Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: pura

Memahami Arti Figur-Figur Menyeramkan di Pura


Mengapa di pura banyak terdapat figur-figur menyeramkan ?

  • Di dalam pura-pura di Bali tidak hanya ada figur Hyang Acintya [yang tidak terpikirkan] dan dewa-dewi, tapi juga banyak ada figur-figur menyeramkan.
  • Di Penataran Agung Pura Besakih palinggih kiwa [kegelapan, keburukan] dan tengen [kesucian, kebaikan] diletakkan sejajar dan kedudukannya sama.
  • Kita mebanten tidak hanya ke “alam-alam luhur” tapi juga ke “alam bawah.

Kalau orang yang tidak paham tattva yang termuat di dalamnya, kita bisa dikira memuja setan.
Pura secara fisik memang sarat dengan simbol-simbol seram, tapi bagai sadhaka yang bathinnya sudah terdisiplinkan dari sad ripu dan dari dualitas pikiran, akan dapat melihat rahasianya, untuk kemudian terkagum-kagum. Karena ciri manusia yang sudah menyatu dalam keheningan sempurna adalah tidak ada lagi yang perlu dilawan dan ditendang. Semuanya sudah mengalir sempurna sesuai dengan putaran waktunya.

Bathinnya serupa ruang yang menyediakan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh, serupa langit yang memayungi semuanya, serupa matahari yang menyinari semua tanpa memilih. Sehingga tidak saja manusia dan mahluk baik yang diberi tempat dan ruang, tapi semuanya diberikan tempat dan ruang.

PENJELASAN

Salah satu penggerak pikiran untuk bekerja adalah ketika ada dualitas. Pikiran bekerja dengan sangat sibuk ketika Tuhan berkelahi dengan setan, benar berkelahi dengan salah, baik berkelahi dengan buruk, dihormati berkelahi dengan direndahkan, dll. Dimana ada dualitas, disana pikiran bekerja.

Dualitas menyebabkan pikiran kita tidak pernah bebas. Dualitas menyebabkan pikiran kita bergerak dari satu ketidakpuasan menuju ketidakpuasan yang lain, dari satu kemarahan menuju kemarahan yang lain, dari satu konflik menuju konflik yang lain, dari satu kebencian menuju kebencian yang lain. Rasa permusuhan tinggi, konflik, tersinggung, perkelahian dan perang tidak pernah berakhir.

Para maharsi yang sudah sadar, serta dalam berbagai teks-teks, bahkan secara gamblang menyebut dualitas sebagai bentuk avidya [ketidak-tahuan, kebodohan] paling berbahaya yang membuat hukum karma bekerja dan sebagai akibatnya siklus kelahiran berulang-ulang [samsara] terus terjadi. Hindu memulai perjalanan spiritual langsung di jantung persoalan pembebasan, yaitu memotong akar kelahiran. Dengan cara memotong akar kesengsaraan ini : seluruh dualitas hanya ada dalam pikiran manusia yang masih picik dan sempit.

Itu sebabnya dalam ajaran Hindu kita dibekali dengan tattva ring Rwa Bhinneda, yaitu melampaui dualitas. Tidak ada kegelapan yang ditendang, tidak ada keburukan yang diajak perang. Kesucian maupun kegelapan, kebaikan maupun keburukan, keduanya diletakkan sama sejajar, serta dihormati dan disayangi secara sama.

Jalan keutamaan berada diatas dualitas kiwa-tengen [baik-buruk]. Terlalu lama manusia kelelahan dalam pencarian religius dengan cara membuat Tuhan berperang dengan setan, kesucian bertempur dengan kegelapan, salah berbenturan dengan benar. Dan ketika semua peperangan, pertempuran dan benturan ini dihentikan, bathin langsung sampai kepada hakikat diri yang sejati : paramashanti. Disinilah semua unsur kehidupan dan alam semesta diolah menjadi welas asih, kedamaian dan kebaikan.

Dalam konteks sadhana :

Setiap mahluk di alam semesta ini adalah jiwatman yang mahasuci, percikan-percikan Brahman. Manusia, seekor semut, burung-burung dan termasuk mahluk-mahluk bhur loka [alam bawah], seperti bhuta kala, ashura, preta, dll. Yang membedakannya adalah putaran karma dan kualitas kesadaran masing-masing.

Rasa hormat, welas asih dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta [kepada bhur bvah svah, tiga alam semesta dan semua mahluk di dalamnya] sangat basis dan fundamental sebagai praktek religius terpenting dan ajaran religius terpenting. Karena tanpa rasa hormat, kasih sayang dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta, semua jalan religius menjadi berbahaya. Dan tanpa rasa hormat, kasih sayang dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta, semua praktek religius akan menemui kegagalan.

Dalam roda samsara, jiwa-jiwa yang terlahir di bhur loka, adalah jiwa-jiwa yang kekotoran bathinnya pekat dan karma buruknya banyak. Pahami mereka sebagai mahluk-mahluk menderita dan bukan mahluk jahat. Mereka sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita. Dan siapa tahu yang kita sebut bhuta kala atau ashura itu, beberapa kelahiran sebelumnya pernah menjadi orang tua kita. Tapi kebetulan karena karena kekotoran bathinnya pekat dan karma buruknya banyak, mereka mengalami kejatuhan dalam roda samsara.

  • Mahluk-mahluk alam bawah adalah mahluk menderita yang sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita.
  • Orang-orang jahat adalah mahluk menderita yang sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita.
  • Dan mereka juga bagian dari “tubuh semesta” yang sama dengan kita, yaitu : Brahman.

Dalam konteks jnana :

Tidak hanya kesucian yang layak kita hormati, kegelapan juga layak kita hormati. Tidak hanya yang baik layak kita hormati, yang jahat juga layak kita hormati. Karena kegelapan atau orang jahat :

  • Mereka sesungguhnya sedang memberikan kita kesempatan untuk membayar hutang karma. Membebaskan kita dari beban hutang karma buruk.
  • Mereka sesungguhnya sedang menyediakan dirinya untuk menjadi guru dharma tertinggi untuk kita secara gratis. Karena mereka sesungguhnya sedang melatih kita, guna membuat kita menjadi tenang, sabar dan bijaksana.
  • Dan demi seluruh sebab-sebab diatas, mereka rela menanggung karma buruk atau masuk neraka dari perbuatan mereka tersebut.

Sesungguhnya kesucian dan kegelapan berasal dari apa yang kita pikirkan. Jika ingin damai dan sadar, selalulah berpikir positif [suci] dan menyimak baik-baik pesan-makna dari setiap kejadian. Di balik hal-hal yang kita sebut buruk, tersimpan pesan-pesan dan bimbingan semesta yang indah. Inilah tattva ring RWA BHINNEDA dalam bathin yang berkesadaran sempurna, bahwa dualitas baik-buruk suci-gelap itu sama, hanya pikiran kitalah yang membuatnya menjadi berbeda.

Dalam konteks kesadaran kosmik :

Ajaran Hindu menyebutkan bahwa keseluruhan alam semesta [langit, matahari, bintang, bulan, bumi manusia, binatang, tetumbuhan, dewa, ashura, bhuta kala, dll], terangkai rapi kedalam jejaring kosmik yang tidak terbatas, yang tidak terpikirkan [Brahman].

Kalau sudah paham semua ini, sadar tentang hakikat ini, kita mau membenci siapa ? Mau perang dengan siapa ? Sehingga kita bisa memasuki puncak ajaran dharma, yaitu : KEHENINGAN SEMPURNA.

Sesungguhnya semuanya Brahman. Setiap atom, setiap wujud materi, setiap bentuk kehidupan. Tidak ada yang namanya dualitas kesucian-kegelapan, keburukan-kebaikan, itu hanya cara PIKIRAN mengerti dan bukan realita sebenarnya.

HUKUM ALAM SEMESTA

Sebagian orang memahami dharma sebagai yang benar ditegakkan dan yang salah dihancurkan. Tapi perlu diketahui bahwa ada banyak peperangan [bahkan sebagian peperangan begitu sia-sia], muncul dari orang yang menganggap dirinya dharma kemudian menganggap orang lain adharma demikian mudahnya.

Brahman ada diatas dualitas benar-salah dan tentu saja tidak memihak. Salah-benar dan memihak, itu hanyalah bahasa-bahasa pikiran. Brahman adalah Hyang Acintya [yang tidak terpikirkan].

Dengan catatan ada hukum mutlak alam semesta yang bekerja :

  • Kalau keseharian kita bersih [penuh welas asih, penuh kebaikan, jujur, polos, dll] kita akan mudah terhubung dengan bagian dari Brahman yang mahasuci, sebaliknya kalau keseharian kita penuh kegelapan [korupsi, selingkuh, suka marah, benci, dll] kita akan mudah terhubung dengan bagian dari Brahman yang juga gelap.
  • Kalau hidup kita penuh kebaikan maka kebahagiaan dan pembebasan yang datang, kalau hidup kita di jalan adharma maka kesengsaraan yang akan datang.

Benar-salah sesungguhnya ada dalam pilihan manusia. Dan putaran karma kitalah yang memihak.

PENUTUP

Om Bhur Bvah Svah, demikian mantra yang sering kita ucapkan. Ketiga kelompok alam semesta, beserta seluruh mahluk dan isi di dalamnya, adalah OM [Brahman]. Hal ini juga disimbolikkan pada bangunan padmasana [sebagai stana Hyang Acintya], dimana di bagian bawahnya ukiran seram-seram [lambang alam bhur], di tengahnya biasa [lambang alam bvah] dan diatasnya yang suci-suci [lambang alam svah].

Itulah sebabnya tempat suci dalam ajaran Hindu bukanlah tempat yang hanya ada yang suci-suci saja, melainkan semuanya ada disitu. Bhur, bvah, svah adalah sebuah tatanan kosmik yang menyatu rapi dalam diam dan hening. Tidak ada yang perlu ditambahkan, tidak ada yang perlu dikurangi. Semuanya sudah menyatu rapi dalam kesatuan semesta yang manunggal.

Sumber: Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Pura Agama Hindu di Nusantara(1)


Keberadaan pura disuatu tempat perantauan menjadi hal yang sangat penting bagi umat Hindu, sebagai agama minoritas pura diharapkan sebagai tempat bertemunya umat sedharma dari berbagai daerah untuk bersosialisasi dan belajar banyak hal. Berikut adalah daftar Pura yang saya kelompokan berdasarkan daerah, mudah-mudahan bermanfaat bagi umat Hindu yang hendak melakukan tirta yatra:

Pura disekitar D.I Jogjakarta:

No Nama Pura Lokasi/Alamat
1 BHAKTI AGUNG Gudang, Kampung, Ngawen, Gunungkidul
2 BHAKTI DHARMA Tegalrejo, Beji, Ngawen, Gunungkidul
3 BHAKTI WIDHI Bendo, Beji, Ngawen, Gunungkidul
4 DERPO KUSUMO Ngepoh, Planjan, Saptosari, Gunungkidul
5 DHAKSINA MURTI Tegaltapen, Tirtosari, Kretek, Bantul
6 DHARMA BHAKTI Sumber, Planjan, Saptosari, Gunungkidul
7 DHARMA JATI Ngelo, Beji, Ngawen, Gunungkidul
8 DHARMA SANTI Sumberwatu, Prambanan, Sleman
9 EKA BHAKTI Pucung, Planjan, Saptosari, Gunungkidul
10 EKA DHARMA Gonjen, Tamantirto, Kasihan, Bantul
11 GADUNG MLATHI Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul
12 GIRI NATHA Gading, Playen, Gunungkidul
13 JAGAD NATHA Plumbon, Banguntapan, Bantul
14 KARANG GEDE Karanggede, Pendowoharjo, sewon, Bantul
15 MAHA MERU Pengos, Giring, Paliyan, Gunungkidul
16 NGESTHI BERATHA DHARMA Gununggambar, Kampung, Ngawen, Gunungkidul
17 PADMA BHUANA SARASWATI Jln. Mawar Baciro No.2 Yogyakarta
18 PODOWENANG Kaliwaru, Kampung, Ngawen, Gunungkidul
19 SANGGAR PEMUJAAN Soman Kalasan, Sleman
20 SANGGAR PEMUJAAN Greges Donotirto, Kretek, Bantul

Pura Hindu disekitar Tanggerang, Banten.

No Nama Pura Lokasi/Alamat
1 Gurudwara Guru Nanak Jl. Merpati Raya No. 130 Kampung Sawah Ciputat Tangerang
2 Kuil Dharma Kalsa Jl.Wana Mulya No.29 Karang Tengah Kota Tangerang
3 Kuil Durgha Maa Jl. Imam Bonjol Gg.Bidong No.53 Karawaci Rt.04/03 Tangerang 15115
4 Kuil Shri Bathra Kali Amman Komplek Puri Metropolitan Blok B3 Jl. Krisan No. 11 Kel. Gondrong Cipondoh Kota Tangerang
5 Parahyangan Jagat Guru Komplek Pajak, Jl. Kasuari II No.2 Cipadu Tangerang
6 Pura Dharma Sidhi Karya Jl.Pasraman II Kav.Komplek P &K Parung Serab, Ciledug Tangerang
7 Pura Eka Wira Anantha Kesatrian Gatot Subroto Komplek Kopassus Group I Taman Serang Barat
8 Pura Giri Kirthi Komplek Pajak, Jl. Kasuari II No.2 Cipadu Tangerang
9 Pura Kertajaya Jl. KS.Tubun Nomor 108 belakang Pasar Baru Tangerang
10 Pura Parahyangan Jagat Guru Jl. Sedap Malam II Kav.Ac No.25 Puspita Loka BSD Tangerang
11 Pura Merta Sari Jl.Kenikir No.23 Desa Rengas Ciputat Tangerang

Pura Pusering Jagat


Salah satu Pura Kahyangan Jagat lainnya di Bali adalah Pura Pusering Jagat. Terletak di Desa Pejeng, Tampak Siring, Gianyar. Pura Pusering Jagat memiliki arti yang penting di Bali dan merupakan tempat sthana(bersemayam) Dewa Siwa.
Dalam lontar-lontar kuna, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Penamaan itu akan mengingatkan masyarakat Hindu kepada cerita Adi Parwa yang mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirtha amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirarnawa.

Di pura ini terdapat arca-arca yang menunjukkan bahwa pura ini adalah tempat pemujaan Siwa seperti arca Ganesha (putra Siwa), Durga (sakti Siwa), juga arca-arca Bhairawa. Ada juga arca berbentuk kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana). Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan yang pertama. Purusa adalah benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni.

Di pura ini juga terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut sangku sudamala yang melambangkan limpahan air suci untuk kehidupan. Di dalam sangku sudamala ini terdapat gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251.

Pangempon Pura Pusering Jagat terdiri atas dua kelompok yakni pangempon dan penanga. Pengempon terdiri atas empat banjar yaitu: Banjar Intaran, Banjar Pande, Banjar Puseh dan Banjar Guliang. Sedangkan penanga sebanyak kurang lebih 137KK yang berasal dari Desa Adat Jero Kuta dan sekitar 100 KK berasal dari luar Jero Kuta seperti Pejeng Kangin dan Pejeng Kelod. Adapun upacara yang diselenggarakan di pura ini berupa aci panyabran, aci piodalan/padudusan alit dan aci piodalan/padudusan agung. Padudusan alit diselenggarakan setiap 210 hari bertepatan dengan Anggara Kasih Wara Medangsia dan Padudusan Agung digelar setiap satu tahun sekali bertepatan dengan Purnamaning Karo yang bisanya jatuh sekitar Agustus.