Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Upacara

Apa Susahnya Ngejot/Mesaiban.


Setiap hari selesai memasak apapun itu, sudah sepatutnya kita ngejot/mesaiban atau melakukan Yadnya Sesa. Makanan yang kita dapatkan dari membelipun tidak ada salahkan untuk melakukan yadnya terkecil dalam Hindu tersebut. Apa itu Ngejot/mesaiban atau Yadnya Sesa? dan bagaimana melakukannya? Dan apa pula dasarnya dilakukan Yadnya Sesa ini?

Pengertian:
Yadnya Sesa merupakan salah satu yadnya yang dilakukan setiap hari atau disebut juga dengan Nitya Karma. Yadnya Sesa dilakukan setelah selesai memasak nasi atau sebelum menikmati makanan. Maksud dan Tujuannya tentu merupakan wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya. Dengan demikian yadnya merupakan persembahan dan pengabdian yang tulus iklas tanpa adanya harapan untuk medapatkan imbalan-imbalan.

Cara melakukan Yadnya Sesa:

  1. Ambil Daun/kertas minyak lalu potong membentuk persegi empat dengan ukuran 3 x 3 cm(disesuaikan), kemudian letakkan berjejer pada nampan.
  2. Ambil nasi kemudian letakkan diatas daun-daun/kertas tersebut, tambahkan lauknya sedikit.
  3. Nyalakan Dupa.
  4. Kemudian letakkan di 5(lima) tempat sebagai simbol Panca Maha Bhuta, antara lain :
  • Pertiwi(tanah),biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  • Apah(Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.
  • Teja(Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak(tungku) atau kompor.
  • Bayu, ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.
  • Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang(pelangkiran,pelinggih dll).

Doa-doa dalam Yadnnya Sesa:

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Istadewata(ditempat air,dapur,beras/tempat nasi dan pelinggih/pelangkiran doanya adalah:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA. Artinya: Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat bhuta, Yaitu Yadnya Sesa yang ditempatkan pada pertiwi/tanah doanya:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA,KALA,DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA. Artinya: Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta,kala dan durgha.

Landasan Dasar Yadnya Sesa:
Yadnya sesa atau mebanten nasi seusai masak juga merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini. Di dalam  Bhagawad Gita III, 13 yang berbunyi :

Yadjna sistasinah santo, Mucuante sarwa kilbisaih, Bunjate te twagham papa, Ye pacanty atma karanat.

Yang artinya: ia yang memakan sisa yadnya akan terlepas dari segala dosa, tetapi ia yang memasak makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya makan dosanya sendiri :

Penggambaran dari sloka tadi berarti bahwa sebelum menikmati sesuatu persembahkanlah terlebih dahulu sebagai cetusan Angayubagia atas Waranugrahanya. Mempersembahkan makanan yang dimiliki juga termasuk persembahan yang mulia dan dapat menentramkan hidup ini.

Manawa Dharmasastra.III.69

Tesam kramena sarvasam
Niskrtyastham maha resibhih
Panca kripta maha yadnyah
Pratyahan grhamedhinam. 

Artinya: Untuk menebus dosa yang ditimbulkan pemakaian lima alat penyemblihan itu, para Maha Resi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

Di dalam Manawa Dharmasastra III.68 Juga dinyatakan bahwa penggunaan lima tempat penyemblihan oleh kepala keluarga seperti tempat memasak, batu pengasah, sapu lesung dengan alunya dan tempat air. Pemakaian semuanya itu menimbulkan dosa. Hal inilah yang menyebabkan sloka Manawa Dharmasastra III.69 yang dikutip di atas menganjurkan agar setiap kepala keluarga melakukan Panca Yadnya setiap harinya. Bentuknya itu dibuat dari makanan yang mampu dimasak hari itu seperti nasi dengan lauk pauknya yang ada. Banten saiban itu bukanlah banten segehan dengan nasi dan bawang jahe sebagai perlengkapannya, tapi nasi dengan lauk pauk yang dimasak hari itu sebagai wujud Panca Yadnya terkecil.

Manawa Dharma Sastra III.117 menyatakan bahwa keluarga akan makan setelah mempersembahkan makanan itu pada para dewa, para leluhur (Dewa Pitara), pada para resi dan pada para dewa penjaga rumah. Dalam sloka selanjutnya dinyatakan keluarga yang makan tanpa persembahan dinyatakan ia makan dosa. Orang bijaksana memakan sisa dari yang dipersembahkan itu. Karena itu disebut Yadnya Sesa. Sejalan dengan konsep Yadnya Sesa yang dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra III.118

Dalam Manawa Dharmasastra III.104 dinyatakan bahwa mereka yang mendapatkan makanan dengan mengambil hak orang lain secara tidak benar, kelak ia akan menjelma menjadi binatang ternak peliharan orang yang diambil haknya itu. Memperhatikan berbagai ketentuan pustaka suci Hindu tersebut dapat disimpulkan bahwa upacara mesaiban itu adalah wujud Panca Yadnya terkecil yang seyogianya dilakukan setiap hari oleh setiap keluarga selesai ia masak. Mereka boleh makan setelah upacara mesaiban itu selesai dilakukan. Ritual keagamaan Hindu di Bali yang disebut mesaiban ini sepertinya amat sederhana dilihat dari tata cara penyelenggaraannya. Namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat nilai-nilai falsafah kehidupan yang amat dalam yang seyogianya kita maknai lebih lanjut dalam meningkatkan kwalitas hidup kita di bumi ini.

Artikel Terkait:  Yadna Sesa

Upacara Nigang Sasih


Upacara “Nigang Sasihin” (Simantonayana Samskara)
Ngangkid, Natab Bajang Colong, Tuwun ke Tanah, Panglukatan Sapta Tirtha(Sapta Tirtha Pratistha), Mapetik, Nyambutin, Pawintenan Sari & Saraswati.

Upacara Nigang Sasihin atau dapat juga disebut Simantonayana Samskara adalah merupakan upacara yang dilakukan pada saat bayi/anak berumur 3 bulan. Tujuan upacara ini adalah untuk mengucapkan terima-kasih kepada Sang Catur Sanak, yakni saudara empat dari si bayi karena telah menjaga bayi tersebut dari mulai bayi tersebut dibentuk di dalam kandungan sampai pada waktunya lahir. Pada umur 3 bulan inilah merupakan waktu dimana sang catur sanak tersebut kembali kepada tempatnya masing-masing karena pada umur ini sang atma yang reinkarnasi pada bayi tersebut dikuatkan kedudukannya lewat upacara ini. Jika dibandingkan dengan upacara Simantonayana Samskara, upacara ini adalah sama-sama bertujuan untuk mendoakan si bayi agar pertumbuhan dan perkembangannya mental & fisiknya berjalan dengan sehat. Dalam perjalanannya, upacara Nigang Sasihin di Bali tidak berpatokan pada umur si anak, ini dikarenakan biaya untuk melakukan upacara ini cukup besar, maka dari itu di beberapa daerah upacara ini dilakukan secara massal dan para peserta pun tidak hanya para bayi tetapi juga dari kalangan anak-anak yang umurnya sudah cukup dewasa.

Rangkaian Upacara

Ngangkid
Ngangkid atau yang lebih lazim disebut ngulapin. Ngulapin berasal dari kata ulap, yang berarti memanggil. Dalam prosesi ngulapin upacara tiga bulanan ini bertujuan untuk memanggil & menjemput Sang Hyang atma/ leluhur (yang mantuk pewayangan) bereinkarnasi pada anak yang diupacarai dimana atma-atma tersebut dipercayai belum bersthana di Pura Merajan Kawitan. Seperti yang diceritakan pada cerita Sang Jaratkaru, dimana putra dari Sang Jaratkaru-lah yang menyelamatkan atma ayah Sang Jaratkaru yang mengalami siksaan di Neraka karena lamanya Sang Jaratkaru tidak menikah dan memiliki pratisentana (keturunan). Upacara ini biasanya dilakukan di pantai, dengan banten utamanya Pangulapan dan Panebusan.

Nigang Sasihin
Dalam upacara ini ada beberapa rangkaian upacara yang dilakukan,seperti Natab Bajang Colong, yang bertujuan menghaturkan terima kasih kepada Nyama Bajang karena karena telah menjaga bayi/anak tersebut dari mulai dibentuk di dalam kandungan sampai pada waktunya lahir. Selanjutnya ada ritual panglukatan, dimana Sang Pandita/Yajamana Karya membersihkan (ngalukat) sang anak dengan menggunakan air suci dan juga japa mantram. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi mapetik, dimana sang anak disucikan dengan memotong rambutnya dilima titik di kepalanya menggunakan “Panca Korsika”. Tujuan dari upacara mepetik ini tiada lain untuk menghilangkan “papa klesa petaka, lara rogha wighna, gering sasab merana, sarwa satru, dan sebel kandel dari anak yang dipetik. Untuk anak yang mengikuti upacara ini yang sudah dianggap besar dan sedang dalam proses belajar (brahmacari), dilanjutkan dengan prosesi pawintenan sari & saraswati, dimana para peserta dihidupkan”aksara-aksara suci” yang berada pada tubuhnya melalu prosesi “merajah”, tujuannya adalah agar aksara-aksara suci tersebut memberikan kekuatan positif dalam proses brahmacari sang anak. Dalam prosesi pawintenan ini sang anak juga dipakaikan “Semayut” yang bertujuan untuk mengendalalikan perbuatan sang anak, dipakaikan pula “Karawista” dan juga “Kalpika” bertujuan untuk mengendalikan pikiran, kemudian dirajah di bagian lidah bertujuan untuk mengendalikan tutur katanya, dan dipakaikan kain dengan rajahan “Ganapati” di kepala agar Sang Hyang Ganapati senantiasa melindungi sang anak dari kekuatan negatif. Kemudian dilanjutkan dengan “Natab Sambutan” yang bertujuan menyambut sang atma si anak yang benar-benar menyatu dengan badan kasarnya sehingga sang anak nantinya bisa tumbuh dan berkembang secara baik. Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi “Tuwun ke Tanah”, dimana sang anak diharapkan memiliki fisik yang sehat dan kuat sehingga bisa tumbuh secara baik, dimana direpresentasikan dengan sang anak turun ke tanah. Demikian gambaran singkat tentang Upacara Nigang Sasihin, semoga informasi ini bermanfaat bagi para umat sedharma

dari berbagai sumber.

Hari Pagerwesi


Hari ke-5 rangkaian Hari Saraswati adalah Hari Pagerwesi. Jatuh pada hari Rabu(Budha) Kliwon Wuku Shinta. Seperti halnya Hari Saraswati, Hari Raya Pagerwesi juga diperingati setiap 210 hari. Hari Pagerwesi merupakan rerahinan gumi artinya hari raya untuk semua umat Hindu.

Pada Hari Pagerwesi umat hendaknya melakukan yoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Hyang Pramesti Guru. Selain itu juga diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha.

Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:

  1. Sanghyang Içwara berkedudukan di Timur
  2. Sanghyang Brahma berkedudukan di Selatan
  3. Sanghyang Mahadewa berkedudukan di Barat
  4. Sanghyang Wisnu berkedudukan di Utara
  5. Sanghyang Çiwa berkedudukan di tengah

Ekam Sat Tuhan itu tunggal. Dari Panca Dewata itu kita dapatkan pengertian, betapa Hyang Widhi dengan 5 manifestasiNya dilambangkan menyelubungi dan meresap ke seluruh ciptaanNya (wyapi-wiapaka dan nirwikara). Juga dengan geraknya itulah Hyang Widhi memberikan hidup dan kehidupan kepada kita. Hakekatnya hidup yang ada pada kita masing-masing adalah bagian daripada dayaNya. Pada hari raya Pagerwesi kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.
Widhi-widhananya ialah: suci, peras penyeneng sesayut panca-lingga, penek rerayunan dengan raka-raka, wangi-wangian, kembang, asep dupa arum, dihaturkan di Sanggah Kemulan (Kemimitan). Yang di bawah dipujakan kepada Sang Panca Maha Bhuta ialah Segehan Agung manca warna (menurut urip) dengan tetabuhan arak berem. Hendaknya Sang Panca Maha Bhuta bergirang dan suka membantu kita, memberi petunjuk jalan menuju keselamatan, sehingga mencapai Bhukti mwang Mukti.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniwan pemimpin agama. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah. Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaam (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warga menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan: Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwatumitah sarwa tumuwuh ring bhuana kabeh. Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Banten Pagerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip, Prayascita, Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina, Canang dan Sodaan. Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

**Dari Berbagai sumber.

Artikel terkait:

Banten dan Upacara Hari Raya Pagerwesi