Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Memahami Makna Ongkara


Ongkara=Omkara adalah Simbol Suci dalam Agama Hindu, Di dalam Upanisad ongkara atau omkara disebut Niyasa artinya alat bantu agar konsentrasi kita menuju kepada Hyang Widhi, serta pemuja mendapat vibrasi kesucian Hyang Widhi. Niyasa atau sarana yang lain misalnya banten, pelinggih, kober, dll. Sebagai simbol suci Niyasa sudah sepantasnya digunakan atau diletakkan pada tempat yang wajar karena disucikan. Pada beberapa kasus di Bali simbol-simbol Hindu pernah digunakan tidak pada tempatnya misal: penggunaan canang sari dengan bola golf diatasnya pada foto sebuah iklan, penggunaan simbol ongkara pada bagian-bagian tubuh yang tidak sepantasnya dll. Perlakuan pada niyasa-niyasa/Simbol Suci yang tidak wajar mungkin karena faktor ketidaktahuan (awidya) atau memang sengaja (rajasika). Mengapa salah satu niyasa berbentuk ongkara/Omkara, karena gambar itulah yang dilihat dalam jnana para Maha Rsi penerima wahyu Hyang Widhi, yang kemudian diajarkan kepada kita turun temurun.

Ongkara di Bali terdiri dari 5 Jenis:  Ongkara Gni, Ongkara Sabdha, Ongkara Mrta, Ongkara Pasah dan Ongkara Adu-muka. Penggunaan berbagai jenis Ongkara ini dalam rerajahan sarana upakara pada upacara Panca Yadnya dimaksudkan untuk mendapat kekuatan magis yang dibutuhkan dalam melancarkan serta mencapai tujuan upacara.

Ongkara Gni

Ongkara Gni

Ongkara Gni

Ongkara Sabdha

Ongkara Sabdha

Ongkara Sabdha

Ongkara Mrta

Ongkara Mrta

Ongkara Mrta

Ongkara Pasah

Ongkara Pasah

Ongkara Pasah

Ongkara Adumuka

Ongkara Adumuka

Ongkara Adumuka

Unsur-unsur Ongkara ada 5 yaitu:

  1. Nada,
  2. Windu,
  3. Arda Candra,
  4. Angka telu (versi Bali),
  5. Tarung.

Semuanya melambangkan Panca Mahabutha, unsur-unsur sakti Hyang Widhi, yaitu: Nada = Bayu, angin, bintang; Windu = Teja, api, surya/ matahari; Arda Candra = Apah, air, bulan; Angka telu = Akasa, langit, ether; Tarung = Pertiwi, bumi, tanah.

Unsur-unsur Ongkara

Unsur-unsur Ongkara

Unsur-unsur Panca Mahabutha di alam raya itu dinamakan Bhuwana Agung. Panca Mahabutha ada juga dalam tubuh manusia:

  • Daging dan tulang adalah unsur Pertiwi
  • Darah, air seni, air kelenjar (ludah, dll) adalah unsur Apah
  • Panas badan dan sinar mata adalah unsur Teja
  • Paru-paru adalah unsur Bayu
  • Urat syaraf, rambut, kuku, dan 9 buah lobang dalam tubuh: 2 lobang telinga, 2 lobang mata, 2 lobang hidung, 1 lobang mulut, 1 lobang dubur, dan 1 lobang kelamin, adalah unsur Akasa.

Unsur-unsur Panca Mahabutha dalam tubuh manusia disebut sebagai Bhuwana Alit. Dalam kaitan inilah upacara Pitra Yadnya dilakukan ketika manusia meninggal dunia di mana dengan upacara ngaben (ngapen=ngapiin), unsur-unsur Panca Mahabutha dalam tubuh manusia (Bhuwana Alit) dikembalikan/ disatukan ke Panca Mahabutha di alam semesta (Bhuwana Agung).

Kesimpulan: Simbol Ongkara adalah simbol ke Maha Kuasaan Hyang Widhi.

Simbol Ongkara di Bali pertama kali dikembangkan oleh Maha-Rsi: Ida Bhatara Mpu Kuturan sekitar abad ke11 M, ditulis dalam naskah beliau yang bernama “Tutur Kuturan”

Ongkara Untuk Menuju Sat(Yang Tak Berwujud)

Ongkara Simbol Suci

Ongkara Simbol Suci

Seperti penjelasan diatas Ongkara merupakan simbol suci untuk mempermudahkan umat manusia untuk menuju Tuhan, SAT(yang tak berwujud) Dari Ongkara muncullah Dwi Aksara yaitu Ang dan Ah. Dwi Aksara juga adalah perlambang Rwabhineda (Dualitas), Ang adalah Purusa (Bapa Akasha) dan Ah adalah Prakerti (Ibu Prtivi).
Pada tahapan berikutnya, dari Dwi Aksara ini muncullah Tri Aksara, yaitu Ang, Ung dan Mang. Dari banyak sumber pustaka, dikatakan bahwa AUM inilah yang mengawali sehingga muncullah OM. (Apakah ini petunjuk bahwa ONG itu lebih dulu/tua daripada OM?)

Pada tahapan berikutnya, dari Tri Aksara muncullah Panca Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, dan ING. Dari Panca Aksara kemudian muncullah Dasa Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, dan YANG.

Pada arah mata angin, Dasa Aksara terletak berurutan dari Timur = SANG, Selatan = BANG, Barat = TANG, Utara = ANG, dan tengah-tengah/poros/pusat = ING, kemudian Tenggara = Nang, Barat Daya = Mang, Barat Laut = SING, Timur Laut = WANG dan tengah-tengah/poros/pusat = YANG. Ada dua aksara yang menumpuk di tengah-tengah, yaitu ING dan YANG. (Apakah ini asal muasal YING dan YANG?)

Tapak Dara (+) adalah simbol penyatuan Rwabhineda (Dualitas), (|) dan segitiga yang puncaknya ke atas, mewakili Purusa/Bapa Akasha/Maskulin/Al/El/God/Phallus. Sedangkan (-) dan segitiga yang puncaknya ke bawah mewakili Prakerti/Ibu Prtivi/Feminim/Aloah/Eloah/Goddess/Uterus.

Hanya dengan melampaui Rwabhineda (dualitas), menyatukan/melihat dalam satu kesatuan yang utuh/keuTUHAN, maka pintu gerbang menuju Sat akan ditemukan. KeuTUHAN disini, bukan menjadikan satu, namun merangkum semuanya, menemukan intisari dari semua perbedaan yang ada tanpa menghilangkan atau menghapus perbedaan yang ada. Bukan juga merangkul semuanya dalam satu sistem tertentu, bukan juga untuk satu agama tertentu, tapi temukan dan kumpulkanlah semua serpihan kebenaran yang ada di setiap perbedaan yang membungkusnya. Inilah BHINEKA TUNGGAL IKA TAN HANNA DHARMA MANGRWA.

Terima kasih:

  1. Ida Bhegawan Dwija
  2. Dede Yasa Varmadeva
  3. KMHDI Sulawesi Selatan

Weda, Kitab Suci Agama Hindu


Weda adalah kitab suci Agama Hindu, kata Weda berasal dari bahasa sanskerta “VID” yang berarti Ilmu Pengetahuan. Weda merupakan kumpulan sastra-sastra dari zaman india kuno yang sangat banyak dan sangat luas. Dalam Hindu, Weda termasuk dalam Sruti (secara harfiah berarti “yang didengar”). Weda merupakan kumpulan wahyu dari Brahman(Tuhan) yang diturunkan kepada para Rsi.

reg_veda_samhitaWeda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa.

Bahasa Weda
Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci.

Pembagian dan Isi Weda
Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. Baik Sruti maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas.

Srutistu wedo wijneyo dharma
sastram tu wai smerth,
te sarrtheswamimamsye tab
hyam dharmohi nirbabhau. (Manawa Dharmasastra 11.1o).

Artinya:
Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)

Weda khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam,
acarasca iwa sadhunam
atmanastustireqaca. (Manawa Dharmasastra II.6).

Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).

Srutir wedah samakhyato
dharmasastram tu wai smrth,
te sarwatheswam imamsye
tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).

Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.

Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha.
Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda, maka dibawah ini akan diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut:

SRUTI

Sruti adalah kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti adalah Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima melalui pendengaran, yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau himpunan. Oleh karena itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita (Samhita artinya himpunan). Adapun kitab-kitab Catur Weda tersebut adalah:

Rg. Weda atau Rg Weda Samhita.
Adalah wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Rg Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552 mantra dan seluruhnya terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan VIII, disamping menguraikan tentang wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu. Wahyu Rg Weda dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha.

Sama Weda Samhita.
Adalah Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi Jaimini.

Yajur Weda Samhita.
Adalah Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Weda. Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan mantranya berjumlah 1.975 mantra. Yajur Weda terdiri atas dua aliran, yaitu Yayur Weda Putih dan Yayur Weda Hitam. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana.

Atharwa Weda Samhita
Adalah kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda terdiri dari 5.987 mantra, yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya adalah doa-doa untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Wahyu Atharwa Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu.

Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Weda maka dapat diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerah Punjab. Sedangkan ketiga Weda yang lain (Sama, Yayur, dan Atharwa Weda), dikodifikasikan di daerah Doab (daerah dua sungai yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna.
Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya adalah penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain upacara. Disamping kitab Brahmana, Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad.
Kitab Aranyaka isinya adalah penjelasan-penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana. Sedangkan kitab Upanisad mengandung ajaran filsafat, yang berisikan mengenai bagaimana cara melenyapkan awidya (kebodohan), menguraikan tentang hubungan Atman dengan Brahman serta mengupas tentang tabir rahasia alam semesta dengan segala isinya. Kitab-kitab brahmana digolongkan ke dalam Karma Kandha sedangkan kitab-kitab Upanishad digolonglan ke dalam Jnana Kanda.

SMERTI

Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi. Secara garis besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda.

Kelompok Wedangga:
Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu:

  1. Siksa (Phonetika), Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.
  2. Wyakarana (Tata Bahasa), Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar.
  3. Chanda (Lagu), Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.
  4. Nirukta, Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat didalam Weda.
  5. Jyotisa (Astronomi), Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.
  6. Kalpa, Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan upacara keagamaan. Sedangkan kitab Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. Lebih lanjut, bagian Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan Sulwasutra, adalah memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.

Kelompok Upaweda:
Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

Itihasa
Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.

Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. Isinya adalah menceritakan kehidupan keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata “Iti”, “ha” dan “asa” artinya adalah “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya”) maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.

Diantara parwa-parwa tersebut, terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita, yang amat masyur isinya adalah wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.

Purana
Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.

Arthasastra
Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.

Ayur Weda
Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit, ilmu obat-obatan, ilmu psikotherapy, ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu toksikologi, ilmu mujizat dan ilmu jiwa remaja.

Disamping Ayur Weda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai berbagai jens penyakit yang umum, ilmu pathologi, ilmu anatomi dan embriologi, ilmu diagnosis dan pragnosis, pokok-pokok ilmu therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda, adalah kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan rohani.

Gandharwaweda
Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu adalah disiplin ilmu, karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna.

Terima kasih:

  1. Parisada Hindu Dharma Indonesia
  2. Wikipedia
  3. Drs. Anak Agung Gde Oka Netra

Artikel Terkait:

  1. Hindu, Agama Bumi? Lalu Weda itu Ilmiah ?
  2. Memperbaiki prilaku dengan Weda Abyasa
  3. Judi dalam Kitab Rg Weda

Umat Hindu Dan Ajeg Bali Di Era Globalisasi


Stitidharma.org | Agama Hindu bukanlah agama dogmatik, bukan agama yang berdasarkan atas dogma. Hindu adalah agama yang berdasarkan dharma. Hindu juga disebut sanatana dharma, atau kebenaran yang abadi.

Apakah dogma? Dogma adalah kepercayaan yang tidak boleh dipertanyakan dan yang selalu harus diyakini sebagai kebenaran, bahkan jika itu tidak masuk akal atau irasional.

Misalnya:

  • kepercayaan bahwa semua manusia telah berdosa sejak lahir
  • kepercayaan tentang kebangkitan tubuh setelah mati
  • kepercayaan bahwa suatu agama telah memonopoli kebenaran
  • bahwa hanya pemeluk agama tersebut yang bisa masuk sorga
  • kepercayaan bahwa setiap manusia telah ditentukan nasibnya oleh Tuhan secara sepihak
  • kepercayaan boleh membunuh manusia lain yang tidak seagama demi untuk membela serta mengunggulkan agama yang dianutnya

Itulah contoh-contoh dogma yang irasional dari suatu agama tertentu namun harus diyakini oleh pemeluknya sebagai suatu kebenaran.

Dharma adalah prinsip kebenaran universal dan kebenaran hukum alam abadi. Dharma adalah hukum universal yang dapat ditemukan melalui penyelidikan objektif.

Sebagai contoh, dharma sebagai sifat api suci; seseorang tidak dapat membayangkan api yang tidak membakar; dalam kaitan ini dharma akan selalu membakar atau memusnahkan adharma.

Dharma mempunyai prinsip-prinsip etika dan spiritual antara lain: dasar-dasar Yoga seperti: tidak menyakiti (ahimsa), kebenaran (satya) pengendalian diri (tapa), serta etika dan kewajiban manusia yang diulas dalam Yama dan Niyama-brata.

Prinsip dharma yang lain adalah hukum karma-phala, yakni buah dari segala perbuatan yang pasti akan diterima kembali oleh manusia baik di masa kini, di kehidupan kemudian, dan di dunia niskala.

Dengan berpegang pada hukum karma-phala manusia dibimbing untuk berbuat (kayika), berbicara (wacika), dan berpikir (manacika) yang baik.

Agama-agama dogmatik sangat menekankan pada iman yang harus diyakini secara bulat. Pemeluk agama jenis ini bisa mengatakan: “Percayalah, atau masuklah agama kami, maka kalian akan selamat dan masuk sorga”.

Tetapi Hindu sebagai agama yang berdasarkan dharma, akan selalu menekankan pada perilaku yang baik dalam berbuat, berkata, maupun berpikir. Seorang Hindu akan senantiasa menganjurkan: “Lakukanlah perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang baik, maka kalian akan selamat.”

Akibat kaidah yang demikian pada kehidupan manusia adalah: Pemeluk agama-agama dogmatik memisahkan antara ibadah dengan perilaku, karena cukup dengan percaya saja dan taat melakukan ibadah sesuai kitab sucinya, sudah menjadi “jaminan” akan masuk sorga, atau dapat saja ibadah dianggap sebagai penghilang dosa.

Mereka bersifat sangat eksklusif, merasa memonopoli kebenaran, mempunyai kecenderungan untuk menaklukkan, menguasai, dan mengendalikan. Sebagai konsekuensinya, disadari atau tidak, sering menganjurkan kebencian. Dari kebencian lahir kekerasan terhadap orang-orang beragama lain.

Sebaliknya pemeluk sanatana dharma menyatukan keyakinan, ibadah, dan perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip yang jelas, Hindu mengajarkan bahwa dosa-dosa dalam kehidupan tidak dapat dihapuskan hanya dengan kepercayaan dan ibadah saja, namun harus pula diimbangi dengan perilaku dharma.

Bagaikan sinar matahari yang terik, maka bila ada hembusan angin dan awan, teriknya tak terasa, demikianlah dosa yang telah tertutup oleh dharma.

Agama yang berdasarkan dharma tidak memiliki ambisi untuk menaklukkan dan menguasai karena tujuan agama bukan untuk menjadi imperialisme politik dan budaya, tetapi untuk mencapai kesadaran diri atau pencerahan spiritual. Itulah agama universal yang sesungguhnya.

Ajaran Veda dalam Hinduism yang demikian humanis membuat Hindu menjadi agama terbesar di dunia, karena ia melayani keperluan setiap manusia, apapun suku, bangsa, dan agamanya. Ia tidak hanya sekedar suatu agama, tetapi ia adalah jalan spiritual dan cara hidup.

Veda adalah wahyu Tuhan kepada umat manusia karena itu ajaran-ajarannya akan hidup sepanjang masa. Veda memberikan jalan yang terbuka bagi umat manusia yang ingin mencapai kebahagiaan lahir bathin dalam pola hidup sederhana namun berpikiran tinggi dan mulia, atau populer dengan istilah: “simple living high thinking”.

Veda tidak menginginkan umat manusia bertindak hanya di atas landasan keberadaan tubuh (just on the bodily platform of existence), tetapi Veda lebih menekankan pada tendensi kesehatan spiritual.

Dari aspek spiritual yang sehat akan terwujudlah emosional yang sehat, serta intelegensial dan physical yang sehat pula. Ajaran Veda yang mulia ini banyak dikutip oleh psikolog terkemuka dengan istilah: “living healthy” sebagai kondisi mutlak bagi kesehatan yang menyeluruh bagi umat manusia.

Tanpa disadari, umat Hindu telah memiliki sesuatu yang sangat bernilai, sangat mulia, dan kekal-abadi.

Kita telah mempunyai prinsip-prinsip jati diri yang tiada taranya. Sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa dengan berpedoman pada prinsip-prinsip ajaran Veda, masyarakat Hindu dapat mencapai mokshartam jagaditaya ca iti dharmah.

Lihatlah Nusantara di zaman keemasan Majapahit dengan rajanya Tribuwana Tunggadewi sampai Hayam Wuruk; Bali di zaman keemasan Kerajaan Gelgel dengan rajanya yang terkenal Dalem Waturenggong sampai Dalem Seganing.

Sejarah pula membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya itu memudar dan akhirnya runtuh, karena rakyat dan para pemimpinnya kehilangan jati diri ke-Hindu-an.

Ajaran-ajaran Veda banyak ditinggalkan atau dimanipulasi untuk kepentingan sesaat; para Pendeta dan kelompok rohaniawan tidak mendapat kedudukan yang wajar serta petuah-petuahnya tak dihiraukan.

Penyimpangan-penyimpangan perilaku masyarakat makin lama makin meluas seiring dengan kemajuan iptek dan informasi.

Jaman bergulir menuju kaliyuga, di mana masyarakat mengalami kemajuan yang pesat dalam aspek-aspek material namun semakin miskin dalam aspek spiritual. Masyarakat yang dinamis ini terperangkap pada masalah-masalah keduniawian.

Era globalisasi mempersempit dunia dan menjadikannya tanpa batas, dalam artian informasi apapun yang ada, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya, segera berpengaruh ke seluruh dunia.

Ciri utama globalisasi adalah perubahan yang sangat cepat dalam segala bentuk tatanan dan nilai-nilai kehidupan, sehingga disimpulkan bahwa barang siapa yang tidak mengikuti perubahan akan tertinggal, bahkan tergilas oleh zaman.

Masyarakat yang hidup dalam dunia global harus memiliki kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dan kekuatan untuk berubah.

Ke manakah arah perubahan itu, dan sudahkah diutarakan dalam kitab suci Hindu?

Pandangan Hindu memberikan ruang bagi perubahan-perubahan yang esensial. Kitab Parasara Dharmasastra 1.33 menyebutkan:

YUGE YUGE CA YE DHARMAS TATRA TATRA CA YE DVIJAH, TESAM NINDA NA KARTTAVYA YUGA RUPA HI TE DVIJAH

Aturan dan etika yang berlaku pada setiap zaman selalu berbeda; kaum cendekiawan yang memimpin perubahan masyarakat di suatu zaman tertentu tidak bisa disalahkan karena sesungguhnya dari perubahan itulah suatu zaman terwujud.

Walaupun demikian, perubahan yang dimaksud dalam kitab-kitab suci Hindu, tetap mengingatkan bahwa ajaran Veda tidak membolehkan pelanggaran dharma, dan senantiasa menganjurkan kedamaian, kerukunan hidup bermasyarakat, menghindari ketegangan, dan mencegah konflik.

Meski prinsip-prinsip dharma mengandung kebenaran hakiki sehingga ia dinamakan sanatana dharma, tetapi peraturan-peraturan mengalami perubahan dari masa ke masa karena merupakan produk waktu dan juga akan selalu digantikan oleh waktu.

Oleh karena itu dharma tidak dapat diidentikkan dengan institusi-institusi tertentu. Dharma tetap bertahan karena berakar pada kealamiahan manusia dan akan tetap hidup abadi.

Metoda dharma adalah metoda perubahan eksperimental. Semua institusi adalah eksperimen, bahkan kehidupan ini adalah eksperimen.

Manusia sebagai agent of development tidak dapat mentransfer kebiasaan-kebiasaan dari suatu masa ke masa yang lainnya begitu saja, tanpa mengadakan perubahan dan penyesuaian.

Gagasan-gagasan moral mengenai hubungan-hubungan sosial tidak bersifat absolut, tetapi bersifat relatif terhadap kebutuhan dan kondisi dari jenis masyarakat yang berbeda. Walaupun dharma bersifat kekal, tetapi ia tidak mempunyai isi yang absolut sehingga mampu menembus batas waktu.

Satu-satunya yang kekal dengan moralitas manusia adalah hasrat manusia untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi waktu dan kondisi yang menentukan ‘apa yang lebih baik’ dalam setiap situasi.

Bentuk-bentuk tindakan dianggap baik atau buruk pada tahapan peradaban manusia berbeda, bergantung apakah itu meningkatkan atau menghambat kebahagiaan manusia.

Fleksibilitas sosial telah menjadi karakter utama Hindu-Dharma. Maka oleh karena itu mempertahankan sanatana dharma tidaklah dilakukan dengan berdiam diri saja, tetapi dengan menguasai prinsip-prinsip vital dan menerapkannya dalam kehidupan modern.

Suatu bangsa yang maju akan senantiasa mampu memberikan makna bagi pegalaman-pengalamannya di masa lalu. Prinsip-prinsip dharma dalam skala nilai harus dipertahankan di dalam dan melalui tekanan-tekanan pengalaman baru.

Hanya dengan jalan itu akan terbuka kemungkinan untuk mencapai kemajuan sosial yang integral dan seimbang.

Kaum intelektual Hindu harus mampu memperkenalkan perubahan-perubahan, mengelola sedemikian rupa sehingga membuat Hindu-Dharma relevan pada situasi-situasi modern.

Perubahan-perubahan itu adalah dampak masuknya kekuatan-kekuatan baru ke dalam masyarakat antara lain: industrialisasi ke dalam sektor agraris, penghapusan hak istimewa dengan pola kemanfaatan bersama, masuknya orang-orang non Hindu ke dalam masyarakat Hindu, emansipasi wanita versus otoritas lelaki, dan percampuran ras/ suku/ agama melalui perkawinan.

Masyarakat yang maju dalam iklim perubahan akan tercapai bila kondisi ideal yang ingin dicapai lebih baik dari kondisi aktual. Artinya pemikiran-pemikiran cemerlang dari kaum intelektual mampu membuahkan gagasan baru, inovasi dan kreasi, baik dalam iptek maupun dalam tatanan sosial.

Mereka hendaknya selalu berorientasi pada pelayanan masyarakat dengan integritas intelektual.

Berbekal pada pemahaman uraian di atas, jika melihat situasi dan kondisi umat Hindu di Bali dewasa ini, maka wacana “Ajeg-Bali” sangat patut dilontarkan ke tengah-tengah masyarakat yang tak luput dari pengaruh-pengaruh globalisasi baik yang sifatnya positif, maupun yang negatif.

Pada tataran individu, Ajeg-Bali dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki cultural confidence, yaitu keyakinan untuk memegang keteguhan jati diri yang bersifat kreatif meliputi segala aspek, dan tidak hanya terpaku pada hal-hal fisikal semata.

Pada tataran lingkungan budaya, Ajeg-Bali dimaknai sebagai terciptanya ruang hidup budaya Bali yang bersifat inklusif, multi kultur dan selektif terhadap pengaruh-pengaruh luar.

Pada tataran proses kultural, Ajeg-Bali adalah interaksi manusia Bali dengan ruang hidup budaya Bali untuk melahirkan produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses berdasarkan nilai-nilai moderat, non dikotomis, berbasis pada kearifan lokal serta memiliki kesadaran lingkungan di saat yang tepat.

Dari ketiga tataran di atas, disepakati bahwa Ajeg-Bali bukanlah suatu konsep yang stagnan, melainkan sebuah upaya pembaharuan terus menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali.

Tujuannya jelas untuk menjaga identitas, jati diri, ruang, serta proses budaya Bali. Upaya ini akan bermuara pada peningkatan kekuatan manusia-manusia Bali agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global.

Ajeg-Bali bukanlah sebuah proses involusi, tetapi sebuah proses evolusi yakni pengembangan dan kreasi dari keunggulan-keunggulan local-genius, kearifan, pengetahuan tradisionil yang dilandasi oleh sanatana dharma sehingga terjadi pelestarian yang dinamis.

Dengan demikian Bali yang ajeg akan muncul sebagai sebuah keunggulan budaya yang sanggup bertahan dan bersaing dalam dunia global.