Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Syarat-Syarat Calon Diksa


Berdasarkan Ketetapan Sabha Parisada Hindu Dharma II No. V/Kep./PHDP/68 tentang Tata Keagamaan(Kesulinggihan, Upacara dan Tempat Suci) Syarat-syarat calon Diksa adalah sebagai berikut:

  1. Laki-laki yang sudah kawin, Laki-laki yang nyuklabhamacari, Wanita yang sudah kawin, Wanita yang tidak kawin(kanya), dan Pasangan Suami Istri.
  2. Dewasa
  3. Paham dama bahawa kawi, Sanskerta, Indonesia, memiliki pengetahuan umum, mendalami intisari ajaran agama(filsafat, etika dan ritual).
  4. Sehat lahir batin, ingatan tidak terganggu, tidak cedangga dan berbudi luhur.
  5. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut kasus hukum.
  6. Mendapat tanda kesediaan dari pandita calon nabenya(guru) yang akan menyucikan.
Dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu ke-14 tahun 1986/87 tentang Pedoman Pelaksanaan Diksa ditegaskan bahwa umur calon diksa adalah minimal 40 tahun dan syarat tambahannya seorang calon diksa sebaiknya tidak terikat dengan pekerjaan kecuali bertugas untuk keagamaan.
Dari persyaratan diatas maka dapat disimpulkan bahwa calon diksa/sang madwijati/calon sulinggih adalah semua penganut Hindu tidak ada diskriminasi atas dasar golongan/kelompok/soroh/wangsa/warga untuk bisa menjadi pandita. Semua warga dikalangan umat Hindu yang telah memenuhi persyaratan diatas berhak untuk didiksa atau menjadi sulinggih tentunya dengan abhiseka yang berbeda-beda sesuai dengan istilah/sebutan yang dimiliki oleh setiap golongan warga.
Sebagai sang pandita, seorang yang sudah didiksa memiliki kewenangan yang sama dan sejajar didalam muput karya atau ngelokapalasraya termasuk dalam upacara Panca Bali Krama di Pura Besakih namun tentu saja dipilah pembagian tugas antar sulinggih. Pada upacara Panca Bali Krama sangat banyak rangkaian upacara yang hampir bersamaan dalam waktu tertentu. Hendaknya dalam sebuah upacara tidak dilihat siapa sulinggih yang berhak muput karya tapi bagaimana memanfaatkan kewenangan setiap sulinggih dalam karya agung Panca Bali Krama.

Makna Gelang Tridatu


Gelang Tridatu terbuat dari tiga benang berwarna Merah,Hitam dan Putih. Gelang Tridatu bukanlah Jimat atau bendah bertuah lainnya tapi merupakan simbol dari Dewa Trimurti(Merah simbol Dewa Brahma, Hitam simbol Dewa Wisnu dan Putih adalah simbol Dewa Siwa). Jadi jika anda berpikir bahwa gelang tridatu adalah jimat itu sama sekali tidak benar.

Naiya with her Tridatu

Naiya with her Tridatu

Tridatu adalah simbol dari Hyang Widhi dengan manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Biasanya dibuat oleh sulinggih di Pura Dalem Ped, Nusa Penida untuk para pemedek yang tangkil ke pura tersebut. Selain sebagai lambang Tri Kona(Kelahiran, Hidup dan Kematian) dengan menggunakan tridatu diharapkan kita selalu ingat dengan kebesaran Tuhan sebagai maha pencipta, pemelihara dan pelebur.

Sejarah Benang Tridatu.

Dimulai pada abad 14-15 ketika Dalem Watu Renggong menjadi raja di Bali, saat menaklukkan dalem Bungkut (Nusa) oleh Patih Jelantik, telah terjadi kesepakatan antara Dalem Bungkut/Nusa dengan Dalem Watu Renggong, kesepakatan itu bahwa kekuasaan Nusa diserahkan kepada Dalem Watu Renggon(Bali) begitu pula rencang dan ancangan Beliau (Ratu Gede Macaling) dengan satu perjanjian akan selalu melindungi umat Hindu / masyarakat Bali yang bakti dan taat kepada Tuhan dan leluhur, sedangkan mereka yang lalai akan dihukum oleh para rencang Ratu Rede Macaling, Bila Beliau akan melakukan tugasnya maka Kulkul Pajenanengan yang kini disimpan dan disungsung di puri agung klungkung akan berbunyi sebagai pertanda akan ada malapetaka atau wabah, Benang Tridatu digunakan sebagai simbol untuk membedakan masyarakat yang taat/bakti dengan masyarakat yang lalai/tidak taat, dan sejalan dengan identitas Hindu Bali maka benang tridatu merupakan Indentitas yang tidak tergantikan oleh apapun karena selalu dilindungi oleh kekuatan Hyang Widhi.

**dari berbagai sumber

Bhakti Yoga


Bhakti Yoga merupakan istilah dalam agama Hindu yang merujuk pada wujud nyata /praktek keimanan(pemujaan) yang tulus suci kepada Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa.

IMG_0815

Image by: koleksi pribadi. Tirtha Empul Gianyar.

Engage your mind always in thinking of Me, become My devotee, offer obeisances to Me and worship Me. Being completely absorbed in Me, surely you will come to Me.
(Bhagawadgita 9.34)

One can understand Me as I am, as the Supreme Personality of Godhead, only by devotional service. And when one is in full consciousness of Me by such devotion, he can enter into the kingdom of God.
(Bhagawadgita 18.55)

Bhakti Yoga menjadi ciri khas Hindu di Bali, dimana dalam kesehariannya penuh dengan yadnya [persembahan suci]. Mengacu kepada apa yang dilaksanakan oleh para tetua, tidak saja banten dan upakara menjadi yadnya, tapi tari-tarian, ngayah [pelayanan], ukiran, pemberian, pertolongan, membahagiakan mahluk lain, dll, semuanya adalah yadnya. Bahkan hidup inipun adalah yadnya. Kalau hal ini yang dijadikan acuan, sebagai Hindu Bali selayaknya bergerak dengan spirit yadnya [persembahan suci].

Ada delapan macam yadnya, yaitu TRI YADNYA [tiga macam yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara] dan PANCA YADNYA [lima macam yadnya yang berhubungan dengan upakara]. Tri Yadnya termasuk Para Bhakti, sedangkan Panca Yadnya termasuk Apara Bhakti. Inilah jalan menuju tercapainya Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan semesta yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Acintya dan para dewa-dewi, manusia dengan alam raya dan manusia dengan sesama mahluk. Ini selaras-sejalan dengan tujuan “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang berarti : dengan dharma kita mewujudkan kebahagiaan semua mahluk dan keharmonisan alam semesta [jagadhita], serta mencapai pembebasan dari roda samsara [moksartham].

Bhakti Yoga harus dimulai dengan upaya mendisiplinkan diri. Ini direalisasi dengan melaksanakan Tri Yadnya, yaitu tiga macam persembahan suci atau yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara. Ketiga yadnya itu adalah :

  1. Drwya Yadnya. Ini adalah yadnya berupa welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk. Memuja Tuhan dan dewa-dewi yang tidak kelihatan tentu saja bagus dan boleh. Tapi menyayangi para mahluk yang terlihat juga termasuk yadnya [persembahan suci]. Drwya Yadnya adalah yadnya berupa perbuatan-perbuatan kebaikan, kasih sayang dan pemberian materi maupun non-materi. Tidak saja kepada manusia, tapi juga kepada alam semesta beserta seluruh mahluk didalamnya. Termasuk welas asih dan kebaikan kepada para mahluk menderita : hewan dan mahluk-mahluk niskala alam bawah [yang ditempat lain dimusuhi sebagai setan]. Yadnya disini bukan selalu berarti uang atau barang. Senyuman ramah, mau menjadi tempat curhat yang baik, membantu membuang sampah, itu juga sebuah yadnya. Membuat orang senang, bahagia, terhibur, lepas dari ganjelan, dll, itu semua sebuah persembahan suci [yadnya].
  2. Tapa Yadnya. Ini adalah yadnya berupa 10 disiplin diri, yaitu : – Tiga disiplin badan : hindari menyakiti-membunuh, hindari hubungan seks ilegal [selingkuh], hindari mengambil sesuatu yang bukan milik kita. – Empat disiplin lidah : hindari berbohong, hindari bergosip-memfitnah, hindari kata-kata kasar dan menghina, hindari kesombongan.- Tiga disiplin pikiran : hindari kemarahan-kebencian, hindari keserakahan [termasuk serakah ingin hidup harus selalu tenang, damai, gembira tanpa gangguan], hindari dualitas pikiran [benar-salah, baik-buruk, suci-kotor, dll]. Dengan indriya-indriya dan pikiran yang terkendali, kita lebih sedikit serakah, lebih sedikit mengeluarkan kata-kata menyakitkan, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.
  3. Jnana Yadnya. Ini adalah yadnya berupa kebijaksanaan dan pengetahuan. Kita belajar dan berlatih menghidupkan kebijaksanaan yang mendalam dalam bathin kita. Dengan kebijaksanaan mendalam, kita lebih sedikit marah, lebih sedikit membenci, lebih sedikit dendam, lebih sedikit tidak puasnya, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.

Tri Yadnya sangat penting dan fundamental dalam totalitas yadnya

Dengan keseharian yang dibimbing oleh Tri Yadnya keadaan bathin kita akan menjadi sejuk, teduh, terang. Jauh lebih sedikit mahluk yang disakiti dan jauh lebih banyak mahluk yang bisa disayangi. Hal ini tidak saja menyegarkan bathin orang lain atau mahluk lain, tapi sekaligus juga menyalakan teja atau sinar suci di dalam bathin kita. Sehingga kemanapun kita sembahyang, apapun upakara yang kita lakukan, langkah kita akan ringan, dimana-mana kita mudah sekali bertemu dengan teja kemahasucian.

Segala macam sembahyang, mebanten, upakara, dll, yang kita laksanakan, tanpa dilandasi oleh Tri Yadnya, kemungkinan besar hanya menjadi penyegaran spiritual atau rekreasi rohani yang sifatnya sementara saja atau bahkan tidak berguna. Vibrasi spiritual-nya lemah dan mudah lenyap. Akan tetapi bila sebaliknya, bhakti yoga tidak lagi menjadi aktifitas fisik belaka, tapi sudah menjadi satu dengan aktifitas jiwa. Ini yang akan membuat dalam bhakti kita akan mudah terhubung dengan wilayah-wilayah kemahasucian. Karena hanya yang suci akan tersambung dengan bagian dari Brahman yang juga suci.

**Rumah Dharma-Hindu Indinesia

Artikel terkait: