Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Info

Sejarah Pura Eka Wira Anantha Serang Banten


Jika kebetulan ada di Serang Banten, Jawa Barat jangan lupa untuk muspa di Pura Eka Wira Anantha. Pura ini berada di Kesatrian Gatot Subroto Grup I Kopassus, Taman Serang Provonsi Banten ini sangat mudah dijangkau dari Jakarta. Lokasi pura tidak jauh dari Jalan Tol Jakarta Merak, tepatnya setelah keluar pintu tol Serang Barat kira-kira 100 meter terdapat persimpangan, kekiri menuju kota Serang dan kekanan Cilegon. Ambil jalan lurus atau masuk Gerbang Kesatrian Gatot Subroto (Komplek Kopassus). Pura ini bisa dibilang sangat luas yakni 55×109 meter pembangunannya diawali pada tahun 1984 dimana jumlah umat Hindu saat itu masih sedikit yang berdomisili tersebar dibeberapa wilayah seperti Cilegon, Serang, Pandeglang dan Rangkas Bitung.

Image by: Kemenag Banten

Dengan semangat yang tinggi dan atas suecan Hyang Widhi pembangunan tahap pertama berjalan dengan baik. Mulai dari perijinan lahan, pembangunan Utama mandala (Bale Gong), Madya Mandala (Bale Banjar, Bangunan Penunggu Pura). Tepat pada Purnaming Kapat, bulan November 1989 dilakukan upacara Pemelaspas Alit, dengan pemuput karya Ida Pendanda Istri Keniten (Griya Kebon Jeruk Jakarta Barat). Sebagai penasehat Ida Bagus Sujana dan Ida Ayu Biang Sari (Griya Kelapa Dua, Jakarta Timur).

Pembangunan tahap berikutnya (1990-1995) pada Utama Mandala meliputi pembangunan Gedong, Bale Pawedan Pelataran tempat persembahyangan, dan Asogan tempat sesajen. Mandya Mandala: pembangnan Kuri Agung dan Apit Surang, pembetonan jalan area Madya mandala. Nista Mandala : mencakup penyediaan air bersih dan penerangan (listrik) untuk seluruh area pura.

Pembangunan Tahap III

Fokus pembangunan tahap ini meliputi pembangunan Bale Pelik (Utama Mandala), pembangunan Bale Kulkul, pembangunan Sekolah Agama (SD, SLTP, SLTA), dan ruang Perpustakaan (Madya Mandala). Pada bagian Nista Mandala dibangun panggung terbuka, ruang tunggu, kamar-kamar peturasan, Kantin dan Kafetaria. Renovasi mencakup Padmasana, Pelinggih Ngurah dan Taksu. Beji areaya diperluas menjadi Taman Sari, pembuatan sumur, system penerangan diremajakan demikian juga area lainnya termasuk pagar keliling yang semula dari besi diganti dengan tembok termasuk bangunan-bangunan lainnya.

Pura Eka Wira Anantha diresmikan pada tanggal 18 Oktober 1999 oleh Dan Jen Kopassus Bapak May Jen Syahrir MS, dengan penandatanganan prasasti diatas batu fosil yang ditatangkan dari KLaupaten Lebak, Rangkas Bitung. Upacara Ngeteg Linggih Pura Eka Wira Anantha dilaksanakan pada Purnamaning Kapat, Senin Coma Pon Wuku Shinta tanggal 25 Oktober 1999. Pemuput Karya : Ratu Pedanda (siwa) istri Pidada Keniten (Griya Kebon Jeruk, Jakarta Barat dan Ida Pedanda (Budha) Gde Nyoman Jelantik Oka (Griya Cimanggu, Bogor Jawa Barat).

Para Pinandita Pura Eka Wira Anantha :
1. Pinandita Made Sudiada (Griya Serdang, Cilegon)
2. Pinandita lanang Istri Gde Jata (Bhayangkara, Serang)
3. Pinandita Lanang Istri A.A. Gde Raka Sutardhana (Cilegon)
4. Pinandita Nyoman Artawan (Kramat Watu, Serang).

Pura Eka Wira Anantha Serang merupakan Pura Jagatnatha. Terdiri dari Trimandala (Bhur, Bwuah, Swah). Perhiyangan, pelemahan, pawongan.

Pelinggih utama adalah Padmasana & Pengaruman/Pepelik Pelinggih berikutnya adalah Taksu agung Pelinggih berikutnya Pengerurah. Bangunan yang lainnya adalah Bale Pewedaan & Bale penyimpanan. di Utamaning Mandala juga yang dibatasi oleh Tembok pemisah, memiliki taman sari / Beji yang dihiasi dengan kolam dan air mancur beserta relief sekedarnya.

Madya mandala terdiri dari bale gong & lelambatan, serta Bale kulkul serta pelinggih apitlawang Dwepara didepan Candi Gelung. Dapur suci & Lumbung suci terletak di Mandala puniki.

Kanista Mandala.

Terdiri dari Bale – banjar, Dapur, serta ruang ganti bagi para pemedek yang tak sempat berganti pakaian. Di kanista mandala juga dibangun sebuah pesraman yang cukup besar terdiri dari lima kelas & masing masing kelas menampung sekitar 40 murid.

Pura ini memiliki tempat parkir dengan kapasitas lebih dari 100 kedaraan pribadi.

Terima kasih: Kemenag Banten dan www.pasramanganesha.sch.id

 

Pura Luhur Poten Bromo


Jika kebetulan melancong ke Gunung Bromo Probolinggo jangan lupa untuk sembahyang ke Pura Luhur Poten Bromo. Pura ini memiliki pesona yang memikat bagi pengunjung Gunung Bromo. Hamparan lautan pasir yang begitu luas dengan Gunung Batok yang tinggi menjulang, Gunung Bromo yang indah, dan dikelilingi pegunungan dan perbukitan, menjadi pesona luar biasa di Gunung Bromo, yang berada di kawasan Tengger, Jawa Timur. Di tengah lautan pasir tersebut, berdiri sebuah Pura Luhur Poten yang menjadi tempat beristananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipuja oleh umat Hindu.  Pura ini menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu.

Image by: Travelifetrips.Net.tc

Pura Luhur Poten berdiri tahun 2000. Pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma), yang menjadi manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta. Nama Bromo sendiri diambil dari nama Dewa Brohmo.

Pura Luhur Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga mandala/zone. Masing-masing Mandala Utama yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang di dalamnya sebuah Padma (tempat pemujaan), Mandala Madya (tengah) sebagai tempat persiapan dan pengiring upacara persembahyangan, Mandala Nista (depan) yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura.

Tiap mandala/zona memiliki bangunan candi bentar yang menjadi pintu masuk dengan arsitektur jawa dan bali. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker dengan
kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya.

Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Matahari mulai memperlihatkan kekuatan sinarnya. Hembusan angin menerbangkan debu-debu pasir yang terhampar luas. Saat itu, waktu masih menunjukkan pukul 08.00 WIB. Namun sinar matahari sudah terasa sangat terik. Suhu udara sekitar 35-38 derajat celcius.

Rombongan dari Rawamangun tiba dengan menumpangi lima mobil Hardtop. Debu-debu pasir bertebangan saat mobil-mobil tersebut memasuki kawasan Bromo, mirip seperti arena reli Paris-Dakar. Kacamata dan masker pun menjadi “pengaman” wajib pakai.

Meski di bawah terik sinar matahari yang menyengat disertai debu-debu pasir yang bertebangan, tak menyurutkan semangat peserta Tirta Yatra mengikuti setiap tahapan persembahyangan. Upacara yang dipimpin seorang Pinandita (orang suci Agama Hindu) pun berjalan dengan khusyuk.

Sampai di Sukapura, wisatawan/pengunjung yang ingin datang ke Bromo harus naik taxi Bromo atau disebut Bison (mobil ELF). Untuk diketahui, mobil besar atau bus tidak bisa naik ke kawasan Bromo karena medan jalannya yang sempit, berkelok, dan menanjak. Biaya sewa Bison antara 150-200 dengan kapasitas 15 orang.

Bison akan mengantar sampai di terminal di Desa Ngadas, yang sekaligus menjadi terminal terakhir untuk mobil pribadi, dengan waktu tempuh satu jam. Untuk menuju kawasan Bromo, wisatawan/pengunjung kembali berganti kendaraan. Kali ini harus naik mobil Hardtop yang banyak disewakan oleh penduduk lokal.

Mobil Hardtop yang bertarif Rp 300-350 akan mengantar wisatawan/pengunjung ke kawasan Bromo, dengan rute jalan yang lebih ekstrem lalu menembus lautan pasir. Tujuan wisata utama adalah Penanjakan I, yang menjadi tempat paling eksotik untuk menyaksikan matahari terbit (sunrise) dari balik pegunungan.

Tak heran, para wisatawan/pengunjung lebih banyak yang datang pada pagi-pagi buta untuk bisa melihat sunrise yang begitu indah. Tapi Anda harus menyiapkan baju tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan kaos kaki mengingat suhu udara yang sangat dingin.

Selanjutnya wisatawan/pengunjung bisa menikmati wisata di kawasan Gunung Bromo. Di sini kita bisa menyaksikan Gunung Bromo yang “berselimutkan” pasir-pasir. Warnanya putih kehitam-hitaman. Wisatawan/pengunjung bisa naik ke atas gunung yang sudah beberapa kali meletus ini dengan jalan kaki dan melewati tangga. Dari bibir puncak gunung, kita akan dimanjakan dengan pemandangan kawah belerang yang indah.

Untuk menjelajah hamparan pasir laut di Bromo, selain naik Hardtop, wisatawan/pengunjung siap diantar kuda-kuda yang disiapkan warga lokal. Sewanya hanya 50 ribu. Ada juga motor jenis trail.

Tak ketinggalan, kawasan Pura
Luhur Poten yang juga menjadi daya tarik wisatawan/pengunjung. Dengan arsitektur dan tempatnya yang strategis di kaki Gunung Bromo dan Gunung Batok, Pura Luhur Poten memberikan kesan keindahan dan suasana religius tersendiri.

Apalagi saat digelarnya upacara Yadnya Kasada, upacara kurban yang dilakukan umat Hindu Tengger pada malam ke-14 Bulan Kasada dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Brohmo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo.

Terima kasih: travelifetrips.net.tc, tribun dll.

Pertanian dalam Budaya Bali


Meski sudah memasuki zaman modern dengan peralatan pertanian yang canggih, sejumlah petani di Tabanan masih mengandalkan alat-alat pertanian tradisional. Pola tanamnya juga mengikuti tradisi yang diwariskan para leluhur, lengkap dengan rentetan ritualnya. Made Joni (50), salah seorang petani di wilayah Kecamatan Penebel, Tabanan mengakui, para petani di Tabanan masih eksis melakukan beragam upacara yang berkaitan dengan pertanian.

“Kami percaya melalui ritual pertanian ini akan diberikan kemudahan dan kelancaran mulai dari proses tanam hingga masa panen,” ujarnya. Beragam upacara pertanian tetap dilakukan, mulai dari upacara Mapag Toya, yaitu upacara menjemput air ke sumber mata air. Upacara ini biasanya diikuti oleh seluruh anggota subak dan dilakukan pada Sasih Ketiga atau sekitar bulan September. Selanjutnya, Kempelan, yaitu kegiatan membuka saluran air ke sumber aliran air di hulu subak, selanjutnya air mengaliri sawah (bulan September).

Kemudian upacara Ngendag Tanah Carik, yaitu upacara memohon keselamatan kepada Tuhan saat membajak tanah sawah dan dilakukan oleh masing-masing anggota subak. Prosesi ini masih dilaksanakan pada Sasih Ketiga (bulan September). Ngurit, yaitu upacara pembibitan yang dilakukan oleh semua anggota subak pada masing-masing tanah garapannya. Biasanya dilakukan pada Sasih Kelima (sekitar bulan November).

Lalu, upacara Ngerasakin, yaitu upacara membersihkan kotoran (leteh). Konom ketika melakukan pembajakan sawah ada leteh (kotor) dan prosesi ini dilakukan setelah pembajakan selesai di masing-masing tanah garapan pada awal Sasih Kepitu (awal bulan Januari). Upacara Pangawiwit, yaitu upacara mencari hari baik untuk mulai tanam padi yang juga dilakukan sekitar Sasih Kepitu.

Upacara Ngekambuhin, yaitu upacara meminta keselamatan anak padi yang baru tumbuh yang dilakukan pada saat padi berumur 42 hari pada Sasih Kewulu (bulan Februari). Upacara Pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Upacara ini juga dilakukan pada Sasih Kawulu. Upacara Penyepian, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi terhindar dari hama/penyakit dan dilakukan Sasih Kesanga sekitar bulan Maret.

Pangerestitian Nyegara Gunung, yaitu melaksanakan upacara nyegara gunung yang dilakukan di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan. Biasanya dilaksanakan di bulan Maret atau April. Kemudian, upacara Masaba, yaitu upacara sebelum panen yang dilakukan Sasih Kedasa oleh anggota subak di sawahnya masing-masing. Lalu, Ngadegang Batari Sri (Batara Nini), yaitu upacara secara simbolis memvisualisasikan beliau sebagai Lingga-Yoni. Upacara Nganyarin, yaitu upacara mulai panen yang dilakukan pada Sasih Sada (bulan Juni) oleh anggota subak pada masing-masing sawahnya. Baru akhirnya Manyi, yaitu kegiatan memanen padi di bulan Juli.

Tahapan-tahapan upacara tersebut tidak hanya hingga padi siap dipanen. Usai kegiatan panen padi pun para petani juga melakukan sejumlah ritual upacara seperti upacara Mantenin, yaitu upacara menaikkan padi ke lumbung atau upacara menyimpan padi di lumbung yang dilaksanakan pada Sasih Karo atu bulan Agustus. “Sebenarnya ini rutinitas dilakukan oleh petani di areal garapan mereka. Hanya mungkin tidak bersamaan,” ujar Made Joni.

Kegiatan bertani yang masih mempergunakan cara-cara tradisional seperti mencangkul, nampadin (membersihkan pematang sawah), membajak sawah, meratakan tanah sawah, bahkan kegiatan nandur atau tanam padi.

Sumber: Puspawati l Majalah Bali Post Edisi 105 Hal. 48