Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: yadnya

Jangan Memiskinkan Diri Dengan Upacara


Upacara (baca: Upakara) dalam Hindu berasal dari dua kata dasar “upa” yang berarti “dekat” dan “kara” berarti sarana. Jadi, upacara(upakara) adalah sarana yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi dengan segala manifestasinya. Upacara (upakara) Hindu di Bali dibedakan menjadi 3(tiga) berdasarkan jenis dan ukuran upacara itu sendiri, Yaitu:

  1. Nista(alit) adalah upacara kecil, sedikit bisa dibilang paling sederhana.
  2. Madya, adalah upacara berukuran sedang.
  3. Utama(ageng) adalah upacara besar

Umat Hindu sering salah mengartikan makna ketiga jenis upacara diatas, sering kali umat Hindu melakukan upacara dengan biaya diluar batas kemampuan dan berpikir bahwa upacara utama adalah jenis upacara tertinggi nilai pahalanya. Tidak jarang pula umat Hindu melakukan upacara dengan rasa gengsi, sehingga melakukan upacara secara besar-besaran hanya untuk sebuah pengakuan. Padahal di dalam lontar Yadnya Prakerti, Purwa Gumi Kemulan, Purwa Gama Sesana, Siwa Tattwa, Sanghyang Aji Swamandala, dan lain-lain disebutkan bahwa jenis upakara agar disesuaikan dengan kemampuan nyata, yang diistilahkan sebagai : desa (tempat), kala (waktu), patra (situasi dan kondisi).

Hindu tidak memiliki standar sebuah upacara(upakara) yadna, dan besarnya pahala dari sebuah upacara tidak dilihat dari jenis upacaranya tapi dilihat dari keikhlasan dalam pelaksanaannya. Sudah saatnya umat Hindu berpikir realistis dalam melakukan upacara yadna jangan memiskinkan diri dengan upacara yadnya yang akan dilakukan, lakukan sesuai dengan kemampuan dan berkonsultasi dengan pandita sehingga upacara yang dilakukan sesuai dengan desa, kala dan patra.  Didalam bhagawad-gita 9.26 disampaikan :

patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ

yo me bhaktyā prayacchati
tad ahaḿ bhakty-upahṛtam
aśnāmi prayatātmanaḥ

“Whoever with loving devotion offers unto Me a leaf, a flower, a fruit or water, I affectionately accept than devotional afforing from that pure hearted being.”

maksudnya: Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau airdengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya.

Lakukan upacara yadnya sesuai kemampuan, karena keikhlasan adalah nilai utama sebuah upacara.

Bhakti Yoga


Bhakti Yoga merupakan istilah dalam agama Hindu yang merujuk pada wujud nyata /praktek keimanan(pemujaan) yang tulus suci kepada Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa.

IMG_0815

Image by: koleksi pribadi. Tirtha Empul Gianyar.

Engage your mind always in thinking of Me, become My devotee, offer obeisances to Me and worship Me. Being completely absorbed in Me, surely you will come to Me.
(Bhagawadgita 9.34)

One can understand Me as I am, as the Supreme Personality of Godhead, only by devotional service. And when one is in full consciousness of Me by such devotion, he can enter into the kingdom of God.
(Bhagawadgita 18.55)

Bhakti Yoga menjadi ciri khas Hindu di Bali, dimana dalam kesehariannya penuh dengan yadnya [persembahan suci]. Mengacu kepada apa yang dilaksanakan oleh para tetua, tidak saja banten dan upakara menjadi yadnya, tapi tari-tarian, ngayah [pelayanan], ukiran, pemberian, pertolongan, membahagiakan mahluk lain, dll, semuanya adalah yadnya. Bahkan hidup inipun adalah yadnya. Kalau hal ini yang dijadikan acuan, sebagai Hindu Bali selayaknya bergerak dengan spirit yadnya [persembahan suci].

Ada delapan macam yadnya, yaitu TRI YADNYA [tiga macam yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara] dan PANCA YADNYA [lima macam yadnya yang berhubungan dengan upakara]. Tri Yadnya termasuk Para Bhakti, sedangkan Panca Yadnya termasuk Apara Bhakti. Inilah jalan menuju tercapainya Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan semesta yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Acintya dan para dewa-dewi, manusia dengan alam raya dan manusia dengan sesama mahluk. Ini selaras-sejalan dengan tujuan “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang berarti : dengan dharma kita mewujudkan kebahagiaan semua mahluk dan keharmonisan alam semesta [jagadhita], serta mencapai pembebasan dari roda samsara [moksartham].

Bhakti Yoga harus dimulai dengan upaya mendisiplinkan diri. Ini direalisasi dengan melaksanakan Tri Yadnya, yaitu tiga macam persembahan suci atau yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara. Ketiga yadnya itu adalah :

  1. Drwya Yadnya. Ini adalah yadnya berupa welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk. Memuja Tuhan dan dewa-dewi yang tidak kelihatan tentu saja bagus dan boleh. Tapi menyayangi para mahluk yang terlihat juga termasuk yadnya [persembahan suci]. Drwya Yadnya adalah yadnya berupa perbuatan-perbuatan kebaikan, kasih sayang dan pemberian materi maupun non-materi. Tidak saja kepada manusia, tapi juga kepada alam semesta beserta seluruh mahluk didalamnya. Termasuk welas asih dan kebaikan kepada para mahluk menderita : hewan dan mahluk-mahluk niskala alam bawah [yang ditempat lain dimusuhi sebagai setan]. Yadnya disini bukan selalu berarti uang atau barang. Senyuman ramah, mau menjadi tempat curhat yang baik, membantu membuang sampah, itu juga sebuah yadnya. Membuat orang senang, bahagia, terhibur, lepas dari ganjelan, dll, itu semua sebuah persembahan suci [yadnya].
  2. Tapa Yadnya. Ini adalah yadnya berupa 10 disiplin diri, yaitu : – Tiga disiplin badan : hindari menyakiti-membunuh, hindari hubungan seks ilegal [selingkuh], hindari mengambil sesuatu yang bukan milik kita. – Empat disiplin lidah : hindari berbohong, hindari bergosip-memfitnah, hindari kata-kata kasar dan menghina, hindari kesombongan.- Tiga disiplin pikiran : hindari kemarahan-kebencian, hindari keserakahan [termasuk serakah ingin hidup harus selalu tenang, damai, gembira tanpa gangguan], hindari dualitas pikiran [benar-salah, baik-buruk, suci-kotor, dll]. Dengan indriya-indriya dan pikiran yang terkendali, kita lebih sedikit serakah, lebih sedikit mengeluarkan kata-kata menyakitkan, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.
  3. Jnana Yadnya. Ini adalah yadnya berupa kebijaksanaan dan pengetahuan. Kita belajar dan berlatih menghidupkan kebijaksanaan yang mendalam dalam bathin kita. Dengan kebijaksanaan mendalam, kita lebih sedikit marah, lebih sedikit membenci, lebih sedikit dendam, lebih sedikit tidak puasnya, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.

Tri Yadnya sangat penting dan fundamental dalam totalitas yadnya

Dengan keseharian yang dibimbing oleh Tri Yadnya keadaan bathin kita akan menjadi sejuk, teduh, terang. Jauh lebih sedikit mahluk yang disakiti dan jauh lebih banyak mahluk yang bisa disayangi. Hal ini tidak saja menyegarkan bathin orang lain atau mahluk lain, tapi sekaligus juga menyalakan teja atau sinar suci di dalam bathin kita. Sehingga kemanapun kita sembahyang, apapun upakara yang kita lakukan, langkah kita akan ringan, dimana-mana kita mudah sekali bertemu dengan teja kemahasucian.

Segala macam sembahyang, mebanten, upakara, dll, yang kita laksanakan, tanpa dilandasi oleh Tri Yadnya, kemungkinan besar hanya menjadi penyegaran spiritual atau rekreasi rohani yang sifatnya sementara saja atau bahkan tidak berguna. Vibrasi spiritual-nya lemah dan mudah lenyap. Akan tetapi bila sebaliknya, bhakti yoga tidak lagi menjadi aktifitas fisik belaka, tapi sudah menjadi satu dengan aktifitas jiwa. Ini yang akan membuat dalam bhakti kita akan mudah terhubung dengan wilayah-wilayah kemahasucian. Karena hanya yang suci akan tersambung dengan bagian dari Brahman yang juga suci.

**Rumah Dharma-Hindu Indinesia

Artikel terkait:

Yadnya Dalam Hindu[Panca Yadnya]


Yadnya berasal dari bahasa sanskerta “YAJNA” merupakan dasar kata “YAJ” yang mempunyai arti: memuja, mempersembahkan atau korban suci. Dalam praktek kehidupan sehari-hari agama Hindu khususnya di Bali Yadnya dibagi menjadi 5(lima) yang disebut dengan Panca Yadnya. Yang dimaksud dengan Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa.

Image by: Koleksi Pribadi

Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari :

  1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci umat Hindu.
  3. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal.
  4. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia.
  5. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur alam yang bertujuan untuk menetralisir kekuatan alam sehingga menjadi harmonis.

Lebih jelasnya sebagai berikut:

  1. Dewa Yadnya, Dewa asal kata dalam bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Jadi, Dewa Yadnya adalah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.
  2. Rsi Yadnya, Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:
    1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
    2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
    3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
    4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
    5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
  3. Pitra Yadnya, ialah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.

    Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:

    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  4. Manusa Yadnya, Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
    Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:

    1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir. Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya. Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain :• Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat.
      • Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.
    2. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). Adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan. Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang, kalung/badong dan giwang/subeng, melobangi telinga.
    3. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton/ 210 hari) atau Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya. Apabila keadaan ubun-ubun si bayi belum baik, maka rambut di bagian ubun-ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot (jambul) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan.
    4. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :- Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur.
      – Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
      – Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan(barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah), menanam pohon kunir, pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati “Pepegatan” ( Sarana Pemutusan ) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.

    Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.

  5. Bhuta Yadnya, Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

**Dari berbagai sumber

Artikel lain: Yadnya Sesa, Yadnya yang dilakukan sehari-hari.