Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Monthly Archives: July 2013

Tujuan Puasa Dalam Hindu


Apakah tujuan puasa dalam agama Hindu?? apakah untuk menebus dosa? atau mendapatkan pahala?? jika tujuannya untuk menebus kesalahan atau dosa, begitu mudahnya dosa atau kesalahan dapat di hapuskan hanya dengan berpuasa? 
Puasa dalam ajaran Hindu dimaksudkan sebagai sebuah upaya mendisiplinkan diri terhadap makanan. Disiplin ini bisa bermakna mengurangi, membatasi atau menihilkan sama sekali makanan yang masuk ke dalam tubuh. Tujuannya bukanlah untuk mengumpulkan pahala kebaikan atau untuk menghapus dosa, tetapi puasa untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Puasa berasal dari kata Upa-Wasa, di mana Upa artinya mendekat dan Wasa artinya Yang Maha Kuasa. Jadi, puasa dalam Hindu merupakan bagian dari tapa yaitu unsur keimanan yang kelima dalam urutan sesuai ketentuan Atharwa Weda XII,1.1. Kata tapa mempunyai arti pengendalian terhadap napsu: napsu makan, minum, sex serta hiburan. Oleh karena itu kita dituntut hidup dalam koridor kesucian. Sedangkan aplikasi daripada tapa berbentuk brata yaitu pengendalian indria. 

Dalam berbagai agama maupun tradisi spiritual terdapat ajaran tentang puasa yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu oleh pengikut suatu ajaran. Secara umum tampaknya kegiatan puasa ini ditujukan kepada suatu pencapaian sebuah peningkatan rohani, karena melalui puasa orang belajar untuk memurnikan pikirannya. 

Karena setelah pikiran semakin murni, maka anasir-anasir rangsangan panca indra yang setiap hari dominan dalam mengendalikan persepsi bisa ditekan. Akhirnya puasa memberikan kejernihan pikiran untuk menyusun persepsinya, sehingga kualitas ucapan dan tindakan pun semakin baik. Kalau sudah demikian tentu yang dihasilkan adalah karma-karma baik. Tapi mengapa umat Hindu di Bali tak begitu populer dengan kebiasaan puasa?

“Sebenarnya bukannya puasa tak populer di Bali, tetapi pelaksanaannya bersifat pilihan, bukan sebuah keharusan,” ujar Drs. Made Surada, MA, Dekan Fakultas Dharma Duta, IHDN Denpasar beberapa waktu lalu. Menurutnya, mengapa seorang pemeluk Hindu tak diharuskan melakukan puasa, karena dalam Hindu ada dua jalan dalam mempraktikkan agama, yaitu Prawerti Marga dan Niwrti Marga. Prawerti Marga adalah jalan yang dilakukan atau dipilih oleh orang-orang awam atau masyarakat kebanyakan dan biasanya bercorak Bhakti Marga dan Karma Marga. Nah, dalam jalan bhakti khususnya di Bali lebih menonjolkan ritual atau upacara sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. 

Jalan bhakti ini tidak mengutamakan cara memahami hakikat Brahman dengan pemahaman teologi atau tattwa lewat jnana atau mengasah sidhi lewat Raja Yoga, namun Bhakti Yoga dan Karma Yoga menitikberatkan pada aspek pengabdian, penyerahan diri, ketundukan hati, kecintaan, kepasrahan, dan lainnya. Dan perlu diketahui, bahwa dalam pelaksanaannya cara-cara demikian ini bisa dilakukan secara beramai-ramai. Misalnya piodalan di pura, Hari Raya Galungan-Kuningan, Hari Raya Saraswati dan sebagainya yang biasa dilakukan secara massal, bersamaan dan meriah.

Kemudian dalam cara kedua, yaitu Niwrti Marga adalah yaitu pelaksanaan beragama yang lebih bersifat individual, penggalian potensi pribadi, membangkitkan kemampuan jnana (pengetahuan), melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi. Yang diutamakan dalam praktik beragama melalui jalan ini adalah pengalaman subjektif, kepuasan bathin lewat pemahaman intelek, budhi, dan kesadaran spiritual. Karena sifatnya serius dan lebih individualistik, maka mustahil bisa dilakukan ramai-ramai. Made Surada lantas memberi contoh: jika ada dua orang bertapa di pura, maka belum pasti keduanya memperoleh paica (anugerah tertentu), jadi ini sifatnya pribadi sekali antara manusia dengan penciptanya atau Ida Bhatara yang disembahnya.

Ajaran Niwrti Marga ini juga kemudian menelorkan konsep aja wera (jangan diumbar), maksudnya ajaran-ajarannya dirahasiakan, karena memang sangat metodis, teknis, yang membutuhkan ketelitian dan ketepatan. Kalau ajaran ini diumbar kepada umum, maka akan mungkin ada sembarang orang belajar tanpa pembimbing bonafid (nabe-guru). Sistem coba-coba dan otodidak ini kemudian yang kerap memunculkan orang menjadi gila, akibat metoda yang ngawur. Semua akibat ini semata-mata karena faktor alamiah belaka, di mana cara Raja Yoga atau Jnana Yoga banyak berhubungan dengan pikiran dan mentalitas. Dan berbagai sensasi mentallah yang biasanya kerap membuat kebingungan. 

Bila sensasi mental pelaku jnana dan Raja Yoga ini muncul akibat proses pembiakan berpikir dan proses pembangkitan energi-energi tertentu yang mestimuli alam mental, maka halusinasi yang dikira penampakan dewa-dewa akan menjadikan seseorang bingung dan tersesatkan. Dengan demikian kehadiran guru adalah mutlak sebagai ‘guide’ spiritual. Jadi istilah aja wera bukan dogmatis untuk memonopoli sebuah ilmu, tetapi memberikan jaminan keamanan bagi mereka yang ingin menempuh jalan ini, yaitu mencari guru.

Niwrti Marga melalui tapa, brata, yoga samadhi bertujuan untuk mencapai Nirbhija Samadhi (samadhi tertinggi) atau kemanunggalan dengan Pencipta. Bagi mereka yang menempuh jalan bhakti maupun Karma Yoga juga tujuannya pada kemanunggalan tersebut, tetapi perbedaannya adalah pada soal teknis. Ini disebabkan, karena agama Hindu memberikan banyak pilihan sesuai kemampuan dan kesenangan umatnya. Hindu bukanlah agama doktrin atau kitabiah, di mana segala sesuatunya harus persis seperti dalam Weda atau lontar-lontar tertentu. Kendati dalam praktik banyak variasi, namun esensinya tetap sama.

Dalam tahap tapa artinya mengendalikan energi. Tapa=tap=panas, yaitu energi tubuh. Untuk mengendalikan energi tubuh ditempuh lewat brata yaitu berpantang hal-hal yang merugikan usaha-uasa pengendalian tersebut. Bila sudah terkendali, maka usaha yoga atau penyatuan bisa lebih ringan. Dan kalau sudah demikian pencapaian samadhi tinggalah soal ketekunan dan karunia.

Kalau demikian adanya, manakah lebih tinggi mutunya, orang menempuh Niwrti Marga yang tekun berpuasa atau Prawrti Marga yang rajin melakukan ritual? Bagi Made Surada, kedua jalan sama saja, tergantung bagaimana individu pelakunya. Tuhan bersifat Sarvam Kaluidham Brahman (Tuhan ada di mana-mana) dan bisa dicapai lewat berbagai jalan. 

Meskipun tak pernah puasa, penekun Bhakti Yoga pun senantiasa mengarahkan pikirannya (dhyana) saban hari kepada Tuhan. Cobalah tengok setiap hari orang Bali mererainan, Kajeng-Kliwon, Anggara Kasih, Tumpek, Buda Kliwon, Nyepi, Saraswati, Pagerwesi, Siwaratri, Piodalan, mesaiban dan lusinan ritual kecil. Cara-cara ini akhirnya menyebabkan pelakunya saban waktu eling ring Ida Bhatara. Setiap hari ingat Tuhan sama nilainya dengan japa (mengulang-ulang nama Tuhan) atau dzikir.

Dengan demikian tradisi-tradisi di Bali perlu dipahami lebih mendalam dalam rangka mengetahui maknanya, bahwa ritual-ritual tersebut sesungguhnya disusun sedemikian rupa berdasarkan tingkatan jnana yang maha tinggi. Persoalannya adalah bukan berdebat soal jalan mana paling tepat dan baik, tetapi bagaimana kualitas pikiran, ucapan dan tindakan setelah menekuni berbagai jalan itu. Tiga komponen itulah parameter seseorang beragama atau tidak.

Terima kasih kepada: Majalah Raditya

Artikel terkait: Puasa Dalam Agama Hindu

Advertisements

Cara Sembahyang Agama Hindu


Artikel Cara melakukan sembahyang agama Hindu ini saya share dari Pemilik Jero Mangku Sudiada, beliau merupakan salah satu sulinggih Hindu yang aktif menulis untuk kepentingan umat Hindu dimana pun berada. Berikut adalah persiapan sebelum melakukan sembahyang.

Persiapan Kebersihan Jasmani:

  • Menggosok gigi: Om shri bhatari sayoga ya namah svaha – Ya Tuhan, besihkalah gigi hamba dari segala kotoran.
  • Berkumur: Om vaktra suddha mam svaha – Ya tuhan, bersihkalah mulut hamba dari segala kotoran.
  • Mandi: Om parama gangga sarira suddha mam svaha – Ya Tuhan, bersihkanlah seluruh badan hamba dengan air ini dari kotoran.
  • Mencuci tangan: Om Ung Hrah Phat astra ya namah svaha – Ya Tuhan, bersihkanlah tangan hamba dari kotoran.
  • Mencuci kaki: Om Pang pada ya namah svaha – Ya Tuhan, bersihkanlah kaki hamba dari kotoran.
  • Keramas: Om Ghring Siva ya namah svaha – Ya Tuhan, bersihkanlah rambut hamba dari kotoran.
  • Bercermin: Om vesnava ya namah svaha – Ya Tuhan, anugrahkalah sinar kesucian kepada hamba.
  • Bersisir: Om shri dewi byo namah svaha – Ya Tuhan, anugrahkanlah kewibawaan kepada hamba.
  • Mengambil pakaian: Om sarva busana ya namah svaha- Ya Tuahan, sucikanlah pakaian hamba.
  • Berpakaian: Om Siva busana ya namah svaha – Ya Tuhan, hamba memujaMu dalam prabhavaMu sebagai Siva semoga menyatu dalam jasmani hamba.
  • Mekampuh: Om Mahadeva ya namah svaha – Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai Mahadeva yang menyatukan sabda-bhayu-idep dalam jasmani hamba.

Persiapan Sarana:

  • Alas duduk (tikar, karpet, dsb)
  • Sebuah nampam yag berisikan: Sebuah gelas/tempat tirtha berisi air bersih (diletakkan di pelingih, pelangkiran, altar, sanggar pemujaan)- untuk memohon tirtha wangsuhpada.
  • Sebuah mangkok kecil berisi beras yang sudah dicuci bersih diberi wewangian (bija)
  • Dupa secukupnya
  • Bunga / canang sari / kwangen secukupnya

Persiapan rohani:

  • Pemusatan pikiran dengan sikap: Padmasana (untuk pria), Bajrasana (unuk wanita), Padasana (berdiri), Savasana (untuk orang sakit), dsb.
  • Menyalakan dupa: Om Ang dupam samarpayami ya namah svaha – Ya Tuhan, hamba puja Engkau dalam sinar suciMu sebagai Brahma, pengantar bhakti hamba kepadaMu.
  • Menghaturkan dupa: Om Ang dupa dipastra ya namah svaha – Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai Brahma, hamba mohon ketajaman sinar sucimu dalam menyucikan dan menjadi saksi sembah hamba kepadaMu.
  • Membersihkan bunga dengan asap dupa: Om puspa danta ya namah svaha – Ya Tuhan, sucikanlah kembang ini dari segala kotoran.
  • Asana: Om prasada sthiti sarira Siva suci nirmala ya namah svaha – Ya Tuhan, anugrahkanlah kepada hamba ketenangan dan kesucian dalam batin hamba.
  • Pranayama dengan sikap tangan Amustikarana: 
  1. Menarik napas; Om Ang namah – Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai pencipta dan sumber dari segala kekuatan, anugrahi hamba kekuatan batin
  2. Menahan napas: Om Ung namah – Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai pemelihara dan sumber kehidupan anugrahi hamba ketenangan batin
  3. Mengeluarkan napas: Om Mang namah – Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai pelebur segala yang tidak berguna dalam kehidupan, anugrahi hamba kesempurnaan batin.
  • Karasoddhana
  1. Tangan kanan: Om Soddha mam svaha – Ya Tuhan, sucikanlah seluruh badan jasmani hamba
  2. Tangan kiri: Om Ati soddha mam svaha – Ya Tuha, sucikanlah seluruh badan rohani hamba

Puja Tri Sandhya

Om bhur bhuvah svah
Tat savitur varenyam
Bhargo devasya dhimahi
Dhyo yo nah praccodayat
Ya Tuhan, yang menguasai ketiga dunia ini, Yang Mahasuci dan sumber dari segala kehidupan, anugrahi hamba sinar penerangan dengan cahayaMu Yang Mahasuci

Om narayana evedam sarvam
Yad bhuta yasca bhavyam
Niskalangko niranjano nirvikalpo
Nirakhyatah suddho deva eko
Narayano na dvityo’sti kascit
Ya tuhan, hamba puja Engkau sebagai Narayana pencipta alam semesta beserta isinya, Engkau Mahagaib, tak berwujud, dan tak terbatas oleh waktu, dapat mengatasi segala kebingungan, Engkau Mahasuci, Mahaesa, dan tidak ada duanya, dan dipuja oleh semua mahluk

Om tvam sivah tvam mahadeva
Isvarah paramesvarah
Brahma visnusca rudrasca
Purusah parikirtitah
Ya Tuhan, Engkau hamba puja dalam sinar suci dan saktiMu sebagai Siva, Mahadeva, Isvara, Paramesvara, Brahma, Visnu, dan juga Rudra, karena Hyang Widhi adalah sumber dari segala yang ada

Om papo’ham papakarmaham
Papatma papasambhavah
Trahi mam pundarikaksa
Sabahya bhyantarah sucih
Ya Tuhan, hamba ini penuh dengan kenestapaan, perbuatan hamba penuh dengan kenestapaan, jiwa dan kelahiran hamba penuh dengan kenestapaan, hanya Engkaulah yang dapat menyelamatkan hamba dari kenestapaan itu, semoga dapatlah disucikan lahir-bathin hambaMu ini.

Om ksamasva mam mahadevah
Sarva prani hitangkara
Mamoca sarve papebhyah
Phalayasva sadasiva
Ya Tuhan, ampunilah hamba hyang Widhi, yang memberikan keselamatan semua mahluk, ampuni hamba dari segala dosa, dan limpahkanlah perlindungan kepada hamba.

Om ksantavah kayiko dosah
Ksantavyo vaciko mama
Kksantavyo manaso dosah
Tat pramadat ksamasva mam
Ya Tuhan, ampunilah segala dosa hamba, baik yang berasal dari perbuatan, perkataan, dan pikiran, maupun dari segala kesalahan hamba

Om santih santih santih Om
Ya Tuhan, semoga ada kedamaian dalam hati, di dunia, dan semuanya damai untuk selamanya atas anugrahMu.

Kramaning Sembah

  • Muspa Muyung: Om Atma tattvatma suddha mam svaha – Ya Tuhan, Engkau adalah merupakan sumber Atman dari semua ciptaanMu, sucikanlah hambaMu.
  • Muspa dengan bunga ke hadapan Siva Adhitya sebagai saksi pemujaan:

Om Adityasya param jyotih
Rakta teja namo’stute
Sveta pangkaja madhyasta
Bhaskaraya namo’stute
Om Hrang Hring Sah paramasiva adhitya ya namah svaha
Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai sumber cahaya yang merah cemerlang, penuh kesucian yang bersemayam di tengah-tengah teratai berwarna putih, sembah sujud hamba kepada sumber segala cahaya, Ya Tuhan, Engkau adalah ayah semesta alam, ibu semesta alam, Engkau adalah Paramasiva devanya matahari,anugrahkanlah kesejahtraan lahir-bathin.

  • Muspa dengan kwangen/bunga ke hadapan Hyang Widhi dengan Ista devataNya:

Om namo devaya adhistanaya
Sarva vyapi vai sivaya
Padmasana eka prathistaya
Ardhanaresvarya namah svaha
Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai sumber sinar yang bersinggasana di tempat paling utama, hamba puja sebagai Siva penguasa semua mahluk, kepada devata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.

  • Muspa dengan kwangen/bunga kehadapan Hyang Widhi untuk memohon waranugraha:

Om anugraha manoharam
Deva datta nugrahaka
Arcanam sarva pujanam
Namh sarva nugrahaka
Deva devi mahasiddhi yajnangga nirmalatmakam
Laksmi siddhisca dirgahayuh
Nirvighna sukha vrddhisca
Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian devata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah, kemahasiddian pada deva dan devi berwujud yajna suci. Kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.

  • Muspa Muyung, sebagai penutup persembahyangan:

Om deva suksma paramacintya ya namah svaha
Om santih santih santih Om
Ya Tuhan, hamba memuja Engkau devata yang tak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugrahkanlah kepada hamba kedamaian, damai, di hati, damai di dunia, dan semoga semuanya damai atas anugrahMu

Pemercikan Tirtha

  • Doa ketika metirtha:

Om Ang Brahma amrta ya namah
Om Ung Visnu amrta ya namah
Om Mang Isvara amrta ya namah
Ya Tuhan, dalam wujud Brahma
Ya Tuhan , dalam wujud Visnu
Ya Tuhan, dalam wujud Isvara
Anugrahkan air suci kepada hamba

  • Doa minum tirtha:

Om Om sarira ya namah
Om Om sadasiva ya namah
Om Om paramasiva ya namah
Ya Tuhan sebagai Siva, Sadasiva, Paramasiva, anugrahilah badan dan rohani ini air suci

  • Doa ketika meraup tirtha:

Om Om sarira purna ya namah
Ang Ung Mang gangga amrta ya namah
Sarira suddha parama teja ya namah
Om Ang sama sampurna ya namah
Ya Tuhan, sempurnakanlah badan ini, Ya Tuhan sebagai perwujudan gangga amrta, anugrahilah diri kami kesucian, sinar yang maha suci, yang maha sempurna

Memasang Bija

  • Diletakkan di selaning lelata: Om shriyam bhavantu – Ya Tuahan, semoga kebahagiaan meliputi kami
  • Diletakkan di pangkal tenorokan: Om sukham bhavantu – Ya Tuhan, semoga kesenangan selalu datang pada hamba
  • Ditelan tanpa dikunyah: Om purnam bhavantu, Om ksama sampurna ya namah svaha – Ya Tuhan, semoga segala kesempurnaan menjadi bertambah sempurna pada diri hamba

Memasang bunga

  • Diletakkan di ubun-ubun: Om Siva Raditya ya namah svaha – Ya Tuhan, sebagai saksi semuanya, semoga hamba selalu dapat mengingatMu.
  • Diletakkan di kedua telinga: Om deva shri devi ya namah svaha – Ya Tuhan, semoga kewibawaan meliputi hamba.

Semoga bermanfaat. Selamat melakukan persembahyangan, Rahajeng.

%d bloggers like this: