kita, musuh kita sedikit dan kita terhindar dari konflik-konflik berbahaya. Tentu saja kemudian akibatnya adalah pengalaman-pengalaman hidup kita akan lebih membahagiakan.
  3. Karma baik akan membantu meringankan beban karma buruk kita.
  4. Dengan banyak karma baik, dewa penolong kita akan “turun”. Tanpa kita ketahui, kita akan dijaga dan dibantu oleh kekuatan-kekuatan suci dari alam-alam luhur yang tidak terlihat tersebut.
  5. Dalam roda samsara, seseorang yang dalam kehidupannya banyak karma baik [banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan], ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup.

-Brhadaranyaka Upanishad-

Brhadaranyaka Upanishad menjelaskan bahwa ada tiga hal terpenting dalam kehidupan yang harus kita laksanakan setiap saat, yaitu : DAYADHVAM – bathin yang penuh sifat welas asih, DATTA – banyak-banyak melakukan kebaikan dan DAMYATA – menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran. Kegelapan bathin berupa emosi negatif dan destruktif [penuh kemarahan, penuh kebencian, iri hati, dendam], akan lenyap dengan tekun mempraktekkan sikap bathin yang penuh welas asih [dayadhvam]. Tidak kejam, tidak membenci, tidak marah, sangat memaafkan, tidak iri hati dan berhati lembut.

Kegelapan bathin berupa keserakahan [lobha] akan membangkitkan kebencian, keterikatan akan membangkitkan kegelisahan bathin [moha], dll. Tapi semua itu akan lenyap dengan tekun mempraktekkan sikap dan perilaku keseharian yang penuh kebaikan [datta]. Belajar dan berlatih untuk melepaskan ke-aku-an [ahamkara], baik berupa rasa ke-aku-an [kepemilikan] benda-benda duniawi, hal-hal duniawi, maupun rasa ke-aku-an yang muncul dalam pikiran dan perasaan kita.

Mudah sekali bersikap damai dan penuh welas asih, disaat kita dipuji-puji, dikagumi, tidak kekurangan uang, makan enak dan badan sehat. Tapi yang bisa TETAP bisa bersikap damai dan penuh welas asih disaat dirinya dihina, dicaci-maki, disakiti, tidak punya uang, kelaparan dan sedang sakit, itu tidak lain pertanda bathin yang mulai bersinar terang benderang, semakin dekat dan semakin dekat dengan pembebasan.

-Yoga Sutra dan Rig Veda-

“Ashtanga Yoga” atau delapan ruas yoga dalam teks Yoga Sutra [Maharsi Patanjali] menjelaskan bahwa, pondasi dasar yang terpenting dari jalan yoga adalah Yama dan Niyama [10 disiplin dasar seorang yogi]. Sehingga disiplin yoga ini diletakkan pada urutan pertama dan kedua dari delapan ruas yoga. Dua diantara Yama adalah Aparigraha dan Ahimsa.

Aparigraha berasal dari kata “parigraha” yang berarti : rasa kepemilikan atau memiliki sendiri sesuatu hal atau benda dan “a” yang berarti : tidak. Aparigraha berarti “tidak ada rasa kepemilikan”, yang bermakna kita harus selalu memberi [atau selalu berbagi] kepada mahluk lain. Dengan kata lain banyak-banyak melakukan kebaikan.

Ahimsa berarti “tidak menyakiti”.

Dalam bagian lain Yoga Sutra disebutkan :

Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran dapat dimurnikan dengan keramahan dan kehangatan kepada mereka yang sedang bahagia, welas asih dan kebaikan kepada mereka yang sedang sengsara, mendukung dan membantu orang-orang yang baik hati, serta tidak menghakimi dan menilai [bersikap netral] kepada orang-orang yang kita rasa jahat atau salah.
[Yoga Sutra 1.33]

Dalam Rig Veda juga disebutkan :
Rtasya nah patha naya
Ati visvani durita
[Rig Veda I.33.6]

-Semoga engkau menuntun kami ke jalan kebajikan [hidup yang penuh dengan kebaikan-kebaikan], sehingga kami bisa meniadakan semua kekalutan [kegelapan] bathin.

Disiplin perilaku keseharian yang demikian [banyak-banyak melakukan kebaikan dan tidak menyakiti], merupakan pondasi dasar penting dari semua jalan yoga. Karena perilaku demikian akan membangunkan kehalusan jiwa. Sehingga dampaknya adalah, ketika kita sembahyang [bhakti yoga] bathin kita dapat terhubung dengan vibrasi kemahasucian dari alam-alam luhur, ketika kita meditasi [raja yoga] kita menjadi mudah merealisasi samadhi, ketika kita mempelajari dharma [jnana yoga] kita akan lebih mudah paham dan mengerti, ketika kita melaksanakan kerja [karma yoga] kita akan berbahagia melaksanakan svadharma kita. Itulah sebabnya disebut pondasi dasar yang menentukan keberhasilan yoga.

-Apakah yang dimaksud dengan kebaikan ?-
Pengertian dari melakukan kebaikan itu adalah membantu orang lain atau dalam bentuk lain membuat orang lain merasa lebih bahagia atau senang. Wajah kebaikan sangat banyak dan beragam. Bisa berupa pemberian material berupa uang, barang, pakaian, makanan, dll dan [yang cakupannya lebih luas] adalah berupa pemberian non-material seperti menghibur orang yang sedang kesusahan hati, membantu menyapu, memberikan kesempatan lebih dahulu dalam antrean, memberikan kesempatan orang lain menyeberang jalan, meminggirkan kendaraan saat ada ambulans lewat, atau tersenyum ramah kepada orang lain, itu juga suatu bentuk kebaikan.

Atau misalnya kita melihat ada sampah tidak dibuang di tong sampah, kita bantu masukkan ke tong sampah, ada keran yang airnya sudah penuh dan melimpah, kita bantu matikan. Kelihatannya sepele dan mungkin jarang kita perhatikan, tapi ini sebenarnya sangat penting, karena itu memupuk karma baik dan sekaligus bagian dari mendidik diri untuk penuh dengan kebaikan.

Selalulah ingat, setiap kali ada yang memerlukan bantuan kita atau mungkin kita bisa membuat mereka sedikit lebih bahagia atau senang, segeralah lakukan kebaikan itu. Katakan ke diri sendiri : KESEMPATAN MEMBANTU ITU SEDIKIT, JARANG KITA BISA MEMILIKINYA, JADI LAKUKANLAH.

Kita harus merelakan apapun hasilnya dan jangan pernah mengharapkan balasan / imbalan. Kita juga harus sadar bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak selalu mendapat respon berupa kebaikan. Kadang-kadang malah kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ini adalah hukum alam dan kita musti selalu sadar dengan hukum alam ini. Apapun yang terjadi, terimalah dengan senyuman damai.

TUGAS KEDUA KITA : KALAU BELUM MAMPU MELAKUKAN KEBAIKAN, CUKUP JANGAN MENYAKITI.

Ahimsā satyavacanam sarvabhūtahitam param
Ahimsā paramo dharmah sa ca satye pratisthitah
Aatye krtvā pratisthām tu pravartante pravrttayah
[Vana Parva]

-Mereka yang bathinnya mulia tidak menyakiti dan penuh kebaikan kepada semua mahluk.
Ahimsa [tidak menyakiti] adalah dharma yang tertinggi, mereka tidak pernah menyakiti dalam perbuatan, perkataan dan pikiran.
Mereka sepenuhnya sadar kepada sebab dan akibat dari perbuatan [hukum karma], menuju evolusi bathin.

Hanya orang yang sadar dan memahami dalam-dalam tentang hukum semesta ini [hukum karma] akan berupaya “memotong” sebab yang akan menghasilkan akibat buruk. Walaupun kita tidak mungkin dalam hidup ini dapat 100% tidak menyakiti, tapi kita juga harus berupaya sebisa mungkin untuk tidak menyakiti [berhenti memproduksi karma buruk].

Jangan menyakiti perasaan mahluk lain, jangan mengganggu mahluk lain, jangan merugikan mahluk lain, jangan memanfaatkan kesulitan-kesusahan mahluk lain untuk mengeruk keuntungan, jangan menipu mahluk lain, jangan memanfaatkan-mengeksploitasi mahluk lain, dll.

Dengan tidak marah dan benci kita lebih sedikit melukai hati dan perasaan mahluk lain. Dengan sikap rendah hati kita bisa menghormati orang lain. Dengan tidak serakah kita lebih sedikit membuat orang lain menderita. Dengan kasih sayang kita lebih sedikit membunuh nyamuk dan serangga, dll-nya. Tidak membalas bentakan orang tua, tidak marah pada suami-istri yang marah, tidak menyakiti anak yang nakal, tidak melawan pada yang merendahkan kita, dll, itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain. Itulah ahimsā paramo dharmah [tidak menyakiti adalah dharma yang tertinggi].

**Sumber: Rumah Dharma Indonesia

Sejarah Banten(Sesajen) di Bali


Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya, disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro – Tegal Lalang, Gianyar, sekarang). Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara, mula-mula terbatas kepada para pengikutnya saja, lama kelamaan berkembang ke penduduk lain di sekitar Desa Taro.

merajan-2

Photo: Koleksi Pribadi, Bebantenan saat odalan

Jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air, dan api disebut “Bali”, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro. Lama-lama ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau, sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali, dalam pengertian pulau yang dihuni oleh orang-orang Bali, lebih tegas lagi pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara (Bali).

Tradisi beragama dengan menggunakan banten kemudian dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti: Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. Sejak kapan sarana upakara itu berubah nama dari “Bali” menjadi “Banten” dan mengapa demikian, sulit mencari sumber sastranya. Beberapa Sulinggih yang saya hubungi ada yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten mengalami perubahan dari kata wantu atau bantu.

Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga timbul pengertian bahwa bali atau banten adalah “niyasa” atau simbol keagamaan. Umat Hindu melaksanakan ajaran Agama-nya antara lain melalui empat jalan/ cara (marga), yaitu: Bhakti marga, Karma marga, Jnana marga, dan Raja marga.

Bhakti marga dan Karma marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim disebut sebagai “Apara bhakti”, sedangkan tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar diri masing-masing dilaksanakan Jnana marga dan Raja marga yang disebut sebagai “Para bhakti”. Pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara lainnya, seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol lainnya berkurang.

Umumnya di Bali keempat marga itu dilaksanakan sekaligus dalam bentuk upacara Agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri dari bahan pokok: daun, bunga, buah, air dan api. Sarana-sarana itu mempunyai fungsi sebagai:

  • Persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi.
  • Sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi.
  • Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.
  • Sebagai alat pensucian.
  • Sebagai pengganti mantra.

Karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya prakerti disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi kepada siapa banten itu akan dihaturkan/ dipersembahkan. Dalam Buku Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang disahkan PHDI disebutkan bahwa seorang Tukang Banten hendaknya sudah mensucikan diri dengan upacara Pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban Bebangkit).

Tujuannya adalah agar Tukang Banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan mempersembahkannya kepada Hyang Widhi. Di kala membuat banten kesucian dan kedamaian hati tetap terjaga, antara lain tidak mengeluarkan kata-kata kasar, tidak dalam keadaan kesal atau sedih, tidak sedang cuntaka, tidak sedang berpakaian yang tidak pantas, menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten di sembarang tempat.

Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral, konsentrasi penuh, rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih, tempat membuat banten disebut sebagai “Pesucian” yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan.

“Dewasa” atau hari baik untuk mulai membuat banten ditetapkan dengan teliti oleh para Sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam, atau dipegang oleh anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka. Beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh Sang Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg Gumi.

Untuk menegaskan penting dan sakralnya banten, Mpu Jiwaya salah seorang tokoh pemimpin Agama di abad ke-10 mengajarkan membuat “reringgitan” dengan bahan daun kelapa, enau atau lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus penuh. Jika tidak, bisa reringgitannya rusak atau tangannya yang teriris pisau.

Makna membuat banten seperti yang dikemukakan diatas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Zaman beredar dan kini kita hidup di zaman millennium. Kemampuan kita menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai masalah, antar lain:

Kelangkaan bahan-bahan baku banten. Waktu yang terbatas untuk membuat banten. Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri.Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten sudah kita maklumi, karena busung, pisang, kelapa, telur, bebek, dan ayam, tidak sedikit yang sudah didatangkan dari luar Bali antara lain: Sulawesi, Lombok, dan Jawa.

Waktu yang terbatas bagi umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya “nunas puput”. Generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran Agama Hindu di Bali dalam bentuk ritual/ upacara menjadi sangat sulit dan mahal.

“Model” umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini terlihat sudah lumrah seperti: sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas ayaban di Geria lengkap dengan Sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat banten pada Sang Yajamana hilang.

Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya seperti diuraikan di atas, agaknya hal yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten. Apalah artinya banten jika Sang Yajamana tidak mengerti dengan makna banten yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orang tua kita tetapi ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan pada orang tuamu? Jawabannya ya, nggak tau! Aneh bukan?

Fenomena seperti itu akan terus berkembang lebih-lebih bilamana dalam suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak.
Konsep-konsep Manawadharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara suami/ istri banyak tidak berlaku lagi. Suami mestinya menghidupi keluarga, dan Istri mestinya mengurus rumah, terutama masalah Panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten.

Adakah jalan keluar menghadapi fenomena seperti itu? Untuk ini ada beberapa hal yang perlu dikemukakan:

  1. Dalam banyak kitab suci antara lain: Manawadharmasastra, Parasaradharmasastra, dll. disebutkan bahwa cara kita beragama di setiap zaman tidaklah sama. Di zaman Kali seperti sekarang ini, cara kita beragama mestinya lebih menekankan pada pencurahan kasih sayang kepada sesama manusia misalnya dalam bentuk dana punia.
  2. Namun demikian tidak berarti bahwa kegiatan ritual keagaman dalam bentuk upacara-upacara yadnya diabaikan. Upacara itu tetap dilaksanakan namun para Sulinggih diharap memberikan dharmawacana agar sang yajamana mengerti dengan makna upacara yadnya yang diselenggarakannya.
  3. Sesuai dengan konsep Desa-Kala-Patra maka umat Hindu di Bali diharapkan menyelenggarkan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan finansial yang nyata dan waktu yang luang.
  4. Apabila terpaksa membeli banten, belilah dari orang yang diyakini memenuhi syarat sebagai tukang banten.
  5. Para tukang banten hendaknya turut memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya agar umat kita tidak terlalu mahal membeli banten, lebih-lebih jika diingat bahwa tukang banten adalah kelompok orang yang disucikan dan dengan demikian diharapkan sudah mampu menguasai “Sad-ripu” yang ada dalam dirinya sendiri.

Banten yang dikategorikan dalam kelompok:

    • Alit
    • Madya
    • Ageng

Hendaknya dijelaskan oleh para Sulinggih kepada umat secara luas, dengan menekankan bahwa banten yang alit tidak berarti nilainya lebih rendah dari banten yang madya-utama, demikian sebaliknya, karena hakekat banten adalah curahan rasa bhakti dan kasih kepada Hyang Widhi. Janganlah sampai umat kita menghadapi kesulitan atau menjadi miskin karena melaksanakan upacara yadnya secara keliru, yaitu membeli banten melebihi batas kemampuan finansialnya yang nyata.

Sumber: Bhagawan Dwija.

Yadnya Dalam Hindu[Panca Yadnya]


Yadnya berasal dari bahasa sanskerta “YAJNA” merupakan dasar kata “YAJ” yang mempunyai arti: memuja, mempersembahkan atau korban suci. Dalam praktek kehidupan sehari-hari agama Hindu khususnya di Bali Yadnya dibagi menjadi 5(lima) yang disebut dengan Panca Yadnya. Yang dimaksud dengan Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa.

Image by: Koleksi Pribadi

Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari :

  1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci umat Hindu.
  3. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal.
  4. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia.
  5. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur alam yang bertujuan untuk menetralisir kekuatan alam sehingga menjadi harmonis.

Lebih jelasnya sebagai berikut:

  1. Dewa Yadnya, Dewa asal kata dalam bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Jadi, Dewa Yadnya adalah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.
  2. Rsi Yadnya, Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:
    1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
    2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
    3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
    4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
    5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
  3. Pitra Yadnya, ialah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.

    Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:

    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  4. Manusa Yadnya, Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
    Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:

    1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir. Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya. Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain :• Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat.
      • Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.
    2. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). Adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan. Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang, kalung/badong dan giwang/subeng, melobangi telinga.
    3. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton/ 210 hari) atau Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya. Apabila keadaan ubun-ubun si bayi belum baik, maka rambut di bagian ubun-ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot (jambul) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan.
    4. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :- Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur.
      – Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
      – Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan(barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah), menanam pohon kunir, pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati “Pepegatan” ( Sarana Pemutusan ) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.

    Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.

  5. Bhuta Yadnya, Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

**Dari berbagai sumber

Artikel lain: Yadnya Sesa, Yadnya yang dilakukan sehari-hari.