Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: June 2012

Makna Gelang Tridatu


Gelang Tridatu terbuat dari tiga benang berwarna Merah,Hitam dan Putih. Gelang Tridatu bukanlah Jimat atau bendah bertuah lainnya tapi merupakan simbol dari Dewa Trimurti(Merah simbol Dewa Brahma, Hitam simbol Dewa Wisnu dan Putih adalah simbol Dewa Siwa). Jadi jika anda berpikir bahwa gelang tridatu adalah jimat itu sama sekali tidak benar.

Naiya with her Tridatu

Naiya with her Tridatu

Tridatu adalah simbol dari Hyang Widhi dengan manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Biasanya dibuat oleh sulinggih di Pura Dalem Ped, Nusa Penida untuk para pemedek yang tangkil ke pura tersebut. Selain sebagai lambang Tri Kona(Kelahiran, Hidup dan Kematian) dengan menggunakan tridatu diharapkan kita selalu ingat dengan kebesaran Tuhan sebagai maha pencipta, pemelihara dan pelebur.

Sejarah Benang Tridatu.

Dimulai pada abad 14-15 ketika Dalem Watu Renggong menjadi raja di Bali, saat menaklukkan dalem Bungkut (Nusa) oleh Patih Jelantik, telah terjadi kesepakatan antara Dalem Bungkut/Nusa dengan Dalem Watu Renggong, kesepakatan itu bahwa kekuasaan Nusa diserahkan kepada Dalem Watu Renggon(Bali) begitu pula rencang dan ancangan Beliau (Ratu Gede Macaling) dengan satu perjanjian akan selalu melindungi umat Hindu / masyarakat Bali yang bakti dan taat kepada Tuhan dan leluhur, sedangkan mereka yang lalai akan dihukum oleh para rencang Ratu Rede Macaling, Bila Beliau akan melakukan tugasnya maka Kulkul Pajenanengan yang kini disimpan dan disungsung di puri agung klungkung akan berbunyi sebagai pertanda akan ada malapetaka atau wabah, Benang Tridatu digunakan sebagai simbol untuk membedakan masyarakat yang taat/bakti dengan masyarakat yang lalai/tidak taat, dan sejalan dengan identitas Hindu Bali maka benang tridatu merupakan Indentitas yang tidak tergantikan oleh apapun karena selalu dilindungi oleh kekuatan Hyang Widhi.

**dari berbagai sumber

Bhakti Yoga


Bhakti Yoga merupakan istilah dalam agama Hindu yang merujuk pada wujud nyata /praktek keimanan(pemujaan) yang tulus suci kepada Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa.

IMG_0815

Image by: koleksi pribadi. Tirtha Empul Gianyar.

Engage your mind always in thinking of Me, become My devotee, offer obeisances to Me and worship Me. Being completely absorbed in Me, surely you will come to Me.
(Bhagawadgita 9.34)

One can understand Me as I am, as the Supreme Personality of Godhead, only by devotional service. And when one is in full consciousness of Me by such devotion, he can enter into the kingdom of God.
(Bhagawadgita 18.55)

Bhakti Yoga menjadi ciri khas Hindu di Bali, dimana dalam kesehariannya penuh dengan yadnya [persembahan suci]. Mengacu kepada apa yang dilaksanakan oleh para tetua, tidak saja banten dan upakara menjadi yadnya, tapi tari-tarian, ngayah [pelayanan], ukiran, pemberian, pertolongan, membahagiakan mahluk lain, dll, semuanya adalah yadnya. Bahkan hidup inipun adalah yadnya. Kalau hal ini yang dijadikan acuan, sebagai Hindu Bali selayaknya bergerak dengan spirit yadnya [persembahan suci].

Ada delapan macam yadnya, yaitu TRI YADNYA [tiga macam yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara] dan PANCA YADNYA [lima macam yadnya yang berhubungan dengan upakara]. Tri Yadnya termasuk Para Bhakti, sedangkan Panca Yadnya termasuk Apara Bhakti. Inilah jalan menuju tercapainya Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan semesta yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Acintya dan para dewa-dewi, manusia dengan alam raya dan manusia dengan sesama mahluk. Ini selaras-sejalan dengan tujuan “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang berarti : dengan dharma kita mewujudkan kebahagiaan semua mahluk dan keharmonisan alam semesta [jagadhita], serta mencapai pembebasan dari roda samsara [moksartham].

Bhakti Yoga harus dimulai dengan upaya mendisiplinkan diri. Ini direalisasi dengan melaksanakan Tri Yadnya, yaitu tiga macam persembahan suci atau yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara. Ketiga yadnya itu adalah :

  1. Drwya Yadnya. Ini adalah yadnya berupa welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk. Memuja Tuhan dan dewa-dewi yang tidak kelihatan tentu saja bagus dan boleh. Tapi menyayangi para mahluk yang terlihat juga termasuk yadnya [persembahan suci]. Drwya Yadnya adalah yadnya berupa perbuatan-perbuatan kebaikan, kasih sayang dan pemberian materi maupun non-materi. Tidak saja kepada manusia, tapi juga kepada alam semesta beserta seluruh mahluk didalamnya. Termasuk welas asih dan kebaikan kepada para mahluk menderita : hewan dan mahluk-mahluk niskala alam bawah [yang ditempat lain dimusuhi sebagai setan]. Yadnya disini bukan selalu berarti uang atau barang. Senyuman ramah, mau menjadi tempat curhat yang baik, membantu membuang sampah, itu juga sebuah yadnya. Membuat orang senang, bahagia, terhibur, lepas dari ganjelan, dll, itu semua sebuah persembahan suci [yadnya].
  2. Tapa Yadnya. Ini adalah yadnya berupa 10 disiplin diri, yaitu : – Tiga disiplin badan : hindari menyakiti-membunuh, hindari hubungan seks ilegal [selingkuh], hindari mengambil sesuatu yang bukan milik kita. – Empat disiplin lidah : hindari berbohong, hindari bergosip-memfitnah, hindari kata-kata kasar dan menghina, hindari kesombongan.- Tiga disiplin pikiran : hindari kemarahan-kebencian, hindari keserakahan [termasuk serakah ingin hidup harus selalu tenang, damai, gembira tanpa gangguan], hindari dualitas pikiran [benar-salah, baik-buruk, suci-kotor, dll]. Dengan indriya-indriya dan pikiran yang terkendali, kita lebih sedikit serakah, lebih sedikit mengeluarkan kata-kata menyakitkan, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.
  3. Jnana Yadnya. Ini adalah yadnya berupa kebijaksanaan dan pengetahuan. Kita belajar dan berlatih menghidupkan kebijaksanaan yang mendalam dalam bathin kita. Dengan kebijaksanaan mendalam, kita lebih sedikit marah, lebih sedikit membenci, lebih sedikit dendam, lebih sedikit tidak puasnya, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.

Tri Yadnya sangat penting dan fundamental dalam totalitas yadnya

Dengan keseharian yang dibimbing oleh Tri Yadnya keadaan bathin kita akan menjadi sejuk, teduh, terang. Jauh lebih sedikit mahluk yang disakiti dan jauh lebih banyak mahluk yang bisa disayangi. Hal ini tidak saja menyegarkan bathin orang lain atau mahluk lain, tapi sekaligus juga menyalakan teja atau sinar suci di dalam bathin kita. Sehingga kemanapun kita sembahyang, apapun upakara yang kita lakukan, langkah kita akan ringan, dimana-mana kita mudah sekali bertemu dengan teja kemahasucian.

Segala macam sembahyang, mebanten, upakara, dll, yang kita laksanakan, tanpa dilandasi oleh Tri Yadnya, kemungkinan besar hanya menjadi penyegaran spiritual atau rekreasi rohani yang sifatnya sementara saja atau bahkan tidak berguna. Vibrasi spiritual-nya lemah dan mudah lenyap. Akan tetapi bila sebaliknya, bhakti yoga tidak lagi menjadi aktifitas fisik belaka, tapi sudah menjadi satu dengan aktifitas jiwa. Ini yang akan membuat dalam bhakti kita akan mudah terhubung dengan wilayah-wilayah kemahasucian. Karena hanya yang suci akan tersambung dengan bagian dari Brahman yang juga suci.

**Rumah Dharma-Hindu Indinesia

Artikel terkait:

Memahami Sad Kerti untuk Keseimbangan Jagat


Sad Kerti berasal dari  “sad” yang artinya enam, dan “kerti” artinya: upaya menjaga kesucian atau keseimbangan. Sad Kerti berarti: enam upaya untuk menjaga kesucian dan keseimbangan dimana satu sama lain saling berkaitan. Sad Kerti terdiri dari: Jana Kerti, Jagat Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti dan Atma Kerti.

Jana Kerti, Jana Kerti berarti upaya untuk menegakkan kesucian atau keseimbangan diri kita sendiri. Secara sekala Jana Kerti kita laksanakan dengan catur sadhana : pikiran yang bebas dari dualitas, welas asih dan kebaikan tidak terbatas kepada semua mahluk, pikiran yang bebas dari Sad Ripu [enam kegelapan bathin] dan dengan melaksanakan svadharma [tugas-tugas kehidupan kita]. Lalu catur sadhana ini kita perkuat dengan berbagai jalan yoga, seperti meditasi, sembahyang, dll. Secara niskala Jana Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan Manusa Yadnya, misalnya dengan upakara “nyambutin” guna menyambut bayi yang baru lahir, upakara “nelu bulanin” untuk bayi yang baru berumur 105 hari, dengan melaksanakan otonan, melukat [ruwatan], dll. Tujuannya adalah menguatkan vibrasi energi positif pada diri kita sebagai manusia.

Image by: koleksi pribadi. Tirtha Empul Gianyar.

Jagat Kerti, upaya untuk menjaga kesucian atau keharmonisan hubungan antara semua mahluk. Secara sekala Jagat Kerti kita laksanakan dengan toleransi, saling menghormati, saling menolong dan menjaga keharmonisan hubungan sosial. Termasuk juga dengan menjaga habitat asli hewan-hewan liar, tidak mengganggu tempat-tempat yang tenget [angker], dll. Kita mulai dari lingkup paling kecil, yaitu keluarga dan rumah kita sendiri dahulu. Lalu kita luaskan menjadi tetangga dan lingkungan, kantor dan tempat kerja, dst-nya semakin meluas. Secara niskala Jagat Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan Bhuta Yadnya, yaitu yadnya yang diselenggarakan bagi sarwa bhuta, yaitu mahluk-mahluk niskala alam bawah, hewan, tumbuh-tumbuhan serta unsur-unsur alam raya beserta dinamika kekuatannya. Misalnya dengan menghaturkan segehan, mecaru, dll. Untuk menyomiakan kekuatan-kekuatan kegelapan sehingga menjadi damai dan harmonis.

Yoga

Samudera Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian pantai dan lautan. Secara sekala Samudera Kerti kita laksanakan dengan menjaga kebersihan-kelestarian pantai dan laut, serta berbagai sumber-sumber alam yang ada didalamnya. Karena lautan memegang peranan yang penting pada kehidupan di bumi ini. Secara niskala Samudera Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan pembersihan-penyucian lautan secara niskala, serta melestarikan pura-pura segara. Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada samudera.

Image by: raftingbali.net

Wana Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian hutan dan pegunungan. Dalam tata ruang kosmik Hindu ada tiga jenis hutan, yaitu : Maha Wana [hutan rimba yang masih asli dan belum tersentuh manusia], Tapa Wana [hutan suci tempat dimana para yogi membuat pusat pertapaan atau pesraman] dan Sri Wana [kawasan hutan yang dimanfaatkan sebagai sumber kemakmuran ekonomi]. Secara sekala Wana Kerti kita laksanakan dengan menghormati, menjaga kelestarian dan kealamian hutan-hutan dan gunung. Agar tidak rusak atau habis oleh perilaku yang serakah dan tidak terpuji yang mengeksploitasi hutan-hutan dan gunung, sebagai penjaga keseimbangan alam dan kehidupan. Secara niskala Wana Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan menjaga kelestarian hutan dan pegunungan secara niskala, serta melestarikan pura-pura gunung dan alas angker [hutan lindung]. Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada hutan-hutan dan gunung.

Image by: facebook

Danu Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai. Dalam tata ruang kosmik Hindu, danau adalah pusat sumber mata air tawar. Dari resapan danau permukaan dan danau bawah tanah, muncullah sumber-sumber mata air, yang lalu mengalir menjadi sungai-sungai. Secara sekala Danu Kerti kita laksanakan dengan menghormati, menjaga kelestarian dan kealamian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai. Agar tidak rusak atau tercemar perilaku yang tidak terpuji pada sumber-sumber air tawar sebagai salah satu unsur alam yang paling menentukan kehidupan di bumi ini. Secara niskala Danu Kerti kita laksanakan dengan melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan menjaga kesucian-kelestarian sumber-sumber air tawar secara niskala, serta melestarikan pura-pura beji dan ulun danu. Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada sumber-sumber air tawar.

Atma Kerti berarti upaya untuk menegakkan kesucian jiwa-jiwa yang telah meninggalkan dunia material ini. Secara niskala Atma Kerti kita upayakan dengan melaksanakan Pitra Yadnya, yaitu yadnya yang diselenggarakan guna mengangkat serta menyempurnakan kedudukan atman mereka-mereka yang sudah meninggal, khususnya para leluhur [pitra], agar mereka mendapatkan tempat yang baik di alam kematian. Yadnya ini sebagai wujud rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak kepada para leluhur, dengan upakara jenasah [sawa wedana] sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut atma wedana. Termasuk penyucian dan pralina [kremasi / ngaben] yang sangat membantu perjalanan atman di alam-alam kematian. Atma Kerti juga kita upayakan dengan melaksanakan Bhuta Yadnya, yaitu yadnya bagi para mahluk-mahluk niskala alam bawah, hewan dan mahluk-mahluk lainnya. Tujuannya untuk membantu mengangkat serta menyempurnakan kedudukan atman mereka, agar mereka mendapat kesempatan naik tingkat, lahir menjadi mahluk yang lebih tinggi kesadarannya dalam roda samsara ini.

Dyauh santir
Antariksam santih
Prithivi santir
Apah santir
Osadhayah santih
Vanaspatayah santir
Visve devah santir
Brahma santih
Sarvam santih
Santireva santih
Sa ma santiredhi
[Yajur Veda 36.17]

Semoga ada kedamaian di langit
Semoga ada kedamaian di luar angkasa
Semoga ada kedamaian di bumi
Semoga air menjadi sumber kedamaian
Semoga tanaman obat menjadi sumber kedamaian
Semoga tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian
Semoga para dewa-dewi melimpahkan kedamaian kepada kita
Semoga Brahman melimpahkan kedamaian kepada kita
Semoga semua mahluk ada dalam kedamaian
Semoga ada kedamaian dimana-mana
Semoga ada kedamaian dalam bathin saya

Hidup ini adalah pilihan, kita sendiri yang menentukannya [hukum karma dan hukum rta]. Kalau kita ngulurin manah dan indriya, sangat mungkin kita kemudian terjebak dalam berbagai kegelapan bathin [sad ripu] : marah, benci, iri hati, sombong, tidak puas, serakah, penuh hawa nafsu, dsb-nya. Kita harus sadar bahwa kelak konsekuensinya akan sangat besar dan akan melebar kemana-mana, mempengaruhi keseimbangan kosmik. Sudah pasti yang akan didapat adalah kekacauan dan kesengsaraan. Sebaliknya kalau kita menjalani hidup dengan dharma, kita akan banyak sekali diselamatkan dari kekacauan dan kesengsaraan. Yang kelak akan kita dapat adalah kedamaian kosmik dan kebahagiaan.

Sebagai penganut Hindu sudah selayaknya kita selalu menjalani hidup dengan dharma, sekaligus berpartisipasi di dalam upaya mewujudkan cita-cita tertinggi “Moksartham jagadhita ya ca iti dharma” : dengan dharma kita mewujudkan kedamaian semua mahluk dan keharmonisan alam semesta [jagadhita], serta mencapai pembebasan dari roda samsara [moksartham].

Sarva shanti sarva mangalam,
Om shanti shanti shanti.

**Rumah Dharma-Hindu Indonesia