Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Budaya

Mengenal Tradisi Mamapas Hindu Kaharingan


Di kota Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).Sehari sebelum Hari Raya Nyepi, Umat Hindu Kaharingan melakukan Upacara Ritual Mamapas.

Semuanya Berpakaian warna warni dengan ikat kepala khas, kaum pria tampak sibuk mempersiapkan pelaksanaan ritual.

Sejumlah sesaji seperti kepala kerbau yang dibalut kain putih, ayam, bunga, dan tak lupa sebilah mandau atau pedang khas Suku Dayak tertata rapi.

Sebuah lubang berukuran sedang sekitar 50 cm x 50 cm sudah dipersiapkan yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menanam kepala kerbau. Para balian (semacam pendeta) Hindu Kaharingan pun melantunkan ayat-ayat suci. Tak ketinggalan ratusan pemeluk Hindu Dharma juga berbaur.

Secara harfiah kegiatan tersebut dapat diartikan sebagai upacara untuk membersihkan diri dan lingkungan dari hal-hal buruk dan jahat. Kegiatan ini memang selalu diperingati setiap tahun dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi.

Artinya di Tahun Baru (Saka) di sambut dengan antusias dan berubah menjadi baru, sementara yang tak baik kita tinggalkan

Setiap menjelang hari raya Nyepi upacara Memapas Lewu ini diadakan.

Selain itu tujuannya adalah memberikan persembahan kepada roh leluhur seperti ogoh-ogoh, gambaran hal-hal yang tidak baik dihilangkan.

Terima kasih: Indra Maheswara

Sejarah Dalem Tarukan


Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan

Perjalanan panjang dari Ida Dalem Tarukan akibat pengungsian dari istana, akhirnya menjadi tonggak sejarah perjalanan di Desa Pulasari, Peninjauan, Tembuku, Bangli. Di sanalah berdiri kokoh Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan. Setiap enam bulan sekali atau pada acara-acara lainnya menjadi perhatian umat sedharma terutama warih Dalem Tarukan.

Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan tidaklah sulit mencarinya. Perjalanan bisa lewat dari berbagai arah. Bisa dari Kota Bangli, dari Banjarangkan, Klungkung, atau bisa juga melalui jalan lain sesuai dengan asal pemedek. Pura ini tepatnya berada di Pulasari, Peninjauan, Tembuku, Bangli. Lokasinya berada di daerah sejuk, masih dalam suasana desa. Perjalanan dari Denpasar cukup jauh dan melelahkan. Namun, selama perjalanan banyak melalui hamparan hijau, sehingga bisa memberikan panorama yang indah sepanjang perjalanan.

Luas pura juga cukup memadai. Ada tempat parkir, begitu juga di sebelah timur pura ditemukan areal yang kosong cukup luas. Fasilitas untuk pemedek juga tersedia bahkan kebersihan juga terjamin. Sarana umum seperti wantilan juga mampu menampung ribuan orang. Suasana pura akan tampak lain ketika odalan digelar tepat Buda Kliwon Ugu setiap enam bulan sekali.

Dapat dibayangkan, sesak umat Hindu terutama dari Pertisentana Dalem Tarukan yang tumpah ruah ke pura. Walaupun disediakan waktu nyejer selama tiga hari, toh juga bludakan pemedek tak pernah sepi. Pelataran kahyangan yang cukup luas pun seakan menjadi sempit. Apalagi jumlah perti sentana di seluruh Nusantara seperti dikatakan Bapak I Wayan Waya, S.H sebagai pengurus pusat Sentana Dalem Tarukan jumlahnya 200-an ribu. Tersebar di Jawa, Lombok dan daerah lainnya.

Sementara Jro Mangku Jati mengungkapkan, guna mengetahui bagaimana kisah atau sejarah pura ini sudah ada Babad Pulasari yang mengisahkan perjalanan Ida Dalem Tarukan yang mengungsi dari istana megahnya. Perjalanan ini berhubungan dengan titah sebagai raja menggantikan saudaranya yang tidak mau menjadi raja. Untuk itu berikut cukilan sejarahnya berdasarkan babad Dalem Tarukan.

Jro Mangku Jati yang tingal di Banjar Puseh, Pulasari, Peninjauan, Tembuku, Bangli memberikan/menceritakan sejarah pura berdasarkan data yang sudah tersebar dan sudah banyak dikisahkan dalam babad-babad.

Ida Dalem Tarukan bersaudara 5 orang yaitu:

  1. Dalem Agra samprangan
  2. Dalem Tarukan
  3. Dewa Ayu Swabawa
  4. Dalem Ketut Ngulesir
  5. I Dewa Tegal Besung

Ayah beliau bernama Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan, menjadi raja di Bali tahun 1272 berkedudukan di Puri samprangan Gianyar dan membawa senjata utama yang bernama keris Ki Tanda Langlang.
Setelah Ida Dalem Tarukan dewasa, Ida membangun Puri di Tarukan Pejeng Gianyar, Ida disana bersama istri dari Lempuyang Madya (Bukit Gamongan). Ditemani oleh putra angkat beliau yang Rakriyan Kuda Pinandang Kajar putra Dalem Blambangan, ditemani pula oleh masyarakat dan mahapatih yang setia kepada Ida Dalem Tarukan.
Diceritakan pada saat Kuda Pinandang kajar sakit keras sulit disembuhkan Ida Dalem Tarukan terlanjur ngomong bahwa apabila Kuda Pinandang Kajar bisa sembuh seperti semula akan dijodohkan dengan Dewa Ayu Muter (putri Dalem samprangan). Setelah Ida Dalem Tarukan ngomong demikian ternyata Rakriyan Kuda Pinandang Kajar sembuh. Akhirnya Ida Dalem Tarukan mewujudkan kata-katanya menikahkan Dewa Ayu Muter dengan Rakriyan Kuda Pinandang Kajar tanpa sepengetahuan Dalem Samprangan.

Entah apa yang mempengaruhi kejadian itu membuat Ida Dalem Samprangan marah lalu memerintahkan mengirim pasukan, sebanyak lebih dari tiga ribu orang menyerang ke Puri Pejeng. Mengetahui berita itu untuk menghindari terjadi perang maka Ida Dalem Tarukan mundur meninggalkan puri dan istri yang sedang hamil 6 bulan pergi mengungsi ke desa-desa di pegunungan.

Tempat-tempat pengungsian tersebut sampai sekarang bisa ditelusuri, pada awalnya beliau sampai di desa Taro Gianyar, selanjutnya ke Subak Pulesari sebelah selatan Tampuwagan, Tembuku Bangli. Para pengejar datang beliau bersembunyi menyelinap dalam kumpulan petani yang sedang menanam padi, sedangkan para pengejar terus mengejar kearah utara sampai ke Tampuwagan. Sampai sore tanpa hasil para pengejar akhirnya kembali pulang.

Demi keselamatan disinalah beliau pertama kali nyineb wangsa menjelaskan keberadaannya dengan berkata kepada para petani sebagai berikut : “…de cai macokor I dewa teken aku, magusti, majero, dadi apan aku macita urip…” demikianlah beliau berkata. Setelah itu Ida Dalem Tarukan diantar oleh para petani menuju padukuhan (selatan Dusun Pulasari sekarang) beliau diterima oleh Ki Dukuh Pantunan. Beliau tinggal disini cukup lama. Keberadaan beliau tercium oleh pihak puri maka pengejar datang lagi menyisir setiap tempat di pedukuhan Pantunan. Hampir saja beliau tertangkap, beliau bersembunyi menyelinap dibawah rerimbunan kumpulan pohon pisang, jawa jail, dan ada beberapa ekor burung puyuh lalu lalang bercanda, burung perkutut bersuara bersahutan yang melukiskan suasana tak mungkin ada orang diam disana sehingga beliau terselamatkan dari pengejaran.

Dalam situasi seperti ini akhirnya Ida Dalem Tarukan berjanji:
“…nah iba kedis titiran, kedis puwuh muah jawa jali deni jati iba makrana kai idup nah jani seenyah-enyah aku apang sing dadi amangsa iba…”. (ya engkau burung perkutut, burung puyuh dan pohon jawa jali kalau memang karena engkau membuat aku tetap hidup, ya sekarang seketurunanku tidak boleh memangsa engkau).

Merasa tidak aman di Pantunan akhirnya Ki Dukuh Pantunan menyarankan Ida Dalem Tarukan pindah ke Desa Poh Tegeh (wilayah Songan) diterima oleh Ki Gusti Poh Tegeh (Poh Landung). Oleh Ki Gusti Poh Tegeh, Ida Dalem Tarukan ditempatkan di Jenggala Sekar Desa Tegal Bunga diterima oleh Ki Dukuh Dami. Lama Ida Dalem Tarukan tinggal di Padukuhan Bunga sampai punya putra dan putri tujuh orang dari istri yang berbeda yaitu:

  1. I Gusti Gde Sekar dan I Gusti Gde Pulasari (Ibunya bernama Gusti Ayu Kwaji putri dari Ki Gusti Poh Tegeh)
  2. I Gusti Gde Bandem (Ibunya bernama Jero Sekar putri dari Dukuh Bunga)
  3. I Gusti Gde Dangin (Ibunya bernama Jero Dangin putri dari Dukuh Darmaji)
  4. I Gusti Gde Belayu (Ibunya bernama Jero Belayu putri dari Mekel Belayu)
  5. I Gusti Gde Balangan dan Gusti Ayu Wanagiri (Ibunya bernama Gusti Luh Balangan Putri Gusti Agung Gelgel menjadi putri angkat Gusti Gde Bekung).

Dari padukuhan Bunga Ida Dalem Tarukan bersama anak istri kembali mengungsi menuju Desa Sekahan, Sekar Dadi, Kintamani, Panerojan (panulisan), Balingkang, Sukawana, (wilayah Bangli). Di Sukawana Ida Dalem Tarukan bertemu dengan Dukuh Darmaji yang membawa takilan beras. Oleh karena semua putranya sangat lapar maka Ida Dalem Tarukan meminta beras dalam takilan tersebut untuk diberikan kepada putra beliau. Setelah beras tersebut dimakan, Gusti Ayu Wanagiri sakit perut sampai beliau meninggal. Melihat kejadian ini Ida Dalem Tarukan sangat marah dan menendang takilan beras tersebut sambil mengutuk beras tersebut supaya tumbuh menjadi haa beras dan seketurunannya tidak boleh makan beras. Lalu Gusti Ayu Wanagiri dikubur di Sukawana mengarah kebarat.

Kemudian Ida Dalem Tarukan mengungsi ke Desa Panek, Desa Ban, Desa Temakung, Desa Cerucut, Paduning Samudra (Desa Sukadana) semuanya wilayah Karangasem. Di Paduning Samudra ini Ida Dalem Tarukan banyak menerima harta benda dari masyarakat dipegunungan membuat hidup Ida Dalem Tarukan berkecukupan sehingga Paduning Samudra ini dinamai Desa Sukadana. Saat Ida Dalem Tarukan di Sukadana Ida Dalem ingat dengan Gusti Ayu Wanagiri yang meninggal di Sukawana, lalu di aben di Sukawana dibuatkan Bade Tumpang Pitu, Patulangan Gajah Mina maulu kepascima. Atma suci beliau di sthanakan di puncak Bukit Mangu karangasem.

Rupanya Ida Dalem Tarukan selalu ingat dengan istri yang ditinggalkan di Puri Tarukan sedang hamil dan membayangkan putra yang lahir sudah menjadi dewasa. Akhirnya Ida Dalem meninggalkan Sukadana diiring oleh para dukuh menuju Desa Poh Tegeh. Kepada I Gusti Poh Tegeh (mertuanya) Ida Dalem Tarukan menyampaikan keinginannya untuk kembali ke panegaran. Lalu Ida Dalem Tarukan pergi kearah barat menuju desa (wilayah) Tembuku Bangli. Dari sini Ida Dalem Tarukan memperkirakan/menganalisa (memarna) marahnya Ida dalem Ketut Ngulesir sudah hilang kemudian desa ini diberi nama Desa Sidaparna. Tidak lama Ida dalem Tarukan tinggal di Desa Sidaparna. Dari Desa Sidaparna Ida Dalem Tarukan kembali mengungsi menuju Wetaning Giri Panida.

Di Wetaning Giri Panida inilah Ida Dalem Tarukan bersama keluarga cocok untuk tinggal menetap, lalu membangun sebuah puri yang dilengkapi dengan merajan sebagai huluning karang. Tempat Wetaning Giri Panida ini oleh Ida Dalem Tarukan dinamai Dusun Pulasantun. Sebagai alasannya adalah untuk mengingat tempat putra putrinya yang lahir di Desa Tegal Bunga (jenggala sekar). Dusun Pulasantun tersebut sampai sekarang sudah terkenal dengan nama Dusun Pulasari, Bangli. Disini beliau hidup dengan bercocok tanam palawija. Diceritakan dari istri yang ditinggal saat mengungsi sedang hamil 6 bulan telah lahir seorang putra sudah dewasa rupawan gagah perkasa diberi nama I Dewa Gde Muter, selalu mencari tahu tentang keberadaan ayah beliau.

Akhirnya atas ceritra dan petunjuk para pengasuh maka I Dewa Gde Muter pergi menuju pedesaan untuk bertemu dengan ayah beliau. Diceritakan Ida Dalem Tarukan sedang membajak sawah, I Dewa Gde Muter datang memandangi dan mengamati orang yang sedang membajak tersebut. Akhirnya lama mereka saling pandang, sapi penarik bajak lalu tunggang langgang yang membuat Ida Dalem Murka. Kemurkaan tersebut mengakibatkan mereka berdua perang tanding cukup lama tanpa ada yang kalah. Dalam situasi itu tanpa sengaja I Dewa Gde Muter mengucapkan kata-kata yang menunjukkan identitasnya. Setelah tahu identitas orang yang dihadapi betapa kagetnya Ida Dalem karena yang dilawannya ternyata putra sendiri yang sedang dirindukan. Seketika beliau memeluk putranya sambil menangis terharu, timbul rasa penyesalan lalu berdua saling memaafkan. Akhirnya Ida Dalem member nama putranya I Dewa Bagus Darma kemudian dipertemukan dengan adik-adiknya semua. Karena semua putra sudah berkumpul Ida Dalem sudah merasa tenang dan kehidupan di Pulasantun berkecukupan maka beliau tidak berniat lagi untuk kembali ke Puri. Beliau menyarankan kepada putranya untuk tetap tinggal bersama dipedusunan jangan lagi pulang ke panegaran. Nasehat ini sangat dihormati dan dipatuhi oleh putra-putra Dalem semua.

Diriwayatkan sejak muda Ida Dalem Tarukan tidak berminat pada kekuasaan (pemerintahan) beliau lebih tertarik dan menekuni ajaran kedhyatmikan/kerokhanian. Oleh kebanyakan orang hal ini dipandang aneh. Selama perjalanan pengungsian disamping terus menekuni kedhyatmikan beliau juga mengisi waktu dengan bertani dan berkebun. Setelah menetap tinggal di Pulasantun kehidupan spiritualitas beliau mencapai puncaknya beliau melaksanakan kebujanggaan, tempat beliau menjadi pusat patirtaan untuk masyarakat pedusunan dan pegunungan. Menjelang Ida Dalem wafat, Ida memberi pewarah-warah, panugrahann, dan sloka sruti kamoksan kepada putra-putra beliau dan para dukuh semua.

Ida Dalem Tarukan wafat pada hari Wraspati Keliwon ukir, Kresna Paksa, Saptami Warsa Isaka Dewa Netra Tri Tunggal (Isaka 1321/1399 M). di upacarai seperti raja dipuja dengan sloka gegaduhan yang dianugerahkan oleh Ida dalem. Upacara palebon dan seterusnya dipuput oleh Ki Dukuh Bunga, Ki Dukuh Pantunan, Dukuh Jati Tuhu, menggunakan sloka sruti panugrahan Ida Dalem Tarukan. Jenasah beliau dibakar di Cungkub (wilayah) Tampuagan. Abunya di hanyut ke tukad Congkang, bablonyohe yang berada pada kelapa gading dipendem di Cungkub Tampuagan lalu kabiakta Ida Dalem Tarukan malingga “Ida I Ratu Dalem Tampuagan”. Palebonnya Ida Dalem Tarukan pada hari Saniscara Paing, Wuku Warigadean, Kresna Paksa Pancami, Sasih Jesta, Rah Tunggal, Tenggek kalih, Isaka 1321 (1399).

Setelah semua upacara selesai banyak berupa makanan beras, lungsuran basi sampai rusak (berek) karena tidak habis dimakan oleh masyarakat. Juga berupa uang kepeng menggumpal sukar dilepas sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Disarankan oleh I Dewa Bagus Darma dan adik-adiknya semua beras, makanan, dan uang kepeng yang tidak bisa dimanfaatkan supaya dihanyut (dibuang) ke kali. Yang berupa beras dan makanan dihanyut di kali sebelah barat Dusun Pulasari dan yang berupa uang kepeng dihanyut di kali sebelah timur Dusun Pulasari. Itulah sebabnya sampai sekarang ada tukad Bubuh disebelah barat Pulasari (kalau dihilir dapat dilalui jembatan dipatung gajah Banjar Angkan), Tukad Jinah disebelah timur Dusun Pulasari dihilir dapat dilalui jembatan sebelah barat SMA Klungkung. Dengan dihanyutkannya sisa-sisa upacara tersebut sampai kehilir sungai, hal ini menjadi berita heboh sehingga beritanya sampai kepada Ida Dalem Ketut Ngulesir di Puri Gelgel.

Mendengar berita tersebut Ida Dalem Ketut Ngulesir mengirim utusan agar semua keponakan Ida mau tinggal di Puri Gelgel. Namun semua putra Ida Bhatara Dalem Tarukan tidak memenuhi permintaan Dalem Gelgel putra Dalem memegang nasihat Ajinya agar tidak kembali kepanagaran. Mungkin terjadi miss informasi dianggap para keponakannya menentang sehingga Ida Dalem Ketut Ngulesir murka, maka diseranglah putran Ida Dalem Tarukan ke pulasari dipimpin oleh Gusti Kebon Tubuh. Sebelum menyarang ke Pulasari, Gusti Kebon Tubuh beserta bala tentaranya beristirahat (mejanggelan) disebuah desa yang selanjutnya desa tersebut diberi nama Desa Nyangglan wilayah Banjarangkan Klungkung untuk mengatur strategi perang. Dalam perang besar tersebut I Dewa Bagus Darma direbut dipasangi upas sehingga mengalami kekalahan dan wafat di Siang Kangin (Hyang Pupuh) Bangkiangsidem. Setelah I Dewa Bagus Darma wafat akhirnya semua adik-adiknya ditemani oleh ibunya mau datang ke Puri Gelgel sedangkan I Gusti Gde Dangin dan I Gusti Gde Balangan pergi ke Buleleng dan akhirnya menetap di Sudaji.

Sebagai catatan: setelah karya agung di pura Puri Agung Pejeng tanggal 27 maret 1996 atas kesepakatan pengempon Linggih Ida Bhatara Putra di Sudaji dengan Semeton PGSDT Bangli maka Ida Bhatara Putra I Gusti Gde Balangan dilinggihkan di pura Pulasari Bebalang Bangli. Mulai saat itulah pura di dusun Bebalang Bangli diberi nama Pura I Gusti Gde Balangan. Pura ini dibangun pada tahun 1994.
Setelah semua putra Ida Dalem Tarukan berkumpul di Puri Gelgel maka Ida Dalem Ketut Ngulesir memberikan panugrahan mantra sasana yang pada intinya berisi sebagai berikut:

  1. I Gusti Gde Sekar ditempatkan di Banjar Sekar Nongan bersama ibunya I Gusti Luh Kwaji dan diberikan tanah sebanyak 15 sikut.
  2. I Gusti Gde Pulasari ditugaskan kembali ke Pulasari ngerajegang Puri (Ajinya) Ayahandanya.
  3. I Gusti Gde Bandem ditempatkan ke Dukuh Nagasari Bandem.
  4. I Gusti Gde Dangin dan I Gusti Gde Balangan pergi ke Buleleng menuju desa Sudaji. Namun setelah karya agung di Pura Puri Agung Pejeng tanggal 27 Maret 1996 atas kesepakatan semeton, Ida Bhatara Putra I Gusti Gde Balangan di stanakan di Pura Pulasari Bebalang Bangli. Mulai saat itulah pura di Dusun Bebalang diberi nama Pura I Gusti Gde Balangan.

Setelah I Gusti Gde Pulasari wafat juga dilaksanakan upacara pitra yadnya, ngeroras dan roh sucinya didharmakan berdampingan dengan linggih Ida Bhatara Dalem Tarukan di Gedong Pajenengan. Upacara menstanakan Dewa Hyang I Gusti Gde Pulasari dilaksanakan sekitar pertengahan abad ke 15 (1450 M). mulai saat itulah di Pulasari ada dua palebahan, Pura Palebahan duhuran pura Padharman Ida Bhatara Dalem Tarukan (Pura Kawitan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan), stana Ida Bhatara Dalem Tarukan pada Meru Tumpang Pitu, piodalan setiap Buda Keliwon Ugu. Di Palebahan andapan pura Ida Bhatara Putra I Gusti Gde Pulasari di stanakan di gedong Pajenengan, piodalannya setiap Tumpek Krulut. Namun karena beberapa pemikiran semenjam Mahasaba I atas kesepakatan dan panugrahan niskala maka pujawali di kedua palebahan pura ini disatukan menjadi setiap Buda Keliwon Ugu. Namun Pakandel yang mengemban mantri sasana dari Raja Gelgel setiap Tumpek Krulut tetap melaksanakan piodalan alit sebagai peringatan sejarah melanjutkan warisan leluhur pakandel.

Karena semakin berkembang dan makin mantapnya kesadaran santanan Ida Bhatara Dalem untuk tangkil ke pura maka tempat untuk sembahyang menjadi terasa sempit, dan pada saat karya Padudusan Agung, Buda Kliwon Ugu nemu purnama tahun 1995 terjadi sembahyang saling berdesakan. Sehingga akhirnya atas kesepakatan pakandel dan pengurus PGSDT maka tahun 1996 tembok penyengker penyekat antara palebahan pura duhuran dan palebahan pura andapan dicapuh dijadikan satu. Namun perbedaan ketinggian natar tampak seperti sekarang menjadi utama mandala duhuran dan utama mandala andapan. Mengingat Pura Padharman di Pulasari merupakan stana Ida Bhatara Dalem Tarukan di utama mandala duhuran dan stana Ida Bhatara Putra I Gusti Gde Pulasari di utama mandala andapan telah menjadi satu dan untuk linggih Ida Bhatara Putra yang lain sudah ada Pelinggih Gedong Rong Kalih berdampingan dengan Meru Tumpang Pitu, maka Pura Padharman tersebut dinamakan Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan lan Ida Bhatara Putra I Gusti Gde Pulasari.

Hubungannya Dengan Padharman Dalem Besakih

Padharman Dalem di Besakih merupakan Padharman satrehan Ida Bhatara Lingsir Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan. Ida Bhatara Dalem Tarukan merupakan salah satu putra dari Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan maka seketurunan Ida Bhatara Dalem Tarukan patut melaksanakan persembahyangan di Pedharman Dalem di Besakih.

Artikel ini dishare ulang dari sumber:

Tabik pakulun.

Mengenal Tradisi Kembar Buncing


Image by: vemale.com

Memiliki anak kembar tentu menyenangkan apalagi bagi yang belum dikarunia anak. Banyak yang berpendapat memiliki anak kembar tidak masalah sekalian repotnya (tentu dalam artinya sekalian sibuknya ngurusin dua anak sekaligus) apalagi memiliki anak kembar laki-laki dan perempuan sekalian satu paket. Dahulu kala Di Bali kelahiran kembar laki-laki dan perempuan dikenal dengan istilah kembar buncing atau manak salah. Ada cerita miris mengenai Kembar Buncing, konon dimasa lalu jika seorang ibu yang melahirkan laki-perempuan bisa bermakna ganda. Jika dari keluarga raja hal itu bisa berarti berkah atau keberuntungan. Sebaliknya, bagi masyarakat kebanyakan hal itu bisa dikatakan bencana atau aib dan tak lazim. Sebenarnya tradisi dijaman kerajaan itu telah dihapus dalam sebuah keputusan DPRD Bali pada tahun 1951. Namun, kehidupan modern sekarang masih ada yang menerapkan seperti yang terjadi di Nusa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung dan beberapa wilayah lainnya. konon ketika warga disana ada yang melahirkan bayi kembar (manak salah), desa adat setempat batal melakukan upacara melasti penyepian lantaran dinilai masih leteh(kotor/cemar).

Situasi masa lalu dibeberapa wilayah tersebut tentu sangat bertentangan dengan nurani kita sebagai manusia. Kelahiran adalah anugerah dari Sang Hyang Widhi, bagaimana mungkin kelahiran dimaknai sebagai aib.

Semua kelahiran merupakan berkah. Tidak ada istilah lahir salah (manak salah) yang kemudian dianggap ngeletehin (menodai) desa sehingga perlu diupacarai. Terlebih ada pembenar bahwa jika raja melahirkan kembar buncing dianggap berkah, sementara rakyat dianggap bersalah sehingga perlu diberikan sanksi. Akan merupakan kemunduran jika pada era sekarang masih ada pengenaan sanksi adat kepada pasangan suami-istri yang melahirkan anak kembar buncing, sebab pemerintah Bali sejak tahun 1951 telah mengeluarkan keputusan tentang pelarangan pengenaan sanksi semacam itu. Oleh karenanya, tradisi kerajaan yang berlaku dulu itu sudah saatnya ditinggalkan. Terlebih dalam konsep religius dipandang bahwa tiap kelahiran adalah menebus dosa yang tertinggal pada kelahiran masa lampau.

Dosen STAHN Denpasar Drs. Gede Rudia Adiputra menegaskan, dalam agama Hindu tidak ada istilah manakan salah. “Dalam sastra agama tidak ada disebutkan kembar buncing itu merupakan manak salah sehingga perlu diupacarai karena dianggap leteh,” katanya. Jangankan pada diri manusia, tegasnya, jiwatman yang ada pada butha saja mesti di-ruwat agar derajatnya bisa meningkat.

Dikatakan, munculnya tradisi manakan salah semata-mata karena prestise orang-orang tertentu pada zaman dulu. Terutama ketika Belanda menerapkan politik pemecah belah, raja tidak boleh disamakan dengan rakyat dan rakya tidak boleh menyamai (memada) raja. Tradisi itu kemudian dikaitkan dengan keagamaan sehingga terkesan sangat sakral. Oleh karena dikaitkan pada agama jelas hal itu merasuk tulang sumsum spiritual umat. Akibatnya, begitu kembar buncing dicap ngeletehin desa, maka hal itu tidak bisa diganggu gugat dan mesti diterima. Terlebih hal itu didukung oleh raja dan purahita (penguasa politik). Jika ada masyarakat yang tidak mendukung, sudah bisa dibayangkan sanksi yang akan diterima. “Mau tidak mau masyarakat menerima, dan ikut larut pada tradisi seperti itu. Masyarakat yang melahirkan anak kembar semacam itu lalu menjadi trauma, dan mengangap dirinya orang-orang berdosa atau orang-orang yang ngeletehin,” ujarnya.

Jadi ditinjau dari segi agama, kata dia, jelas tidak benar dan tradisi itu melanggar hak asasi manusia. Belum terhapusnya tradisi semacam itu dia menilai karena masih ada dualisme pemahaman di masyarakat. Terutama bagi mereka yang percaya terhadap hal itu, jelas tidak berani meninggalkan tradisi tersebut. “Ini yang masih terjadi di masyarakat sehingga tidak ada keberanian untuk meninggalkan tradisi semacam itu, kecuali secara perlahan-lahan.” Oleh karena itu, lanjutnya, peraturan yang pernah dikeluarkan Pemerintah Daerah Bali tahun 1951 itu perlu dimasyarakatkan terus, baik melalui aparat desa, desa adat, maupun pemerintah yakni melalui Departemen Agama.

Bahkan dia menegaskan, kembar buncing dianggap manak salah sudah merupakan penghakiman, karena dalam konsep relegius memandang tiap kelahiran adalah menebus dosa yang tertinggal pada kelahiran terdahulu. Di samping pemahaman masyarakat perlu diubah, semua pihak harus berani mengatakan bahwa kembar buncing itu tidak salah karena jelas-jelas dalam sastra agama tidak ada disebutkan hal itu.

Drs. Ketut Wiana sepakat dengan Rudia Adiputra bahwa manak salah itu merupakan tradisi kerajaan. ”Itu jelas tradisi kerajaan dan bukan tradisi agama. Jeleknya lagi, masih banyak pemimpin umat kita memegang tradisi itu.” Padahal, kata Wiana yang Ketua III PHDI Pusat, tradisi itu sudah dihapus sejak 1951 sekaligus sanksi adat lainnya yang sudah tidak cocok lagi. ”Namun, sayang sampai sekarang hal itu masih saja terjadi.”

Harus diakui, kata Wiana, rasa agama umat Hindu sudah sangat tinggi tetapi pengetahuan agama masih kurang sehingga sulit membedakan mana tradisi agama dan mana tradisi kerajaan. Pengenaan sanksi hukum adat terhadap mereka yang melahirkan kembar buncing sangat bertentangan dengan ajaran agama dan melanggar hak asasi manusia. ”Sangat tidak masuk akal, raja yang melahirkan anak kembar buncing dianggap berkah atau karunia, sedangkan jika itu terjadi di masyarakat dianggap salah,” ujarnya.

Tradisi semacam itu sudah saatnya ditinggalkan karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Sementara itu semua pihak baik pemerintah, Parisada maupun Departemen Agama menjadi mediator agar terwujudnya beragama yang benar. ”Tradisi yang baik mesti dilestarikan, sedangkan yang jelek sudah saatnya ditinggalkan. Kebiasaan yang bersumber pada ajaran agama wajib dilestarikan, yang tidak baik jangan dipakai lagi,” tandas Wiana.

Terima kasih: Bali Post