Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Info

Merayakan Nyepi dengan Khidmat


Image by: Info Denpasar

Sebagai umat Hindu kita harus menyadari dan mengerti bagaimana merayakan Nyepi dengan khidmat. Beberapa waktu lalu PHDI Bali mengeluarkan himbauan untuk tidak selfi pada saat Nyepi dan mengunggahnya ke media sosial seperti facebook, instagram, twitter dll. Himbauan ini tentu bukan tanpa alasan dari tahun ke tahun kita selalu mendapati perayaan Nyepi tidak sebagaimana mestinya. Adanya pelecehan terhadap Hari Raya Nyepi bukan tidak mungkin disebabkan kita sebagai umat Hindu tidak mengerti bagaimana seharusnya Nyepi dilaksanakan.

Nyepi yang merupakan perayaan suci agama Hindu dan sekaligus Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistem kalender Hindu Nusantara, yaitu di saat Uttarayana (hari pertama matahari dari katulistiwa menuju ke garis peredaran di lintang utara), merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama nyepi artinya membuat suasana hening, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati agni), tidak keluar rumah (amati lelungan), dan tanpa hiburan (amati lelanguan), yang dikenal dengan istilah Catur Brata Penyepian.

Selama meyambut hari raya nyepi, berbagai kegiatan yang di lakukan masyarakat untuk mempersipakan segala sesuatu, baik sarana maupun prasarana dalam proses upacara nanti seperti Tawur Agung Kesanga yang dilakukan sehari sebelun perayaan nyepi keesokan harinya. Upacara ini dilakukan tentu saja untuk persembahan manusia kepada para Bhuta Yadnya agar terjadi keseimbagan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan erat antara manusia dengan alam sekitar (palemahan). Namun terkadang acara tersebut dipandang sebelah mata hanya dipersepsikan sebagai formalitas dan pelengkap hari raya nyepi. Hal tersebut bisa kita amati khususnya di Bali yang kental akan berbagai jenis upacaranya (ritualnya).

Selain itu hiruk-pikuk dalam perayaan nyepi sering sekali terjadi kejanggalan dan ketidak sesuain dengan konteks hari rayanya. Banyak masyarakat (Bali-Hindu) yang acuh tak acuh, merayakannya penuh dengan kemewahan, berpesta poria, minum-minuman keras di setiap gang-gang perumahan maupun balebanjar atupun wantilan dan yang sangat memprihatinkan sekali yaitu bahkan ada masyakat yang memanfaatkan moment ini (nyepi) untuk berjudi, karna hari ini merupakan hari libur nasionl yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat(Bali-Hindu) menggunakan waktu senggang ini untuk bersenang-senang. Sangat lucu dan sekaligus mengherankan. Perayaan suci (nyepi) yang sangat disakralkan dan di hormati disambut dengan penuh kegemerlapan duniawi yang tak habis-habisnya sepanjang tahun. Kemungkinan banyak umat non Hindu di luar sana yang mengetahuinya dan berfikir, kenapa bisa seorang masyarakat Bali-Hindu yang taat dan disiplin akan ritual keagamaaan bisa-bisanya menyambut hari rayanya sendiri penuh dengan foya-foya dan bersenang-senang dengan berbagai kegiatan hiburan ?

Memang tidak bisa dipungkiri arus pariwisata global telah mengubah pola pikir dan karakter masyarakat. Tentu saja disini mereka tidak bisa menahan diri dalam arus materi yang diorientasikan demi untuk mencukupi kebutuhan hidup yang semakin kompleks dan menggila. Terlebih dari sektor itu berdampak signifikan dalam merusak alam Bali yang menjunjung tinggi ajaran Tri Hita Karana. Bali yang sekarang bukanlah Bali yang dikenal seperti dahulunya. Bangunan yang super megah dengan ketinggian yang melebihi peraturan yang diberikan telah di langgar dan sekaligus disepakati dengan jalan damai(kompromi), tanpa memperhitungkan dampak dari apa yang telah di sepakatinya tersebut. Semuanya itu hanyalah keteledoran manusianya sendiri, mau terjebak dalam dunia fana yang penuh dengan sajian keduniawiaan.

Sungguh ironis sekali, ketika ketidakberdayaan manusia dalam menahan hawa nafsu(kama) maka terjerumuslah ia dalam lembah muara keterpurakan yang meyesatkan. Tanpa menyadari ia sejatinya hanyalah manusia biasa yang merupakan ciptaan Tuhan yang penuh dengan kelemahan. Dalam hakikatnya menyambut perayaan agama seperti perayaan nyepi yang merupakan hari raya yang dijunjung tinggi umat Hindu-Bali sebenarnya harus dihormati dan di sambut dengan penuh kedamaian, keheningan, intropeksi diri dan menyelami sambil mempelajari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sebelumnya bukan meyambut dengan berbagai pesta poria yang penuh dengan kenikmatan duniawi. Karna waktu kehidupan bagi manusia sangat terbatas.

Entah kapan waktu akan mengakhiri kehidupan manusia dan dunia ini. Sebelum jatuh dan jauh dari penyesalan marilah sebagai masyarakat Hindu Bali khususnya, meyambut perayaan nyepi dengan penuh hikmat betul-betul menyadarkan diri sendiri dengan keyakinan yang kuat, meskipun belum bisa sepenuhnya melakukan catur brata penyepian, dengan tahap demi tahap serta proses pembelajaran bukan tidak mungkin hal itu dapat kita capai, demi mencapai kesejahteran hidup lahir maupun batin.

Terima kasih kepada : Info Denpasar, Gazez Bali

PURA MERU MATARAM


Image by: TripAdvisor

Pura Meru terletak di Wilayah Kelurahan Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kotamadya Mataram. Letaknya bersebrangan jalan dengan kompleks Taman Mayura, karena antara keduanya merupakan satu kesatuan di dalam konsepsi tata letak pusat pemerintahan kerajaan Cakranegara pada waktu itu. Pura Meru terletak di sebelah selatan jalan, sedangkan Taman Mayura di sebelah utara jalan. Antara keduanya mempunyai keterkaitan fungsi serta hubungan histori. Lokasi Pura Meru ini berjarak 2 km dari Mataram.

Sejarah Pura Meru
Pada masa pemerintahan raja Karangasem ke IV, yang di perintah oleh tiga orang bersaudara yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem telah berhasil meluaskan kekuasaan ke pulau Lombok pada tahun 1691. De Graaf berpendapat bahwa jatuhnya kerajaan Gelgel hampir bersamaan dengan bangkitnya kerajaan Karangasem Bali dan dikuasainya pulau Lombok. Situasi politik di pulau Lombok pada saat itu juga memberikan peluang besar kepada kerajaan Karangasem di Bali untuk menanamkan kekuasaannya di pulau ini.

Hubungan politik antara Bali dan Lombok di lanjutkan oleh kerajaan Karangasem di Bali dengan dua kerajaan besar yang ada di pulau Lombok pada abad XVII, yaitu kerajaan Selaparang di Lombok Timur sebagai kerajaan Pesisir, dan kerajaan Pejanggih di Lombok Tengah sebagai kerajaan Pedalaman. Hubungan ini dimulai ketika kedua kerajaan tersebut, menjalani kekacauan sehingga situasi itu dimanfaatkan oleh kerajaan Karangasem di Bali untuk mengadakan intervensi.

Pada wilayah kekuasaan kerajaan Karangasem Bali di pulau Lombok bagian barat, telah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan kecil di bawah penguasa-penguasa bangsawan Karangasem Bali. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut antara lain : kerajaan Pagesangan, kerajaan Kediri, kerajaan Sengkongo`, kerajaan Pagutan, kerajaan Mataram, dan kerajaan Singasari. Setelah adanya penaklukan terhadap pulau Lombok pada tahun 1691 sampai tahun 1740, di lokasi kerajaan yang dahulunya disebut Singasari inilah diganti namanya menjadi kerajaan Karangasem Sasak, dan kerajaan ini akan menjadi cikal bakal kerajaan Cakranegara. Pada tahun 1740 itu diperkirakan seluruh Lombok sudah dapat di kuasai oleh kerajaan karangasem Bali. Pendapat ini diperkuat oleh suatu informasi yang menyebutkan bahwa di beberapa daerah seperti Pejanggik, Purwa, dan Langko diharuskan membayar upeti dengan uang, daerah Sokong dan Bayan di kenakan upeti kapas, sedangkan daearah Praya, dan Batu Kliang di kenakan upeti darah (upeti getih) yaitu tidak membayar upeti dalam bentuk material melainkan apabila terjadi perang mereka harus membantu. Hal tersebut diperkirakan sudah berlangsung sejak tahun 1740. Di bawah pemerintahan Karangasem Bali, kekuatan politik bukan lagi berada di Lombok Timur, melainkan di pusatkan di Lombok Barat. Pada tahun 1741 raja Karangasem Bali menempatkan seorang penguasa I Gusti Wayan Tegeh yang berkedudukan di Tanjungkarang (sebelah selatan Ampenan sekarang atau berada disebelah barat kerajaan Pagesangan). Pada masa pemerintahannya ia berhasil memperkuat kedudukan Karangasem Sasak di pulau Lombok. di bawah perlindungan kerajaan Karangasem Bali, ia melakukan kegiatan dalam bidang perpajakan dan perdagangan. Setelah ia meninggal pada tahun 1775, ia digantikan oleh kedua putranya, yaitu I Gusti Made Karang yang di sebut dengan nama I Gusti Ngurah Made berdiam di Tanjungkarang, dan I Gusti Ketut Karang bertempat tinggal di Pagesangan. Kematian I Wayan Tegeh ternyata menimbulkan perpecahan, karena pengganti-penggantinya itu saling berebut kekuasaan. Konflik ini masih berlangsung sampai permulaan abad XIX dan bersamaan dengan munculnya dua kerajaan kecil lainnya yaitu kerajaan Sakra di Lombok Timur, dan kerajaan Kopang ada di Lombok Tengah.

Sejak meninggalnya I Gusti Wayan Tegeh pada tahun 1775, Tanjungkarang tidak lagi memegang peranan penting dan digantikan oleh munculnya kerajaan Karangasem sasak yang sejak tahun 1720 telah berada di bawah pemerintahan I Gusti Anglurah Made Karangasem, Dewata di Pesaren Anyar Bali. Tidak banyak yang dapat di ketahui tentang kegiatannya, namun dalam struktur pemerintahan kerajaan Karangasem Sasak di Lombok ia menempati status yang paling tinggi yaitu sebagai wakil (koordinator) kerajaan Karangasem di pulau Bali. pada saat itu raja Mataram berstatus sebagai Patih, sedangkan raja-raja kecil lainnya seperti kerajaan Pagutan, Pagesangan, Sengkongo`, dan kerajaan Kediri memiliki status sebagai manca. Semua penguasa di masing-masing kerajaan itu masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan diantara mereka, maka pada tahun 1720 kerajaan Karangasem Sasak di Lombok membangun sebuah pura yang megah sebagai tempat persembahyangan, yaitu pura Meru di Cakranegara Lombok.

Dibangun pada tahun 1720 oleh I Gusti Anglurah Made Karangasem, Pura Meru didedikasikan untuk 3 dewa utama umat Hindu (Dewa Brahma, Dewa Siwa, dan Dewa Wisnu). Ketiga Meru tersebut juga mewakili tiga gunung yang dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu; Pura Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Pura Siwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Pura Wisnu yang diwakili oleh Gunung Semeru di Jawa Timur. Soal bentuk, hanya Pura Siwa yang memiliki atap susun 11, sedangkan Pura Wisnu dan Pura Brahma memiliki atap susun berjumlah 9. “Meru” merupakan singkatan dari Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur. Anak Agung yang masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Singosari dari daerah Jawa Timur tidak melupakan bahwa Gunung Semeru juga merupakan gunung yang dianggap suci oleh leluhurnya. Maka dari itu, pura tersebut mengambil nama Gunung Semeru yang dipersingkat menjadi Pura Meru. Ketiga Meru tersebut juga memiliki arti simbol warna yang bermakna. Pada perayaan piodalan (acara untuk mengingat lahir kembalinya pura), setiap pura akan dihiasi dengan kain yang disesuaikan dengan warna yang berbeda. Pura Brahma akan dihiasi dengan warna merah yang berarti api, simbol kematian umat Hindu yang dikremasi menggunakan api. Pura Siwa menggunakan kain berwarna putih yang merupakan simbol air untuk mensucikan abu hasil kremasi sebelum dibuang ke laut. Sementara, Pura Wishnu akan dihiasi dengan kain hitam yang melambangkan kegelapan atau kehidupan baru setelah kematian.

Fungsi dari Pura Meru
Pura Meru berfungsi sebagai tempat persembahyangan bagi pemeluk agama Hindu Dharma. Di samping sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan, bila dilihat dari latar belakang dibangunnya pura ini, secara politis berfungsi sebagai sarana pemersatu bagi orang-orang Bali yang ada di Lombok, terutama dalam hal menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Karena pada waktu itu di Lombok terdapat beberapa buah kerajaan kecil dari penguasa Bali.
Di Pura Meru ini, dalam waktu satu tahun sekali diadakan upacara pujawali atau usadha, yaitu upacara besar pada bulan purnama bulan ke-4 menurut perhitungan kalender Bali, biasanya jatuh pada bulan September-Oktober kalender Masehi. Pada hari itu semua banjar atau kampung sebanyak 29 kampung membawa alat dari pura pemaksan masing-masing, datang ke Pura Meru kemudian melakukan upacara pujawali dan menghias sanggar masing-masing. Untuk tiga bangunan Meru, sesajen dibuat oleh Panitia Pura (dahuluu dilaksanakan oleh istana). Upacara pujawali biasanya dimulai didahului dengan upacara pembersihan dari pikolannya (disebut jempana) secara simbolis, hal ini disebut penyucian atau melasti. Upacara pembersihan ini dilakukan di pancuran air yang terletak di Pura Kelepug, Taman Mayura. Disini tampak jelas keterkaitan fungsi antara Pura Meru dengan Taman Mayura. Pada Sore harinya, barulah diadakan upacara pujawali yang secara keseluruhan memerlukan waktu tiga hari maka segala alat sanggah itu dibawa ke kampung, ke pemaksan masing-masing.

Filosofi Atap Pura Meru
Keindahan dan keagungan meru ditonjolkan oleh bentuk atapnya yang bertingkat tingkat yang disebut atap tumpang. Ini dapat dibedakan atas meru tumpang satu, dua, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas. Meru sebagai perlambang atau simbolis alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbolis tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos) dari bawah ke atas sebanyak sebelas tingkatan. Tingkatan tersebut yaitu :
1 = Sekala
2 = Niskala
3 = Cunya
4 = Taya
5 = Nirbana
6 = Moksa
7 = Suksmataya
8 = Turnyanta
9 = Ghoryanta
10 = Acintyataya, dan
11 =Cayen.
Ada juga meru beratap 21, namun biasanya ini dapat dilihat pada wadah atau bade pada saat ada upacara ngaben di Bali. Meru “khusus” ini memiliki pengertian Dasa Dewata sebagai dasar pokok, kemudian ditambah 11 tangga atma sebagai kelanjutannya. Tingkatan-tingkatan atap meru adalah simbolisasi penyatuan dasa aksara (huruf suci) sebagai urip (jiwa) dari meru atau alam semesta. Sepuluh huruf suci ini merupakan urip bhuana yang letaknya di 10 penjuru alam semesta termasuk di tengah. Ke-10 huruf itu adalah huruf suci sa (letaknya di timur, dewanya Iswara dan warnanya putih), ba (selatan, Brahma, merah), ta (barat, Mahadewa, kuning) a (utara, Wisnu, hitam), i (tengah, Ciwa, campuran atau panca warna), na (tenggara, Mahesora, merah muda atau dadu), ma (barat daya, Rudra, jingga), si (barat laut, Sangkara, hijau), wa (timur laut, Sambu, biru) dan ya (tengah atas, Ciwa, panca warna). Penunggalan 10 huruf itu menjadi satu lambang aksara suci bagi umat Hindu yaitu Omkara (huruf suci Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan pengejawatahan ke-10 huruf suci dan huruf suci Omkara dalam meru diuraikan sbb.:

  1.  Meru beratap 11 adalah lambang dari 11 huruf suci — 10 huruf suci + huruf suci Omkara sebagai lambang Eka Dasa Dewata.
  2. Meru beratap 9 adalah lambang 8 huruf di seluruh penjuru (sa, ba, ta, a, na, ma, si, wa) + satu huruf Omkara di tengah, 9 huruf itu lambang Dewata Nawa Sanga.
  3. Meru beratap 7 adalah lambang 4 huruf (sa, ba, ta, a) + 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya). Ini lambang Sapta Dewata/Rsi.
  4. Meru beratap 5 adalah simbolis dari 5 huruf (sa, ba, ta, a) + satu huruf Omkara di tengah. Ini lambang Panca Dewata.
  5. Meru beratap 3 adalah simbolis dari 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya), merupakan lambang Tri Purusa yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.
  6. Meru beratap 2 adalah simbolis dari dua huruf di tengah (i, ya) adalah lambang dari Purusa dan Pradhana (Ibu-Bapak).
  7. Meru beratap satu adalah simbolis dari penunggalan ke-10 huruf suci itu yaitu “Om” atau Omkara sebagai perlambang Sang Hyang Tunggal (Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa).

Pacaran Dalam Agama Hindu


Ada yang lagi jatuh cinta? tapi takut ? takut melakukan kesalahan? mungkin pertanyaannya apakah boleh pacaran dalam agama Hindu?. Pertama kali saya merasa suka dengan teman wanita saat itu baru SMP haha. Orang bilang itu cinta monyet, tidak yakin apa maksudnya wong saya bukan keturunan monyet. Apa rasanya jatuh cinta saat umur masih belum nyampe hehe? Semua tentu yang senang-senang rasanya. Berangkat sekolah selalu semangat, giliran pulang sekolah ingin rasanya agar ada les tambahan biar bisa lama-lama sama “gebetan”. Saya tidak berpikir referensi kitab, apalagi berpikir neraka karena pacaran.

Image by: Kompas Life Style

Sampai sekarang, saya belum menemukan rujukan boleh tidaknya pacaran dalam agama Hindu. Maksudnya, sloka (ayat) yang melarang pacaran belum saya temukan. Kalau mengikuti logika KUHAP, sebuah tindakan tidak bisa dinyatakan bersalah kecuali ada undang-undang yang menyatakan tindakan tersebut salah. Artinya, pacaran boleh. Tapi tentu ada batasannya. Melakukan hubungan sex tidak boleh, pacaran untuk mengumbar kama (nafsu) tidak boleh. Sama seperti minum alkohol. Minum boleh, mabuk dilarang. Jadi pastikan tindakannya terukur, niatnya positif, motifnya untuk tujuan kebaikan.

Pacaran adalah proses untuk saling mengenal, mengasah cinta dan menjalani ujian-ujian kesetiaan. Bahkan Rama tergetar hatinya ketika pertama kali memandang Sita, di pertapaan Maharsi Wiswamitra. Cintanya terus tumbuh dan terpelihara, hingga Rama resmi memperistri Sita setelah ia mematahkan busur Dewa Siwa dalam sayembara yang dilaksanakan Prabu Janaka, ayahanda Sita, di negeri Mantili. Tak ada kisah Rama berusaha membunuh benih cintanya karena merasa berdosa. Di itihasa yang lain, Vasudewa Krisna justru sengaja minta bantuan Arjuna untuk mengantar dan menjaga adik tercintanya, Subadra. Sebagai penguasa waktu, tentu Vasudewa Krisna tahu persis bahwa dimasa depan, Subadra akan menjadi istri Arjuna untuk menjaga kelangsungan keturunan bangsa Bharata. Vasudewa justru memberi jalan bagi tumbuhnya cinta diantara adiknya dan Arjuna jauh sebelum pernikahan mereka digelar. Tentu, jaman itu tidak dikenal pacaran seperti saat ini

Lalu, apa yang perlu diperhatikan saat pacaran ? Nah, ini yang penting. Sebagai agama spiritual, ajaran Hindu hampir tidak pernah melarang secara dogmatis. Yang diajarkan justru etika2 dan pengertian2. Bukan paksaan tapi pencerahan. Dalam hal pacaran, yang ditekankan adalah niatnya dan prosesnya. Niatnya harus baik, untuk saling mengenal dan menumbuhkan cinta. Prosesnya harus baik, dijaga dari jebakan gelora nafsu (kama). Nafsu (kama) adalah ibarat kuda2 yang menarik kereta (badan) agar bergerak mencapai tujuan. Tak cukup kuda-kuda dan kereta, dibutuhkan sais (kusir) yang bijak dan berpengetahuan seperti Vasudewa Krisna agar dapat memenangkan pertempuran di Medan Kurusetra kehidupan. Kusir inilah kuncinya.

Dan ajaran Hindu memberi banyak sekali tuntunan agar kita menjadi kusir yang bijak atas tarikan kama (nafsu). Berikut adalah beberapa Sloka untuk menjadi pribadi yang teguh dan bijaksana:

Manavadharmasastra IV.44:

Nanjayantiṁ svake netre nā cabhyaktamanavṛtaṁ, nā prayet prasavanti ca tejaśkamo dvijottamaḥ

Artinya: Seseorang yang menginginkan keteguhan hati hendaknya tidak memandang wanita yang sedang bersolek, atau yang telah bersolek dengan menelanjangkan badannya, dan juga jangan melihat wanita yang sedang melahirkan. 

Manavadharmasastra.XI.2:

Patiṁ ya na bhicarati māṇo vagdena sangyati sa bhartṛlokaṁ apnoti sadbhiḥ sadviticocyate.

Artinya: Mereka yang selalu mengendalikan pikiran, perkataan dan tubuhnya, tidak menyalahgunakan kehormatanya, akan mendapat tempat mulia, dan dialah disebut budiman/sadhu.

Manavadharmasastra. VIII.357

Upācarakriya kelih, sparco bhusaṇa vasasan, saha khatvasanaṁ caiva sarvam saṁgrahanam smṛiam.

Artinya: Memberikan sesuatu yang merangsang wanita (yang bukan istrinya), bercanda cabul denganya, memegang busana dan hiasannya, serta duduk di tempat tidur dengannya adalah perbuatan yang harus dianggap sama dengan berzinah. 

Manavadharmasastra. VIII.358

Ṣṭriyam sprceda dece yah sprsto va marsayettaya parasparasyanumate sarvam saṁgrahanam smṛtam

Artinya: Bila seseorang menyentuh wanita (yang bukan istrinya) pada bagian yang terlarang, atau membiarkan menyentuh bagian itu, walaupun semua perbuatan itu dilakukan dengan persetujuan bersama, haruslah dianggap berzinah. 

Pacaran adalah proses yang baik dan indah. Jauh hari sebelum mereka menikah, Arjuna telah menempuh perjalanan berdua dari Hastina ke Dwaraka bersama Subadra atas perintah Vasudewa Krisna. Bila sang pemilik kehidupan mengijinkan, maka tidaklah perlu kita terlalu fanatik melarangnya. Tapi yang penting, ingat jaga niatnya, dan jaga batasannya. Dalam hidup, bahkan mawar yang indah selalu ada durinya. Nikmati keindahannya, waspadai durinya. Itulah cara menikmati hidup, agar hidupmu tak hanya benar dan baik (satyam dan sivam), tapi juga indah (sundaram). Kehidupan yang indah, yang penuh cinta, yang bahagia, adalah salah satu tujuan beragama, disebut Jagadhita. Dan bila dicapai berdasarkan prinsip – prinsip dharma, maka itu adalah tangga terbaik menuju pembebasan (moksha).

Terima kasih: Ketut Budiarsa

Artikel Lainnya: Tentang Cinta:

  1. Sanghyang Semara Ratih
  2. Valentine dan Ajaran Hindu
  3. Valentine dalam pandangan Hindu