Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: hindu

Tips Mengatasi Rasa Dengki/Iri Hati [Matsarya]


Ada enam jenis musuh yang lahir dari sifat manusia dalam Hindu disebut dengan Sad Ripu. Salah satu dari enam jenis musuh tersebut adalah Matsarya atau Dengki/Iri Hati.

iri hati

Iri hati adalah jenis kekotoran bathin yang paling gelap. Kalau dalam pikiran kita masih ada rasa iri hati, itu pertanda kekotoran bathin kita masih sangat pekat. Apalagi kalau sudah terkena “penyakit SMS” [susah melihat orang senang, senang melihat orang susah]. Dan kalau kita tidak mau kehidupan maupun kematian yang juga gelap, ini musti cepat-cepat kita bersihkan.

Mengapa disebut kekotoran bathin masih sangat pekat ? Coba bayangkan bila kita berhadapan dengan orang yang masih kuat iri hati-nya seperti ini -yang kekotoran bathin-nya masih sangat pekat-, kita dibuat serba salah. Kalau kita lebih rendah, dia akan menghina. Kalau kita sederajat, dia akan bersaing. Kalau kita lebih tinggi dia akan iri hati. Semua tindakan atau posisi kita menjadi serba salah. Sehingga hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah diam sempurna.

MENGELOLA IRI HATI / DENGKI UNTUK STANDAR ORANG BIASA

1. RASA IRI HATI ITU DILAWAN. Caranya macam-macam, misalnya rasa iri hati itu diperangi dengan ajaran agama, atau diperangi dengan takut hukum karma. Kalau cocok silahkan gunakan cara ini. Akan tetapi seringkali cara ini kurang efektif, karena cara ini menciptakan konflik baru di dalam bathin kita.

2. RASA IRI HATI ITU DIKELOLA. Pahami iri hati itu sebagai sejenis energi. Misalnya laksana api. Energi ini tergantung kita, bisa memakainya atau tidak. Di tangan orang yang pintar memasak, api itu berguna membuat beras menjadi nasi, sayuran jadi capcai. Tapi di tangan anak-anak yang tidak tahu bagaimana menggunakan api, api bisa berbahaya dan membuat rumah jadi terbakar. Nah, dalam hal ini juga sama, sekarang tergantung bagaimana kita menggunakan iri itu sebagai energi di waktu dan tempat yang tepat.

Mengapa ada orang iri hati ? Orang yang iri, dengki, itu di dalam dirinya energi-nya tinggi atau bahkan berlebihan. Dia tidak punya media dan tempat untuk mengekspresikannya. Ini seperti pisau di dapur, kalau kita bisa memakainya, dia berguna untuk memotong bawang dan bahan masakan lainnya. Tapi kalau kita tidak bisa memakai, bisa jadi berbahaya dan orang lain kita tusuk. Sehingga salurkanlah energi ini. Kemana disalurkan ? Gunakan energi iri hati ini untuk hal yang baik. Misalnya : iri sama tetangga yang kaya, jangan fokus sama tetangga itu. Sekarang belajar yang keras, bekerja yang keras, biar kita bisa sama kaya-nya dengan dia. Iri sama rekan kerja yang sukses, jangan fokus sama rekan kerja itu, belajar yang keras, bekerja yang keras, kelak waktu yang akan membawa kita sama suksesnya dengan dia, dll.

Lebih mulia lagi kalau kita bisa menggunakan energi berlebihan ini ke arah yang terang. Misalnya : kerja sosial, membantu orang lain, ngayah di pura, dll. Itu cara menggunakan energi iri biar positif, biar dia tersalurkan gunakan ke arah yang tepat dan berguna.

Selamat datang di jalan dharma yang sesungguhnya.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Syarat Seorang Pemimpin Dalam Hindu


Jro Mangku Sudiada- Dalam Nawa Natya digambarkan adanya sembilan syarat bagi seseorang yang dapat dipilih sebagai pemimpin pembantu raja.

Image: Ilustrasi @2018 Bedugul Bali

Sembilan syarat yang disebut Nawa Natya adalah:

  1. Pradnya widagda, artinya bijaksana dan mahir dalam berbagai ilmu pengetahuan. Orang yang mampu menjadikan ilmu sebagai alat untuk memperkuat diri dan mampu menjadikan dirinya seorang bijaksana inilah yang disebut pradnya widagda.
  2. Parama artha, artinya orang yang memiliki cita-cita mulia dalam hidupnya, adalah orang yang dalam mencari sumber hidup dan kehidupan melalui bhakti pada Tuhan dan mengabdi pada sesama dengan penuh cinta kasih. Dari bhakti-nya pada Tuhan dan pengabdiannya pada sesama itulah mereka mendapatkan sumber hidup dan kehidupan.
  3. Wira sarwa yudha, artinya pemberani dalam menghadapi pertempuran, baik dalam keadaan perang ikut berperang maupun dalam keadaan damai tidak takut menghadapi masalah yang terjadi dalam melakukan tugas-tugas kepemimpinan. Pemimpin itu jangan lari dari persoalan yang dihadapi dalam pekerjaannya. Setiap persoalan yang timbul hendaknya diselesaikan secara baik atau berbadasarkan kebenaran dan menuju kebenaran.
  4. Dirotsaha, artinya teguh dan tekun dalam berupaya. Dirotsaha berasal dari kata dira artinya teguh atau tekun dan utsaha artinya berupaya. Keteguhan dan ketekunan itu bukanlah suatu keangkuhan, namun didasarkan pada kuatnya rasa bhakti pada Tuhan dan disertai dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberikan petunjuk pada mereka yang teguh dan tekun berusaha untuk menemukan kebenaran.
  5. Pragi wakya, artinya pandai menyusun kata-kata dalam pembicaraan. Salah satu tugas seorang pemimpin adalah menyampaikan buah pikirannya dalam suatu pembicaraan dengan pihak lain secara jelas, lugas, tepat dan teliti. Pragi wakya akan diperoleh melalui kegemaran membaca dan latihan-latihan berbicara.
  6. Sama upaya, artinya taat pada janji. Janji adalah mahkota yang menentukan wibawa seorang pemimpin. Karena itu, pemimpin tidak boleh sembarang berjanji.. Kepercayaan adalah napas bagi seorang pemimpin.
  7. Lagha wangartha, artinya orang yang tidak memiliki pamrih pribadi yang sempit, karena keyakinan nya sangat mendalam tentang kebenaran ajaran karma phala. Karena hanya perbuatan yang baiklah yang akan memberikan hasil yang baik. Oleh karena itu, berkonsentrasilah untuk selalu berbuat yang baik sesuai dengan swadharma.
  8. Wruh ring sarwa bhastra, artinya tahu mengatasi kerusuhan, mirip dengan ilmu “manajemen krisis” dewasa ini. Seorang pemimpin harus sudah memperhitungkan semua kemungkinan tersebut dan harus sudah memiliki berbagai upaya dan konsep pencegahannya.
  9. Wiweka, artinya kemampuan untuk dapat membeda-bedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang tepat dan mana yang kurang tepat. Juga mampu mengambil sikap mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting, dan seterusnya. Hal ini tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca buku saja, namun harus dilakukan melalui latihan-latihan yang tekun dalam masyarakat di samping itu harus juga ada bakat.

Catur Asrama


Catur Asrama berasal dari kata catur yang berarti 4(empat) dan asrama berarti tingkatan/jenjang kehidupan. Jadi pengertian Catur Asrama adalah 4(empat) jenjang kehidupan yang wajib dilaksanakan umat Hindu. Dalam tatanan kehidupan masyarakat Hindu, Setiap tingkatan kehidupan manusia di bedakan berdasarkan atas tugas dan kewajiban  dalam menjalani kehidupannya, namun terikat dalam satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Misalnya, perbedaan kewajiban antara orang tua dan anak.

Pembagian Catur Asrama sebagai berikut:

  1. Brahmacari [Asrama], adalah tingkatan/jenjang kehidupan pada masa menuntut ilmu. Pengertian sempitnya adalah masa belajar(TK,SD,SMP,SMA dan Perguruan Tinggi). Diawali dengan upacara Upanayana dan diakhiri dengan pengakuan dengan pemberian Samawartana/ Ijazah. Dalam kegiatan belajar mengajar ini siswa/ Snataka harus mengikuti segala peraturan yang telah ditetapkan bahkan kebiasaan untuk mengasramakan siswa sangat penting guna memperoleh ketenangan belajar serta mempermudah pengawasan. Brahmacari juga mengandung makna yaitu orang yang tidak terikat/ dapat mengendalikan nafsu keduniawian, terutama nafsu seksual. Segala tenaga dan pikirannya benar- benar diarahkan kepada kemantapan belajar, serta upaya pengembangan ketrampilan sebagai bekal hidupnya kelak.
  2. Grhasta [Asrama], adalah tingkat/jenjang kehidupan berumah tangga. Jenjang kehidupan ke-dua dalam Catur Asrama ini diawali dengan upacara yang disebut Wiwaha Samskara (Perkawinan) yang bermakna sebagai pengesahan secara agama dalam rangka kehidupan berumah tangga (melanjutkan keturunan, melaksanakan yadnya dan kehidupan sosial lainnya). Dimasa ini penggunaan Artha dan Kama sangat penting artinya dalam membina kehidupan keluarga yang harmonis dan manusiawi berdasarkan Dharma.
  3. Wanaprastha [Asrama], adalah tingkat/jenjang kehidupan, dimana pada masa ini umat Hindu diwajibkan untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian. Pada masa ini hidupnya diabdikan kepada pengamalan ajaran Dharma. Dalam masa ini kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, melainkan ia mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari.
  4. Sanyasin [Asrama] (bhiksuka), adalah tingkat/jenjang kehidupan, dimana pengaruh dunia sama sekali lepas. Mengabdikan diri pada nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar. Pada tingkatan ini, ini banyak dilakukan kunjungan (Dharma yatra, Tirtha yatra) ke tempat suci, di mana seluruh sisa hidupnya hanya diserahkan kepada Sang Pencipta untuk mencapai Moksa.