Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: June 2012

Dewa Dalam Hindu


Dewa dalam Hindu dan Asosiasi Makna
Dalam terminologi Hindu kita mengenal tiga kemahakuasaan Tuhan, yang kita sebut Tri Murti. Bagian pertama dari Tri Murti tersebut adalah Tuhan yang mewujud sebagai Brahma, yang berperan sebagai pencipta alam semesta beserta seluruh isinya. Lalu, bagian kedua mewujud sebagai Wisnu, yang berperan sebagai pemelihara ciptaan yang sudah ada tersebut. Yang terakhir mewujud sebagai Siwa, yang berperan sebagai pelebur (pengembali ke asal mula) bagi ciptaan-ciptaan yang dianggap sudah tidak berfungsi lagi.

Tiga peran Tuhan yang diwujudkan lewat Tri Murti tersebut dikenal dengan istilah Tri Kona, yaitu Utpeti, Sthiti dan Pralina (menciptakan, memelihara dan memusnahkan). Ini adalah siklus keabadian yang memang harus ada, guna menjaga keharmonisan dari semesta ini.

Perlu kiranya diberikan satu catatan tentang wujud Tuhan yang terakhir dalam Tri Murti itu, yaitu Siwa, yang berperan sebagai (banyak sebutan) pemusnah, pelebur, pendaur ulang, pengembali ke asal mula, Dewa Maut, Dewa Kematian dan sebagainya. Hal ini sering diasosiasikan oleh orang sebagai Dewa yang mengerikan, menyeramkan dan bahkan ada yang mengidentikkan sebagai Dewa yang menjadi biang kejahatan. Demikianlah konon, banyak orang yang hendak bersekutu dengan kejahatan lantas ia memuja Dewa Siwa. Hal itu saya pikir adalah salah kaprah. Kita jangan menganggap, baru tugas-Nya (peran-Nya) sebagai Dewa Pemusnah, dan seterusnya, kita lantas memberi-Nya cap sebagai Dewa yang jahat.

Bayangkan, andaikan yang ada hanya penciptaan dan pemeliharaan belaka dengan tanpa ada pemusnahaan, bisakah keharmonisan hidup terjaga? Jangan-jangan kita hidup bertumpuk-tumpuk seperti ikan pindang dalam satu keranjang, karena dunia ini begitu penuh sesak oleh penghuninya.

Lagi pula dalam filosofi Hindu yang namanya maut atau kematian atau kehancuran bukanlah akhir dari sebuah kehidupan, melainkan adalah bagian dari sebuah kehidupan. Untuk itu, sepatutnyalah bila ada kematian, taklah patut kita untuk bersedih hati (apalagi berkepanjangan). Tetapi terimalah itu dengan lapang hati, bila mungkin dengan senyuman dan perenungan bahwa pada akhirnya kita pun akan mengalami hal yang sama juga. Mungkin dengan demikian, kita akan sadar akan berbagai kekhilafan dan segera bergegas berbenah diri untuk kemdian dapat menyambut dengan senyuman datangnya maut itu.

Dewa-dewa dalam Tri Murti itu, masing-masing memiliki warna sebagai simbolik-Nya. Brahma warna simbolik merah, Wisnu warna simbolik hitam dan Siwa warna simbolik putih. Bila kemudian dalam beberapa tahun terakhir ini, kita sering saksikan banyak dari umat Hindu, bila melayat ke tempat kematian, menggunakan busana serba hitam, katanya sebagai ungkapan turut berduka cita, menurut saya adalah kurang tepat. Karena kalau kita sebagai umat Hindu, yang berpijak pada filosofi Hindu (dan ini sudah seharusnya) adalah tidak benar hitam itu lambang duka atau simbolik dari kematian. Karena Dewa Kematian itu adalah Siwa yang warna-Nya adalah putih. Semestinya umat yang datang ke tempat kematian menggunakan busana serba putih.

Dalam hal ini, kita sebagai umat Hindu, harus punya satu prinsip atau kepribadian yang berangkat dari satu dasar pijakan yang jelas, jangan ikut-ikutan. Jangan menggunakan sesuatu, karena orang lain menggunakan sesuatu itu, tanpa kita tahu apa arti dari menggunakan sesuatu itu, karena itu adalah kebodohan dan kebodohan adalah sesuatu yang berbahaya.

Gst. Ngr. Rai Sujaya
Jl. Antasura/ Dewi Madri 9 Denpasar

Source : HDNet

Pura Luhur Batukaru


Pura Luhur Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Lokasi pura ini terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama pura ini diambil dari nama Gunung Batukaru.

Pura Luhur Barukaru

Sembahyang ke Pura Luhur Batukaru 12 Februari 2020

Pura Luhur Batukaru merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan Jagat yang disebut dalam Lontar Kusuma Dewa. Sudah ada sejak abad ke-11 Masehi. Sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Sebagai penggagas berdirinya Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Sebelum melakukan persembahyangan ke Pura Luhur Batukaru sebaiknya dilakukan persembahyangan di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu terletak agak jauh dari Pura Luhur Batukaru. Pura Taksu merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Pura Luhur Batukaru. Setelah dilakukan persembahyangan di Pura Taksu selanjutnya menuju pancuran yang terletak sebelah tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam area Pura Luhur Batukaru. Air pancuran untuk menyucikan diri: berkumur, mencuci muka dan kaki. Selanjutnya sembahyang dilakukan di Pelinggih Pura Pancuran sebagai tanda penyucian sakala dan niskala atau lahir batin sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan kesucian jasmani dan rohani.

Utama Mandala pada Pura Luhur Batukaru berupa candi yang bentuknya mirip dengan bentuk candi di Jawa Timur. ramping atapnya terdiri atas perpaduan tingkatan (punden berundak-undak). Candi utama ini diapit oleh Candi Perwara, serta di ujung kiri dan kanannya diapit oleh Padmasana. Jadi pada leretan bangunan utama terdapat lima bangunan atau pelinggih. Di candi utama inilah dipuja Dewa Mahadewa yang sering juga disebut Ratu Hyang Tumuwuh oleh masyarakat.

Pelinggih utama di Pura Luhur Batukaru berbentuk Candi bukan Meru. Ini jelas pengaruh arsitektur Jawa Timur dan India. Candi tersebut merupakan tempat pemujaan Dewa Mahadewa. Candi diapit oleh Candi Perwara. Di sudut timur laut dan barat laut terdapat Pelinggih Padma Ratu Bagus Panji dan Ratu Puseh Kubayan. Disisi barat daya terdapat dua bangunan Gedong berjejer. Dua Gedong tersebut sebagai Pedharman Raja Badung dan Raja Tabanan. Di sekitar erea Utama Mandala terdapat kurang lebih 24 bangunan penting.

Madya Mandala dibangun sebuah Pelinggih Gedong tempat bersthananya Ratu Pasek sebagai tempat memohon suksesnya upacara yadnya. Disisi barat laut terdapat Gedong Simpen sebagai tempat menyimpan Pratima. Disisi selatan Gedong Simpen tersebut dibangun Balai Agung dengan dua belas tiang. Balai Agung ini tempat berkumpulnya semua simbol sakral saat Melasti. Pura Batukaru selain sebagai Pura Sad Kahyangan juga sebagai Pura Catur Loka Pala sebagaimana disebutkan dalam Lontar Purana Bali.

Upacara piodalan Pura Luhur Batukaru jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada setiap Kamis Wuku Dungulan sehari setelah hari Raya Galungan. Biasanya upacara dipimpin oleh pemangku yang disebut Jero Kubayan.

Pura Kahyangan Jagat Lainnya:

  1. Pura Besakih
  2. Pura Uluwatu
  3. Pura Luhur Lempuyang
  4. Pura Goa Lawah
  5. Pura Pusering Jagat

Pura Dalem Penataran Ped


Pura Dalem Ped juga disebut dengan Pura Penataran Agung Ped terletak di Desa Ped, Sampalan, Kecamatan Nusa Penida. Pura Penataran Agung atau Pura Dalem Ped sangat terkenal diseluruh Bali. Pura yang disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat ini selalu dipadati pemedek(umat Hindu) untuk melakukan persembahyangan tidak salah jika Pura Dalem Ped sangat terkenal sebagai salah satu objek wisata spiritual yang banyak diminati.

pura ratu gede, ped. nusa penida

Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Pentaran Agung Ped memang sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan yang lama. Kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja — Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped. Seorang penekun spiritual menyatakan yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.

Selain itu, beberapa petunjuk yang menyebutkan pura itu pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.

Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Pura Segara, sebagai tempat berstananya Batara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian.

Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagi pelebaan Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Batara-batara pada waktu ngusaba.

Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.
Pura Dalem Penataran Ped merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi. Dengan demikian Pura Dalem Penataran Ped disebut sebagai Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.

Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai penyakit.

Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu. Hari Budha Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.

**sumber gambar: nusapenida.com

Artikel terkait: Tirta Yatra ke Pura Dalem Ped