Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Hukum Karma dalam Kehidupan


Apan pran eti svadhaya grbhito
Amartyo martyena sayonih
[Rig Veda I.164.38]

-Jiwa yang memiliki tubuh yang sementara, mengambil bentuk eksistensi lain mahluk seperti ini atau seperti itu [terlahir kembali] menurut perbuatannya [sesuai dengan karmanya] sendiri.

Milyaran tahun di dalam mengarungi roda samsara [siklus kelahiran-kematian-kelahiran] ini, ada empat hal yang harus kita ketahui :

  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, kita membutuhkan tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia dan berjodoh dengan ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, lalu mengalami pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.

Kita harus menyadari bahwa kelahiran kita sebagai manusia adalah sebuah berkah, yang kita ciptakan sendiri sebabnya dengan hidup secara baik dengan timbunan tabungan karma baik yang banyak pada kehidupan-kehidupan kita sebelumnya. Sebaliknya, kelahiran kita yang akan datang juga akan ditentukan oleh segala apa yang kita lakukan saat ini juga.

Seseorang yang dalam kehidupannya penuh dengan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup. Sebaliknya seseorang yang dalam kehidupanya penuh dengan karma buruk, suka mementingkan diri sendiri, suka merugikan orang lain, suka menyakiti, suka mengganggu, dll, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam gelap [Bhur Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya banyak merasakan kesengsaraan dan ketidakberuntungan. Sederhananya, kita bisa membayangkan sendiri seperti apa kehidupan kita yang akan datang hanya dengan melihat sikap dan tindakan kita pada saat ini.

Adhursata svayam ete vacobhir
Rjuyate vrjinani bruvantah
[Rig Veda V.12.5]

-Orang-orang yang tidak berjalan lurus [melaksanakan dharma], akan mengalami kehancuran semata karena perbuatan-perbuatan [karma buruk] mereka sendiri.

Di alam semesta ini berlaku hukum karma, ada akibat karena ada sebab. Tapi sebagian orang, walaupun sudah tahu akan adanya hukum karma, tapi dia tetap merasa heran, marah dan protes ketika berbagai masalah, kesulitan dan kesengsaraan datang dalam hidupnya. Hanya orang yang sadar dan memahami dalam-dalam tentang hukum semesta ini [hukum karma] akan menerima setiap kejadian buruk dengan bathin damai [karena dia sadar sedang membayar hutang karma], serta secara bersamaan berupaya “memotong” sebab yang akan menghasilkan akibat buruk.

  • Disinilah pentingnya terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, karena karma baik akan membantu meringankan karma buruk kita.
  • Disinilah pentingnya terus-menerus berupaya melenyapkan kebiasaan-kebiasaan yang menghasilkan karma buruk dan terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan [yang akan menghasilkan karma baik].

Sesungguhnya kebiasaan-kebiasaan ini akan berlanjut antar kehidupan. Bila pada kehidupan sebelumnya kita adalah orang yang bersifat penuh kebaikan, sabar dan penyayang, maka kecenderungan tersebut akan muncul dan berlanjut kembali pada kehidupan kita yang sekarang. Bila sifat-sifat dharma tersebut terus-menerus diperkuat dan dikembangkan pada kehidupan saat ini, hal itu akan semakin kuat dan menonjol pada kehidupan kita selanjutnya. Sebaliknya bila dalam kehidupan sekarang kita lalai untuk mengembangkan sifat-sifat dharma tersebut, sifat mulia tersebut akan berangsur melemah dan salah-salah akan pudar dalam kehidupan mendatang. Hal ini akan membuka kemungkinan bangkitnya kegelapan bathin dalam diri kita, menghasilkan karma-karma buruk, yang sekaligus akan mengakibatkan pengalaman-pengalaman hidup yang menyengsarakan dan jauh dari jalan kesadaran.

Berdasarkan hal inilah kemudian para Maharsi mengintisarikan bahwa ada dua hal PALING PENTING yang harus terus-menerus kita laksanakan dalam kelahiran sebagai manusia, yaitu :

TUGAS PERTAMA KITA : SETIAP ADA KESEMPATAN TERUS BERUPAYA MELAKUKAN KEBAIKAN, KEBAIKAN DAN KEBAIKAN.

Di dalam berbagai teks-teks Hindu, dijelaskan secara eksplisit tentang pentingnya banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Di bawah ini adalah beberapa contoh kutipan-kutipan tersebut dalam bentuk ringkasan :

-Atharva Veda-
Tapas caiva-astam karma ca
Antar mahati-arna ve
[Atharva Veda XI.8.2]

-Tapa [pengendalian pikiran dan indryia-indriya] dan keteguhan melaksanakan karma baik [terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan] adalah satu-satunya sumber keselamatan di dunia yang mengerikan ini.

Atharva Veda menjelaskan bahwa dalam eksistensi kita sebagai mahluk, sumber keselamatan kita sangat terbatas dan itupun sepenuhnya tergantung kepada diri kita sendiri. Sangat penting dalam hidup ini untuk terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan. Dijelaskan sebagai berikut :

  1. Dengan banyak-banyak melakukan kebaikan, kita belum tentu tahu bagaimana perasaan orang tersebut, tapi satu hal yang pasti adalah bathin kita akan banyak mengalami pembersihan-pembersihan. Bathin kita dibimbing rapi menuju ketenangan, bebas dari rasa iri hati, tidak mudah marah, tidak mudah terganggu oleh orang lain, tidak mendendam, dll. Dan yang pertama kali mengalami kedamaian bathin itu adalah diri kita sendiri. Lalu kita juga menjadi sumber kedamaian dan harmoni bagi lingkungan kita.
  2. Kita bisa mengamati sendiri melalui fakta sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dalam kehidupan keseharian kita selalu baik hati, penyayang, suka menolong, suka menyenangkan hati orang, dll, orang-orang akan cenderung menyukai kita, musuh kita sedikit dan kita terhindar dari konflik-konflik berbahaya. Tentu saja kemudian akibatnya adalah pengalaman-pengalaman hidup kita akan lebih membahagiakan.
  3. Karma baik akan membantu meringankan beban karma buruk kita.
  4. Dengan banyak karma baik, dewa penolong kita akan “turun”. Tanpa kita ketahui, kita akan dijaga dan dibantu oleh kekuatan-kekuatan suci dari alam-alam luhur yang tidak terlihat tersebut.
  5. Dalam roda samsara, seseorang yang dalam kehidupannya banyak karma baik [banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan], ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup.

-Brhadaranyaka Upanishad-

Brhadaranyaka Upanishad menjelaskan bahwa ada tiga hal terpenting dalam kehidupan yang harus kita laksanakan setiap saat, yaitu : DAYADHVAM – bathin yang penuh sifat welas asih, DATTA – banyak-banyak melakukan kebaikan dan DAMYATA – menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran. Kegelapan bathin berupa emosi negatif dan destruktif [penuh kemarahan, penuh kebencian, iri hati, dendam], akan lenyap dengan tekun mempraktekkan sikap bathin yang penuh welas asih [dayadhvam]. Tidak kejam, tidak membenci, tidak marah, sangat memaafkan, tidak iri hati dan berhati lembut.

Kegelapan bathin berupa keserakahan [lobha] akan membangkitkan kebencian, keterikatan akan membangkitkan kegelisahan bathin [moha], dll. Tapi semua itu akan lenyap dengan tekun mempraktekkan sikap dan perilaku keseharian yang penuh kebaikan [datta]. Belajar dan berlatih untuk melepaskan ke-aku-an [ahamkara], baik berupa rasa ke-aku-an [kepemilikan] benda-benda duniawi, hal-hal duniawi, maupun rasa ke-aku-an yang muncul dalam pikiran dan perasaan kita.

Mudah sekali bersikap damai dan penuh welas asih, disaat kita dipuji-puji, dikagumi, tidak kekurangan uang, makan enak dan badan sehat. Tapi yang bisa TETAP bisa bersikap damai dan penuh welas asih disaat dirinya dihina, dicaci-maki, disakiti, tidak punya uang, kelaparan dan sedang sakit, itu tidak lain pertanda bathin yang mulai bersinar terang benderang, semakin dekat dan semakin dekat dengan pembebasan.

-Yoga Sutra dan Rig Veda-

“Ashtanga Yoga” atau delapan ruas yoga dalam teks Yoga Sutra [Maharsi Patanjali] menjelaskan bahwa, pondasi dasar yang terpenting dari jalan yoga adalah Yama dan Niyama [10 disiplin dasar seorang yogi]. Sehingga disiplin yoga ini diletakkan pada urutan pertama dan kedua dari delapan ruas yoga. Dua diantara Yama adalah Aparigraha dan Ahimsa.

Aparigraha berasal dari kata “parigraha” yang berarti : rasa kepemilikan atau memiliki sendiri sesuatu hal atau benda dan “a” yang berarti : tidak. Aparigraha berarti “tidak ada rasa kepemilikan”, yang bermakna kita harus selalu memberi [atau selalu berbagi] kepada mahluk lain. Dengan kata lain banyak-banyak melakukan kebaikan.

Ahimsa berarti “tidak menyakiti”.

Dalam bagian lain Yoga Sutra disebutkan :

Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran dapat dimurnikan dengan keramahan dan kehangatan kepada mereka yang sedang bahagia, welas asih dan kebaikan kepada mereka yang sedang sengsara, mendukung dan membantu orang-orang yang baik hati, serta tidak menghakimi dan menilai [bersikap netral] kepada orang-orang yang kita rasa jahat atau salah.
[Yoga Sutra 1.33]

Dalam Rig Veda juga disebutkan :
Rtasya nah patha naya
Ati visvani durita
[Rig Veda I.33.6]

-Semoga engkau menuntun kami ke jalan kebajikan [hidup yang penuh dengan kebaikan-kebaikan], sehingga kami bisa meniadakan semua kekalutan [kegelapan] bathin.

Disiplin perilaku keseharian yang demikian [banyak-banyak melakukan kebaikan dan tidak menyakiti], merupakan pondasi dasar penting dari semua jalan yoga. Karena perilaku demikian akan membangunkan kehalusan jiwa. Sehingga dampaknya adalah, ketika kita sembahyang [bhakti yoga] bathin kita dapat terhubung dengan vibrasi kemahasucian dari alam-alam luhur, ketika kita meditasi [raja yoga] kita menjadi mudah merealisasi samadhi, ketika kita mempelajari dharma [jnana yoga] kita akan lebih mudah paham dan mengerti, ketika kita melaksanakan kerja [karma yoga] kita akan berbahagia melaksanakan svadharma kita. Itulah sebabnya disebut pondasi dasar yang menentukan keberhasilan yoga.

-Apakah yang dimaksud dengan kebaikan ?-
Pengertian dari melakukan kebaikan itu adalah membantu orang lain atau dalam bentuk lain membuat orang lain merasa lebih bahagia atau senang. Wajah kebaikan sangat banyak dan beragam. Bisa berupa pemberian material berupa uang, barang, pakaian, makanan, dll dan [yang cakupannya lebih luas] adalah berupa pemberian non-material seperti menghibur orang yang sedang kesusahan hati, membantu menyapu, memberikan kesempatan lebih dahulu dalam antrean, memberikan kesempatan orang lain menyeberang jalan, meminggirkan kendaraan saat ada ambulans lewat, atau tersenyum ramah kepada orang lain, itu juga suatu bentuk kebaikan.

Atau misalnya kita melihat ada sampah tidak dibuang di tong sampah, kita bantu masukkan ke tong sampah, ada keran yang airnya sudah penuh dan melimpah, kita bantu matikan. Kelihatannya sepele dan mungkin jarang kita perhatikan, tapi ini sebenarnya sangat penting, karena itu memupuk karma baik dan sekaligus bagian dari mendidik diri untuk penuh dengan kebaikan.

Selalulah ingat, setiap kali ada yang memerlukan bantuan kita atau mungkin kita bisa membuat mereka sedikit lebih bahagia atau senang, segeralah lakukan kebaikan itu. Katakan ke diri sendiri : KESEMPATAN MEMBANTU ITU SEDIKIT, JARANG KITA BISA MEMILIKINYA, JADI LAKUKANLAH.

Kita harus merelakan apapun hasilnya dan jangan pernah mengharapkan balasan / imbalan. Kita juga harus sadar bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak selalu mendapat respon berupa kebaikan. Kadang-kadang malah kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ini adalah hukum alam dan kita musti selalu sadar dengan hukum alam ini. Apapun yang terjadi, terimalah dengan senyuman damai.

TUGAS KEDUA KITA : KALAU BELUM MAMPU MELAKUKAN KEBAIKAN, CUKUP JANGAN MENYAKITI.

Ahimsā satyavacanam sarvabhūtahitam param
Ahimsā paramo dharmah sa ca satye pratisthitah
Aatye krtvā pratisthām tu pravartante pravrttayah
[Vana Parva]

-Mereka yang bathinnya mulia tidak menyakiti dan penuh kebaikan kepada semua mahluk.
Ahimsa [tidak menyakiti] adalah dharma yang tertinggi, mereka tidak pernah menyakiti dalam perbuatan, perkataan dan pikiran.
Mereka sepenuhnya sadar kepada sebab dan akibat dari perbuatan [hukum karma], menuju evolusi bathin.

Hanya orang yang sadar dan memahami dalam-dalam tentang hukum semesta ini [hukum karma] akan berupaya “memotong” sebab yang akan menghasilkan akibat buruk. Walaupun kita tidak mungkin dalam hidup ini dapat 100% tidak menyakiti, tapi kita juga harus berupaya sebisa mungkin untuk tidak menyakiti [berhenti memproduksi karma buruk].

Jangan menyakiti perasaan mahluk lain, jangan mengganggu mahluk lain, jangan merugikan mahluk lain, jangan memanfaatkan kesulitan-kesusahan mahluk lain untuk mengeruk keuntungan, jangan menipu mahluk lain, jangan memanfaatkan-mengeksploitasi mahluk lain, dll.

Dengan tidak marah dan benci kita lebih sedikit melukai hati dan perasaan mahluk lain. Dengan sikap rendah hati kita bisa menghormati orang lain. Dengan tidak serakah kita lebih sedikit membuat orang lain menderita. Dengan kasih sayang kita lebih sedikit membunuh nyamuk dan serangga, dll-nya. Tidak membalas bentakan orang tua, tidak marah pada suami-istri yang marah, tidak menyakiti anak yang nakal, tidak melawan pada yang merendahkan kita, dll, itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain. Itulah ahimsā paramo dharmah [tidak menyakiti adalah dharma yang tertinggi].

**Sumber: Rumah Dharma Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: