Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Memahami Sad Kerti untuk Keseimbangan Jagat


Sad Kerti berasal dari  “sad” yang artinya enam, dan “kerti” artinya: upaya menjaga kesucian atau keseimbangan. Sad Kerti berarti: enam upaya untuk menjaga kesucian dan keseimbangan dimana satu sama lain saling berkaitan. Sad Kerti terdiri dari: Jana Kerti, Jagat Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti dan Atma Kerti.

Jana Kerti, Jana Kerti berarti upaya untuk menegakkan kesucian atau keseimbangan diri kita sendiri. Secara sekala Jana Kerti kita laksanakan dengan catur sadhana : pikiran yang bebas dari dualitas, welas asih dan kebaikan tidak terbatas kepada semua mahluk, pikiran yang bebas dari Sad Ripu [enam kegelapan bathin] dan dengan melaksanakan svadharma [tugas-tugas kehidupan kita]. Lalu catur sadhana ini kita perkuat dengan berbagai jalan yoga, seperti meditasi, sembahyang, dll. Secara niskala Jana Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan Manusa Yadnya, misalnya dengan upakara “nyambutin” guna menyambut bayi yang baru lahir, upakara “nelu bulanin” untuk bayi yang baru berumur 105 hari, dengan melaksanakan otonan, melukat [ruwatan], dll. Tujuannya adalah menguatkan vibrasi energi positif pada diri kita sebagai manusia.

Image by: koleksi pribadi. Tirtha Empul Gianyar.

Jagat Kerti, upaya untuk menjaga kesucian atau keharmonisan hubungan antara semua mahluk. Secara sekala Jagat Kerti kita laksanakan dengan toleransi, saling menghormati, saling menolong dan menjaga keharmonisan hubungan sosial. Termasuk juga dengan menjaga habitat asli hewan-hewan liar, tidak mengganggu tempat-tempat yang tenget [angker], dll. Kita mulai dari lingkup paling kecil, yaitu keluarga dan rumah kita sendiri dahulu. Lalu kita luaskan menjadi tetangga dan lingkungan, kantor dan tempat kerja, dst-nya semakin meluas. Secara niskala Jagat Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan Bhuta Yadnya, yaitu yadnya yang diselenggarakan bagi sarwa bhuta, yaitu mahluk-mahluk niskala alam bawah, hewan, tumbuh-tumbuhan serta unsur-unsur alam raya beserta dinamika kekuatannya. Misalnya dengan menghaturkan segehan, mecaru, dll. Untuk menyomiakan kekuatan-kekuatan kegelapan sehingga menjadi damai dan harmonis.

Yoga

Samudera Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian pantai dan lautan. Secara sekala Samudera Kerti kita laksanakan dengan menjaga kebersihan-kelestarian pantai dan laut, serta berbagai sumber-sumber alam yang ada didalamnya. Karena lautan memegang peranan yang penting pada kehidupan di bumi ini. Secara niskala Samudera Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan pembersihan-penyucian lautan secara niskala, serta melestarikan pura-pura segara. Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada samudera.

Image by: raftingbali.net

Wana Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian hutan dan pegunungan. Dalam tata ruang kosmik Hindu ada tiga jenis hutan, yaitu : Maha Wana [hutan rimba yang masih asli dan belum tersentuh manusia], Tapa Wana [hutan suci tempat dimana para yogi membuat pusat pertapaan atau pesraman] dan Sri Wana [kawasan hutan yang dimanfaatkan sebagai sumber kemakmuran ekonomi]. Secara sekala Wana Kerti kita laksanakan dengan menghormati, menjaga kelestarian dan kealamian hutan-hutan dan gunung. Agar tidak rusak atau habis oleh perilaku yang serakah dan tidak terpuji yang mengeksploitasi hutan-hutan dan gunung, sebagai penjaga keseimbangan alam dan kehidupan. Secara niskala Wana Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan menjaga kelestarian hutan dan pegunungan secara niskala, serta melestarikan pura-pura gunung dan alas angker [hutan lindung]. Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada hutan-hutan dan gunung.

Image by: facebook

Danu Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai. Dalam tata ruang kosmik Hindu, danau adalah pusat sumber mata air tawar. Dari resapan danau permukaan dan danau bawah tanah, muncullah sumber-sumber mata air, yang lalu mengalir menjadi sungai-sungai. Secara sekala Danu Kerti kita laksanakan dengan menghormati, menjaga kelestarian dan kealamian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai. Agar tidak rusak atau tercemar perilaku yang tidak terpuji pada sumber-sumber air tawar sebagai salah satu unsur alam yang paling menentukan kehidupan di bumi ini. Secara niskala Danu Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan menjaga kesucian-kelestarian sumber-sumber air tawar secara niskala, serta melestarikan pura-pura beji dan ulun danu. Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada sumber-sumber air tawar.

Atma Kerti berarti upaya untuk menegakkan kesucian jiwa-jiwa yang telah meninggalkan dunia material ini. Secara niskala Atma Kerti kita upayakan dengan melaksanakan Pitra Yadnya, yaitu yadnya yang diselenggarakan guna mengangkat serta menyempurnakan kedudukan atman mereka-mereka yang sudah meninggal, khususnya para leluhur [pitra], agar mereka mendapatkan tempat yang baik di alam kematian. Yadnya ini sebagai wujud rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak kepada para leluhur, dengan upakara jenasah [sawa wedana] sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut atma wedana. Termasuk penyucian dan pralina [kremasi / ngaben] yang sangat membantu perjalanan atman di alam-alam kematian. Atma Kerti juga kita upayakan dengan melaksanakan Bhuta Yadnya, yaitu yadnya bagi para mahluk-mahluk niskala alam bawah, hewan dan mahluk-mahluk lainnya. Tujuannya untuk membantu mengangkat serta menyempurnakan kedudukan atman mereka, agar mereka mendapat kesempatan naik tingkat, lahir menjadi mahluk yang lebih tinggi kesadarannya dalam roda samsara ini.

Dyauh santir
Antariksam santih
Prithivi santir
Apah santir
Osadhayah santih
Vanaspatayah santir
Visve devah santir
Brahma santih
Sarvam santih
Santireva santih
Sa ma santiredhi
[Yajur Veda 36.17]

Semoga ada kedamaian di langit
Semoga ada kedamaian di luar angkasa
Semoga ada kedamaian di bumi
Semoga air menjadi sumber kedamaian
Semoga tanaman obat menjadi sumber kedamaian
Semoga tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian
Semoga para dewa-dewi melimpahkan kedamaian kepada kita
Semoga Brahman melimpahkan kedamaian kepada kita
Semoga semua mahluk ada dalam kedamaian
Semoga ada kedamaian dimana-mana
Semoga ada kedamaian dalam bathin saya

Hidup ini adalah pilihan, kita sendiri yang menentukannya [hukum karma dan hukum rta]. Kalau kita ngulurin manah dan indriya, sangat mungkin kita kemudian terjebak dalam berbagai kegelapan bathin [sad ripu] : marah, benci, iri hati, sombong, tidak puas, serakah, penuh hawa nafsu, dsb-nya. Kita harus sadar bahwa kelak konsekuensinya akan sangat besar dan akan melebar kemana-mana, mempengaruhi keseimbangan kosmik. Sudah pasti yang akan didapat adalah kekacauan dan kesengsaraan. Sebaliknya kalau kita menjalani hidup dengan dharma, kita akan banyak sekali diselamatkan dari kekacauan dan kesengsaraan. Yang kelak akan kita dapat adalah kedamaian kosmik dan kebahagiaan.

Sebagai penganut Hindu sudah selayaknya kita selalu menjalani hidup dengan dharma, sekaligus berpartisipasi di dalam upaya mewujudkan cita-cita tertinggi “Moksartham jagadhita ya ca iti dharma” : dengan dharma kita mewujudkan kedamaian semua mahluk dan keharmonisan alam semesta [jagadhita], serta mencapai pembebasan dari roda samsara [moksartham].

Sarva shanti sarva mangalam,
Om shanti shanti shanti.

**Rumah Dharma-Hindu Indonesia

Hukum Karma dalam Kehidupan


Apan pran eti svadhaya grbhito
Amartyo martyena sayonih
[Rig Veda I.164.38]

-Jiwa yang memiliki tubuh yang sementara, mengambil bentuk eksistensi lain mahluk seperti ini atau seperti itu [terlahir kembali] menurut perbuatannya [sesuai dengan karmanya] sendiri.

Milyaran tahun di dalam mengarungi roda samsara [siklus kelahiran-kematian-kelahiran] ini, ada empat hal yang harus kita ketahui :

  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, kita membutuhkan tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia dan berjodoh dengan ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
  • Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, lalu mengalami pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.

Kita harus menyadari bahwa kelahiran kita sebagai manusia adalah sebuah berkah, yang kita ciptakan sendiri sebabnya dengan hidup secara baik dengan timbunan tabungan karma baik yang banyak pada kehidupan-kehidupan kita sebelumnya. Sebaliknya, kelahiran kita yang akan datang juga akan ditentukan oleh segala apa yang kita lakukan saat ini juga.

Seseorang yang dalam kehidupannya penuh dengan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup. Sebaliknya seseorang yang dalam kehidupanya penuh dengan karma buruk, suka mementingkan diri sendiri, suka merugikan orang lain, suka menyakiti, suka mengganggu, dll, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam gelap [Bhur Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya banyak merasakan kesengsaraan dan ketidakberuntungan. Sederhananya, kita bisa membayangkan sendiri seperti apa kehidupan kita yang akan datang hanya dengan melihat sikap dan tindakan kita pada saat ini.

Adhursata svayam ete vacobhir
Rjuyate vrjinani bruvantah
[Rig Veda V.12.5]

-Orang-orang yang tidak berjalan lurus [melaksanakan dharma], akan mengalami kehancuran semata karena perbuatan-perbuatan [karma buruk] mereka sendiri.

Di alam semesta ini berlaku hukum karma, ada akibat karena ada sebab. Tapi sebagian orang, walaupun sudah tahu akan adanya hukum karma, tapi dia tetap merasa heran, marah dan protes ketika berbagai masalah, kesulitan dan kesengsaraan datang dalam hidupnya. Hanya orang yang sadar dan memahami dalam-dalam tentang hukum semesta ini [hukum karma] akan menerima setiap kejadian buruk dengan bathin damai [karena dia sadar sedang membayar hutang karma], serta secara bersamaan berupaya “memotong” sebab yang akan menghasilkan akibat buruk.

  • Disinilah pentingnya terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, karena karma baik akan membantu meringankan karma buruk kita.
  • Disinilah pentingnya terus-menerus berupaya melenyapkan kebiasaan-kebiasaan yang menghasilkan karma buruk dan terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan [yang akan menghasilkan karma baik].

Sesungguhnya kebiasaan-kebiasaan ini akan berlanjut antar kehidupan. Bila pada kehidupan sebelumnya kita adalah orang yang bersifat penuh kebaikan, sabar dan penyayang, maka kecenderungan tersebut akan muncul dan berlanjut kembali pada kehidupan kita yang sekarang. Bila sifat-sifat dharma tersebut terus-menerus diperkuat dan dikembangkan pada kehidupan saat ini, hal itu akan semakin kuat dan menonjol pada kehidupan kita selanjutnya. Sebaliknya bila dalam kehidupan sekarang kita lalai untuk mengembangkan sifat-sifat dharma tersebut, sifat mulia tersebut akan berangsur melemah dan salah-salah akan pudar dalam kehidupan mendatang. Hal ini akan membuka kemungkinan bangkitnya kegelapan bathin dalam diri kita, menghasilkan karma-karma buruk, yang sekaligus akan mengakibatkan pengalaman-pengalaman hidup yang menyengsarakan dan jauh dari jalan kesadaran.

Berdasarkan hal inilah kemudian para Maharsi mengintisarikan bahwa ada dua hal PALING PENTING yang harus terus-menerus kita laksanakan dalam kelahiran sebagai manusia, yaitu :

TUGAS PERTAMA KITA : SETIAP ADA KESEMPATAN TERUS BERUPAYA MELAKUKAN KEBAIKAN, KEBAIKAN DAN KEBAIKAN.

Di dalam berbagai teks-teks Hindu, dijelaskan secara eksplisit tentang pentingnya banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Di bawah ini adalah beberapa contoh kutipan-kutipan tersebut dalam bentuk ringkasan :

-Atharva Veda-
Tapas caiva-astam karma ca
Antar mahati-arna ve
[Atharva Veda XI.8.2]

-Tapa [pengendalian pikiran dan indryia-indriya] dan keteguhan melaksanakan karma baik [terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan] adalah satu-satunya sumber keselamatan di dunia yang mengerikan ini.

Atharva Veda menjelaskan bahwa dalam eksistensi kita sebagai mahluk, sumber keselamatan kita sangat terbatas dan itupun sepenuhnya tergantung kepada diri kita sendiri. Sangat penting dalam hidup ini untuk terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan. Dijelaskan sebagai berikut :

  1. Dengan banyak-banyak melakukan kebaikan, kita belum tentu tahu bagaimana perasaan orang tersebut, tapi satu hal yang pasti adalah bathin kita akan banyak mengalami pembersihan-pembersihan. Bathin kita dibimbing rapi menuju ketenangan, bebas dari rasa iri hati, tidak mudah marah, tidak mudah terganggu oleh orang lain, tidak mendendam, dll. Dan yang pertama kali mengalami kedamaian bathin itu adalah diri kita sendiri. Lalu kita juga menjadi sumber kedamaian dan harmoni bagi lingkungan kita.
  2. Kita bisa mengamati sendiri melalui fakta sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dalam kehidupan keseharian kita selalu baik hati, penyayang, suka menolong, suka menyenangkan hati orang, dll, orang-orang akan cenderung menyukai kita, musuh kita sedikit dan kita terhindar dari konflik-konflik berbahaya. Tentu saja kemudian akibatnya adalah pengalaman-pengalaman hidup kita akan lebih membahagiakan.
  3. Karma baik akan membantu meringankan beban karma buruk kita.
  4. Dengan banyak karma baik, dewa penolong kita akan “turun”. Tanpa kita ketahui, kita akan dijaga dan dibantu oleh kekuatan-kekuatan suci dari alam-alam luhur yang tidak terlihat tersebut.
  5. Dalam roda samsara, seseorang yang dalam kehidupannya banyak karma baik [banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan], ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup.

-Brhadaranyaka Upanishad-

Brhadaranyaka Upanishad menjelaskan bahwa ada tiga hal terpenting dalam kehidupan yang harus kita laksanakan setiap saat, yaitu : DAYADHVAM – bathin yang penuh sifat welas asih, DATTA – banyak-banyak melakukan kebaikan dan DAMYATA – menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran. Kegelapan bathin berupa emosi negatif dan destruktif [penuh kemarahan, penuh kebencian, iri hati, dendam], akan lenyap dengan tekun mempraktekkan sikap bathin yang penuh welas asih [dayadhvam]. Tidak kejam, tidak membenci, tidak marah, sangat memaafkan, tidak iri hati dan berhati lembut.

Kegelapan bathin berupa keserakahan [lobha] akan membangkitkan kebencian, keterikatan akan membangkitkan kegelisahan bathin [moha], dll. Tapi semua itu akan lenyap dengan tekun mempraktekkan sikap dan perilaku keseharian yang penuh kebaikan [datta]. Belajar dan berlatih untuk melepaskan ke-aku-an [ahamkara], baik berupa rasa ke-aku-an [kepemilikan] benda-benda duniawi, hal-hal duniawi, maupun rasa ke-aku-an yang muncul dalam pikiran dan perasaan kita.

Mudah sekali bersikap damai dan penuh welas asih, disaat kita dipuji-puji, dikagumi, tidak kekurangan uang, makan enak dan badan sehat. Tapi yang bisa TETAP bisa bersikap damai dan penuh welas asih disaat dirinya dihina, dicaci-maki, disakiti, tidak punya uang, kelaparan dan sedang sakit, itu tidak lain pertanda bathin yang mulai bersinar terang benderang, semakin dekat dan semakin dekat dengan pembebasan.

-Yoga Sutra dan Rig Veda-

“Ashtanga Yoga” atau delapan ruas yoga dalam teks Yoga Sutra [Maharsi Patanjali] menjelaskan bahwa, pondasi dasar yang terpenting dari jalan yoga adalah Yama dan Niyama [10 disiplin dasar seorang yogi]. Sehingga disiplin yoga ini diletakkan pada urutan pertama dan kedua dari delapan ruas yoga. Dua diantara Yama adalah Aparigraha dan Ahimsa.

Aparigraha berasal dari kata “parigraha” yang berarti : rasa kepemilikan atau memiliki sendiri sesuatu hal atau benda dan “a” yang berarti : tidak. Aparigraha berarti “tidak ada rasa kepemilikan”, yang bermakna kita harus selalu memberi [atau selalu berbagi] kepada mahluk lain. Dengan kata lain banyak-banyak melakukan kebaikan.

Ahimsa berarti “tidak menyakiti”.

Dalam bagian lain Yoga Sutra disebutkan :

Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran dapat dimurnikan dengan keramahan dan kehangatan kepada mereka yang sedang bahagia, welas asih dan kebaikan kepada mereka yang sedang sengsara, mendukung dan membantu orang-orang yang baik hati, serta tidak menghakimi dan menilai [bersikap netral] kepada orang-orang yang kita rasa jahat atau salah.
[Yoga Sutra 1.33]

Dalam Rig Veda juga disebutkan :
Rtasya nah patha naya
Ati visvani durita
[Rig Veda I.33.6]

-Semoga engkau menuntun kami ke jalan kebajikan [hidup yang penuh dengan kebaikan-kebaikan], sehingga kami bisa meniadakan semua kekalutan [kegelapan] bathin.

Disiplin perilaku keseharian yang demikian [banyak-banyak melakukan kebaikan dan tidak menyakiti], merupakan pondasi dasar penting dari semua jalan yoga. Karena perilaku demikian akan membangunkan kehalusan jiwa. Sehingga dampaknya adalah, ketika kita sembahyang [bhakti yoga] bathin kita dapat terhubung dengan vibrasi kemahasucian dari alam-alam luhur, ketika kita meditasi [raja yoga] kita menjadi mudah merealisasi samadhi, ketika kita mempelajari dharma [jnana yoga] kita akan lebih mudah paham dan mengerti, ketika kita melaksanakan kerja [karma yoga] kita akan berbahagia melaksanakan svadharma kita. Itulah sebabnya disebut pondasi dasar yang menentukan keberhasilan yoga.

-Apakah yang dimaksud dengan kebaikan ?-
Pengertian dari melakukan kebaikan itu adalah membantu orang lain atau dalam bentuk lain membuat orang lain merasa lebih bahagia atau senang. Wajah kebaikan sangat banyak dan beragam. Bisa berupa pemberian material berupa uang, barang, pakaian, makanan, dll dan [yang cakupannya lebih luas] adalah berupa pemberian non-material seperti menghibur orang yang sedang kesusahan hati, membantu menyapu, memberikan kesempatan lebih dahulu dalam antrean, memberikan kesempatan orang lain menyeberang jalan, meminggirkan kendaraan saat ada ambulans lewat, atau tersenyum ramah kepada orang lain, itu juga suatu bentuk kebaikan.

Atau misalnya kita melihat ada sampah tidak dibuang di tong sampah, kita bantu masukkan ke tong sampah, ada keran yang airnya sudah penuh dan melimpah, kita bantu matikan. Kelihatannya sepele dan mungkin jarang kita perhatikan, tapi ini sebenarnya sangat penting, karena itu memupuk karma baik dan sekaligus bagian dari mendidik diri untuk penuh dengan kebaikan.

Selalulah ingat, setiap kali ada yang memerlukan bantuan kita atau mungkin kita bisa membuat mereka sedikit lebih bahagia atau senang, segeralah lakukan kebaikan itu. Katakan ke diri sendiri : KESEMPATAN MEMBANTU ITU SEDIKIT, JARANG KITA BISA MEMILIKINYA, JADI LAKUKANLAH.

Kita harus merelakan apapun hasilnya dan jangan pernah mengharapkan balasan / imbalan. Kita juga harus sadar bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak selalu mendapat respon berupa kebaikan. Kadang-kadang malah kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ini adalah hukum alam dan kita musti selalu sadar dengan hukum alam ini. Apapun yang terjadi, terimalah dengan senyuman damai.

TUGAS KEDUA KITA : KALAU BELUM MAMPU MELAKUKAN KEBAIKAN, CUKUP JANGAN MENYAKITI.

Ahimsā satyavacanam sarvabhūtahitam param
Ahimsā paramo dharmah sa ca satye pratisthitah
Aatye krtvā pratisthām tu pravartante pravrttayah
[Vana Parva]

-Mereka yang bathinnya mulia tidak menyakiti dan penuh kebaikan kepada semua mahluk.
Ahimsa [tidak menyakiti] adalah dharma yang tertinggi, mereka tidak pernah menyakiti dalam perbuatan, perkataan dan pikiran.
Mereka sepenuhnya sadar kepada sebab dan akibat dari perbuatan [hukum karma], menuju evolusi bathin.

Hanya orang yang sadar dan memahami dalam-dalam tentang hukum semesta ini [hukum karma] akan berupaya “memotong” sebab yang akan menghasilkan akibat buruk. Walaupun kita tidak mungkin dalam hidup ini dapat 100% tidak menyakiti, tapi kita juga harus berupaya sebisa mungkin untuk tidak menyakiti [berhenti memproduksi karma buruk].

Jangan menyakiti perasaan mahluk lain, jangan mengganggu mahluk lain, jangan merugikan mahluk lain, jangan memanfaatkan kesulitan-kesusahan mahluk lain untuk mengeruk keuntungan, jangan menipu mahluk lain, jangan memanfaatkan-mengeksploitasi mahluk lain, dll.

Dengan tidak marah dan benci kita lebih sedikit melukai hati dan perasaan mahluk lain. Dengan sikap rendah hati kita bisa menghormati orang lain. Dengan tidak serakah kita lebih sedikit membuat orang lain menderita. Dengan kasih sayang kita lebih sedikit membunuh nyamuk dan serangga, dll-nya. Tidak membalas bentakan orang tua, tidak marah pada suami-istri yang marah, tidak menyakiti anak yang nakal, tidak melawan pada yang merendahkan kita, dll, itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain. Itulah ahimsā paramo dharmah [tidak menyakiti adalah dharma yang tertinggi].

**Sumber: Rumah Dharma Indonesia

Sejarah Banten(Sesajen) di Bali


Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya, disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro – Tegal Lalang, Gianyar, sekarang). Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara, mula-mula terbatas kepada para pengikutnya saja, lama kelamaan berkembang ke penduduk lain di sekitar Desa Taro.

merajan-2

Photo: Koleksi Pribadi, Bebantenan saat odalan

Jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air, dan api disebut “Bali”, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro. Lama-lama ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau, sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali, dalam pengertian pulau yang dihuni oleh orang-orang Bali, lebih tegas lagi pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara (Bali).

Tradisi beragama dengan menggunakan banten kemudian dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti: Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. Sejak kapan sarana upakara itu berubah nama dari “Bali” menjadi “Banten” dan mengapa demikian, sulit mencari sumber sastranya. Beberapa Sulinggih yang saya hubungi ada yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten mengalami perubahan dari kata wantu atau bantu.

Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga timbul pengertian bahwa bali atau banten adalah “niyasa” atau simbol keagamaan. Umat Hindu melaksanakan ajaran Agama-nya antara lain melalui empat jalan/ cara (marga), yaitu: Bhakti marga, Karma marga, Jnana marga, dan Raja marga.

Bhakti marga dan Karma marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim disebut sebagai “Apara bhakti”, sedangkan tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar diri masing-masing dilaksanakan Jnana marga dan Raja marga yang disebut sebagai “Para bhakti”. Pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara lainnya, seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol lainnya berkurang.

Umumnya di Bali keempat marga itu dilaksanakan sekaligus dalam bentuk upacara Agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri dari bahan pokok: daun, bunga, buah, air dan api. Sarana-sarana itu mempunyai fungsi sebagai:

  • Persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi.
  • Sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi.
  • Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.
  • Sebagai alat pensucian.
  • Sebagai pengganti mantra.

Karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya prakerti disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi kepada siapa banten itu akan dihaturkan/ dipersembahkan. Dalam Buku Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang disahkan PHDI disebutkan bahwa seorang Tukang Banten hendaknya sudah mensucikan diri dengan upacara Pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban Bebangkit).

Tujuannya adalah agar Tukang Banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan mempersembahkannya kepada Hyang Widhi. Di kala membuat banten kesucian dan kedamaian hati tetap terjaga, antara lain tidak mengeluarkan kata-kata kasar, tidak dalam keadaan kesal atau sedih, tidak sedang cuntaka, tidak sedang berpakaian yang tidak pantas, menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten di sembarang tempat.

Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral, konsentrasi penuh, rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih, tempat membuat banten disebut sebagai “Pesucian” yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan.

“Dewasa” atau hari baik untuk mulai membuat banten ditetapkan dengan teliti oleh para Sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam, atau dipegang oleh anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka. Beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh Sang Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg Gumi.

Untuk menegaskan penting dan sakralnya banten, Mpu Jiwaya salah seorang tokoh pemimpin Agama di abad ke-10 mengajarkan membuat “reringgitan” dengan bahan daun kelapa, enau atau lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus penuh. Jika tidak, bisa reringgitannya rusak atau tangannya yang teriris pisau.

Makna membuat banten seperti yang dikemukakan diatas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Zaman beredar dan kini kita hidup di zaman millennium. Kemampuan kita menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai masalah, antar lain:

Kelangkaan bahan-bahan baku banten. Waktu yang terbatas untuk membuat banten. Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri.Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten sudah kita maklumi, karena busung, pisang, kelapa, telur, bebek, dan ayam, tidak sedikit yang sudah didatangkan dari luar Bali antara lain: Sulawesi, Lombok, dan Jawa.

Waktu yang terbatas bagi umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya “nunas puput”. Generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran Agama Hindu di Bali dalam bentuk ritual/ upacara menjadi sangat sulit dan mahal.

“Model” umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini terlihat sudah lumrah seperti: sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas ayaban di Geria lengkap dengan Sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat banten pada Sang Yajamana hilang.

Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya seperti diuraikan di atas, agaknya hal yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten. Apalah artinya banten jika Sang Yajamana tidak mengerti dengan makna banten yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orang tua kita tetapi ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan pada orang tuamu? Jawabannya ya, nggak tau! Aneh bukan?

Fenomena seperti itu akan terus berkembang lebih-lebih bilamana dalam suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak.
Konsep-konsep Manawadharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara suami/ istri banyak tidak berlaku lagi. Suami mestinya menghidupi keluarga, dan Istri mestinya mengurus rumah, terutama masalah Panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten.

Adakah jalan keluar menghadapi fenomena seperti itu? Untuk ini ada beberapa hal yang perlu dikemukakan:

  1. Dalam banyak kitab suci antara lain: Manawadharmasastra, Parasaradharmasastra, dll. disebutkan bahwa cara kita beragama di setiap zaman tidaklah sama. Di zaman Kali seperti sekarang ini, cara kita beragama mestinya lebih menekankan pada pencurahan kasih sayang kepada sesama manusia misalnya dalam bentuk dana punia.
  2. Namun demikian tidak berarti bahwa kegiatan ritual keagaman dalam bentuk upacara-upacara yadnya diabaikan. Upacara itu tetap dilaksanakan namun para Sulinggih diharap memberikan dharmawacana agar sang yajamana mengerti dengan makna upacara yadnya yang diselenggarakannya.
  3. Sesuai dengan konsep Desa-Kala-Patra maka umat Hindu di Bali diharapkan menyelenggarkan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan finansial yang nyata dan waktu yang luang.
  4. Apabila terpaksa membeli banten, belilah dari orang yang diyakini memenuhi syarat sebagai tukang banten.
  5. Para tukang banten hendaknya turut memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya agar umat kita tidak terlalu mahal membeli banten, lebih-lebih jika diingat bahwa tukang banten adalah kelompok orang yang disucikan dan dengan demikian diharapkan sudah mampu menguasai “Sad-ripu” yang ada dalam dirinya sendiri.

Banten yang dikategorikan dalam kelompok:

    • Alit
    • Madya
    • Ageng

Hendaknya dijelaskan oleh para Sulinggih kepada umat secara luas, dengan menekankan bahwa banten yang alit tidak berarti nilainya lebih rendah dari banten yang madya-utama, demikian sebaliknya, karena hakekat banten adalah curahan rasa bhakti dan kasih kepada Hyang Widhi. Janganlah sampai umat kita menghadapi kesulitan atau menjadi miskin karena melaksanakan upacara yadnya secara keliru, yaitu membeli banten melebihi batas kemampuan finansialnya yang nyata.

Sumber: Bhagawan Dwija.