Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Stana-Stana di Padmasana


Mohon dikoreksi jika salah dalam mengartikan kata Stana. Stana merupakan tempat melinggihnya Hyang Widhi dengan berbagai manifestasiNya secara niskala di Bumi. Pada setiap padmasana yang dibangun di pura merupakan tempat ber-stananya Hyang Widhi dengan berbagai manifestasinya. Untuk lebih detail mari kita simak artikelnya secara lengkap dibawah ini.

Stana Sanghyang Siwa Raditya.
Dalam lontar Siwagama diuraikan bahwa Bhatara Siwa mempunyai murid-murid terdiri dari para dewa. Diantaranya ada murid yang paling pintar dan bisa meniru Siwa, murid ini adalah Bhatara Surya; oleh karena itu Bhatara Surya dianugrahi nama tambahan: Sanghyang Siwa Raditya dan berwenang sebagai wakil-Nya di dunia.

Stana Bhatara Guru.
Sebagai rasa hormat dan terima kasih Bhatara Surya atas anugerah yang diberikan, maka Siwa dipuja sebagai guru, dan selanjutnya Siwa dikenal juga sebagai Bhatara Guru.

Stana Bhatara Surya.
Bhatara Siwa acintiya. Bila manusia ingin mengetahui kemahakuasaan Bhatara Siwa, lihatlah matahari karena mataharilah sebagai salah satu contoh asta aiswarya-Nya, karena kehidupan di dunia bersumber dari kekuatan energi matahari.

Stana Sanghyang Tri Purusa.
Dalam Wrhaspati Tattwa, Sangyang Widhi dinyatakan sebagai Tri Purusa, yaitu: Parama-Siwa, Sadha-Siwa, dan Siwa. Parama-Siwa, adalah Sanghyang Widhi dalam keadaan niskala, tidak beraktivitas, tidak berawal, tidak berakhir, tenang, kekal abadi, dan memenuhi seluruh alam semesta.

Sadha-Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang beraktivitas sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur. Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang utaprota sehingga nampak berwujud sebagai mahluk hidup.

Fungsi utama Padmasana adalah sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Di situlah Tuhan dipuja dalam fungsinya sebagai jiwa alam semesta (makrokosmos) dengan segala aspek kemahakuasaanya. Padmasana adalah niyasa atau simbol stana Hyang Widhi dengan berbagai sebutannya — Sanghyang Siwa Raditya (dalam manifestasi yang terlihat/dirasakan manusia sebagai matahari atau surya) dan Sanghyang Tri Purusa (dalam tiga manifestasi yang manunggal yaitu sebagai Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa). Di Pura Besakih ada Padmasana berjejer tiga, di situ di-stana-kan Parama Siwa (tengah), Sadasiwa (kanan) dan Sang Hyang Siwa (kiri).

Memperhatikan makna niyasa tersebut, jelaslah bahwa makna Padmasana adalah niyasa yang digunakan Hindu dari sekte Siwa Sidhanta karena sentral manifestasi Hyang Widhi yang menjadi pujaan utama adalah sebagai Siwa. Danghyang Nirartha yang mengembangkan bentuk niyasa Padmasana adalah pandita dari kelompok Hindu sekte Siwa Sidhanta. Sedangkan Padmasari dan Padmacapah dapat ditempatkan menyendiri yang berfungsi sebagai pengayatan atau penyawangan.

Sejarah Singkat Arya Dalem Tamblingan


Menurut Prasasti Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan Babad Hindu Gobleg diceritakan bahwa Ida Bhatara Siwa memiliki 3 Putra yang turun ke Bumi yakni: Ida Bhatara Dalem Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung, Ida Bhatara Dalem Tamblingan.
Ketiga Ida Bhatara ini sering disebut sebagai Ida Bhatara Sanghyang Tiga Sakti, Melinggih ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima ngaran Gedong Kusuma Jati Ning. Semua Keturunan Beliau bergelar Satrya Dalem. Dari sinilah kemudian pengelompokan Keturunan Bali Mula (Bali Kuno/Bali Aga) dibagi menjadi 2 bagian besar yakni:

  1. Kelompok Dalem, terdiri dari: Satrya Dalem, Arya Dalem, dan Pasek Dalem
  2. Kelompok Abdi Dalem, terdiri dari: Arya, Pasek, dan Pande

Ida Bhatara Dalem Solo melinggih ring Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung melinggih ring Kelungkung, dan Ida Bhatara Dalem Tamblingan melinggih ring Alas Mertajati-Tamblingan (sekitar Danau Tamblingan) . Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan merabian ring Dewa Ayu Mas Ngencorong (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) yang kemudian mempunyai 2 Putra dan 1 Putri yakni:

  1. Dewa Dalem Maojog Mambet
  2. Dewa Dalem Juna (Nyukla Brahmacari)
  3. Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan (Merabian ring Ida Bhatara Dalem Ped ring Nusa Penida)

Dewa Dalem Maojog Mambet (Bhatara Guru Nabe) melinggih ring Meru Tumpang Lima di Pura Pejenengan- Gobleg, Keturunan Beliau bergelar Arya Dalem Tamblingan, Beliau mempunyai 2 Istri yakni:

  1. Dewa Ayu Manik Subandar (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) sebagai Siwa ring Tengen melinggih ring Pura Siwa Muka Bulakan-Gobleg, Solo ngaran Jawa yang artinya Piodalannya ring Sugian Jawa. Beliau mempunyai Putra: Ngurah Bendesa (Penyarikan Agung), Ngurah Nyrita (Penyarikan Gong), Ngurah Kubayan (sebagai Kubayan), dan Dewa Ayu Dalem Tamblingan (Dewa Ayu Sapuh Jagad?)
  2. Dewa Ayu Ibu (Putri dari Ida Bhatara Dalem Kelungkung) sebagai Siwa ring Kiwa melinggih ring Pura Siwa Muka Suukan-Gobleg, Kelungkung ngaran Bali yang artinya Piodalannya ring Sugian Bali. Beliau mempunyai Putra: Ngurah Pasek (Balian Agung / melinggih ring Bale Agung sebagai Hulu) , Ngurah Ngeng (Balian Banten), Ngurah Mangku (Mangku Agung / Mangku Gede / Mangku Puseh)

Selanjutnya diceritakan Ngurah Bendesa mempunyai Putra: Ngurah Pangenter (Pangenter Agung), Kubayan, dan Dewa Ayu Merta Sari.

Semua Keturunan Arya Dalem Tamblingan ini tidak diperkenankan memakan Buah Timbul ataupun menebang Pohon Timbul dan membunuh Tetani (rayap), hal ini dikarenakan Ida Bhatara Dalem Tamblingan pernah berhutang jasa terhadap Pohon Timbul dan Tetani.

Sebelumnya diceritakan Ida Bhatara Dalem Solo pada waktu turun ke Bumi dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, kemudian Ida Bhatara Dalem Kelungkung juga dianugrahkan Tepak Besi Kuning yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, sedangkan Ida Bhatara Dalem Tamblingan dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yang isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kerbau Putih, dan 2 ekor Macan yg bernama Gringsing Wayang dan Gringsing Kuning.

Setelah Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai di Alas Merta Jati (sekitar Danau Tamblingan) dibukalah Tepak Besi Kuning tersebut, kemudian keluarlah ke-16 parekan tersebut dan diperintahkan oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk membuat Puri atau tempat pemukiman di pesisir Danau Tamblingan. Ke-16 parekan ini diberi nama sebagai Pasek Tamblingan yg dikemudian hari berpindah tempat dan berganti nama menjadi 2 bagian yakni:

  1. Delapan parekan pergi ke daerah Sai (Pupuan) dan berganti nama menjadi Pasek Sai
  2. Delapan parekan lagi pergi ke daerah Batur Sari dan berganti nama menjadi Pasek Batur Sari

Ciri dari ke-2 Pasek ini dapat dilihat dari Pura Kawitannya yg di dalamnya terdapat:

  1. Pelinggih Meru Tumpang Tiga
  2. Pelinggih Gedong Sari
  3. buah Bale Piyasan
  4. Warna Gama-nya adalah Merah-Putih

Ke-2 Pasek ini Pathirtaan-nya ring Gusti Mancawarna (ring Gobleg). Kemudian Daging Tepak Besi Kuning yang lainnya ikut juga keluar yakni 1 ekor Kerbau Putih dan 2 ekor Macan (Gringsing Wayang & Gringsing Kuning). Setelah selesai membuat Puri/Pasraman serta membuka lahan pertanian, Ida Bhatara Dalem Tamblingan pada waktu itu bergelar sebagai Satrya Dalem Tamblingan.

Setelah selesai membangun pasraman di Tamblingan, kemudian ada Pemastu (perintah berisi bisama/kutukan) dari Sanghyang Aji Tiga Sakti agar semua Keturunan Satrya Dalem Tamblingan agar membangun Pura tempat berbakti kepada Ida Bhatara Kawitan. Pura ini terdiri dari beberapa Pelinggih sbb:

  • Gedong Kunci, dengan 3 (tiga) anak tangga (undagan)
  • Meru Tumpang Lima (Gedong Kusuma Jati Ning), dengan 5 (lima) anak tangga
  • Bale, dengan 5 tiang penyangga (adegan/tampul), ditengah Bale diberi 3 (tiga) anak tangga

Kalau tidak membangun Pura seperti yang di atas, maka seluruh Keturunan Satrya Dalem Tamblingan akan mendapat Bisama/Kutukan: sengsara terus-menerus tidak bisa diobati/diampuni dan tidak ada kerja/pekerjaan dengan hasil yang baik. Kalau membangun Pura seperti di atas, maka Bisama/Kutukan itu akan terhapuskan.

Pada waktu menghaturkan bhakti di Pura ini sebaiknya tidak sembarangan (berhati-hati), sebelumnya harus menghaturkan sembah sebanyak tiga kali dengan Mantram sbb:
“ Om Atur ing ulun Ang Eng Syang, Ong Sanghyang Tiga Sakti Yam, Ong Am Om dwa telu papat lima enam dasa syia kutus sada pitu Yam”

Singkat cerita, Ida Bhatara Dalem Solo sudah memiliki Istri dengan 2 Putri dan 1 Putra, Ida Bhatara Dalem Kelungkung sudah memiliki Istri dengan 2 Putra dan 1 Putri, Ida Bhatara Dalem Tamblingan belum mempunyai Istri. Kemudian dianugrahkanlah seorang Putri Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk diangkat sebagai Putri Angkat, namun setelah dewasa, Putri Ida Bhatara Dalem Solo diambil sebagai Istri oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Kemudian menurunkan 2 Putra dan 1 Putri yang bernama : Dewa Dalem Maojog Mambet, Dewa Dalem Juna, Dewa Ayu Mas.

Dewa Dalem Maojog Mambet memiliki 2 Istri (Kiwa-Tengen) dan memperoleh Anugrah untuk menciptakan Mata Air Suci yang disebut sebagai Tirta Pradana Urip dan Tirta Pradana Pati di Pura Pejenengan- Gobleg, Tirta ini diperuntukan bagi alam beserta isinya baik yang berupa benda hidup (urip) ataupun benda mati (pati), Penguasa/Pemilik Tirta ini adalah Ida Bhatara Ibu Sakti (Sanghyang Panca Maha Bhuta), Melinggih ring Pura Pejenengan, Piodalan ring Tumpek Landep. Dewa Dalem Juna tidak memiliki Istri (Nyukla Brahmacari). Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan Merabian (Menikah) Ring Ida Dalem Sakti Dalem Ped (Nusa Penida).

Lama kelamaan, berita ini diketahui oleh Ida Bhatara Dalem Solo, dan dipanggilah Ida Bhatara Dalem Tamblingan menghadap ke Solo. Sesampai di Solo bertanyalah Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan, apakah benar Putrinya diambil Istri oleh Adiknya, dan dijawab benar oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Akhirnya Ida Bhatara Dalem Solo menjadi Murka (marah) kepada Adiknya, karena kesalahan yang dilakukan oleh Adiknya tersebut, maka diturunkanlah gelar Satrya Dalem Tamblingan menjadi Arya Dalem Tamblingan.

Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan diperintah oleh Ida Bhatara Dalem Solo untuk menggali sebuah sumur di Solo, setelah sumur digali, lalu ditimbunlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan dengan batu, namun semua batu kembali naik ke atas. Di dalam sumur, Ida Bhatara Dalem Tamblingan menemukan lubang semacam goa kecil dan di dalamnya terdapat akar Pohon Timbul yang sudah dimakan rayap (tetani), kemudian dipeganglah akar pohon timbul tersebut sebagai pegangan menelusuri goa tersebut. Akhirnya sampailah Ida Bhatara Dalem Tamblingan di atas permukaan goa yang disebut dengan nama Goa Naga Loka, letaknya diperbukitan (Bukit Gunung Raung) di atas Danau Tamblingan. Goa Naga Loka ini dibuat oleh Ida Bhatara Sorang Dana (Ida Bhatara Dalem Naga Loka). Berhasilnya Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai dipermukaan goa tidak terlepas dari bantuan Akar Pohon Timbul dan Tetani (rayap), oleh sebab itu bersumpahlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan kepada seluruh Keturunan-Nya agar tidak makan Buah Timbul dan tidak membunuh serta mengutuk Tetani (rayap).

Disini secara garis besar disampaikan beberapa sebutan Ida Bhatara menurut Prasasti Gobleg, Babad Hindu Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan beberapa sumber media informasi lainnya, yakni:

  1. Ida Bhatara Puseh (Ida Bhatara Sanghyang Aji Sakti), Beliau meraga Tiga, yakni sebagai Sanghyang Siwa (Merah), Sada Siwa (Putih/Kuning), dan Parama Siwa (Hitam). Beliau Melinggih ring Pura Puseh, ring Pelinggih Piyasan Tiga Sakti, ring Pelinggih Padma Tiga (ring Penataran Agung Pura Besakih).
  2. Ida Bhatara Siwa Guru (Ida Bhatara Aji Sakti / Ida Bhatara Dewa Dalem Majapahit), Melinggih ring Pura Bukit Sinunggal (Desa Tajun), ring Gunung Agung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Pitu.
  3. Ida Bhatara Raja Berawa Murti (Ida Bhatara Dewa Dalem Tiongkok), Melinggih ring China/Tiongkok, ring Pelinggih Konco.
  4. Ida Bhatara Sanghyang Srimandi (Ida Bhatara Sanghyang Kendi), Melinggih ring Gunung Batur (Pura Batur-Kintamani), ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga.
  5. Ida Bhatara Dalem Solo (Ida Bhatara Dewa Dalem Bremang), Melinggih ring Surakarta-Solo, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima.
  6. Ida Bhatara Dalem Kelungkung (Ida Bhatara Dewa Dalem Bahem), Melinggih ring Kelungkung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima.
  7. Ida Bhatara Dalem Tamblingan (Ida Bhatara Dewa Dalem Mas Madura Sakti), Melinggih ring Pura Dalem Tamblingan, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 8. Ida Bhatara Surya (Ida Bhatara Dewa Dalem Dasar), Melinggih ring Pura Dalem Dasar, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga.

PURA AGUNG UDAYA PARWATA TAMBORA


Pura Agung Gunung Tambora yang terletak di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini sangat terkait dengan Perjalanan Danghyang Nirarta dari kerajaan Daha menuju Tambora sekitar tahun 1478-1560. Hal itu menurut Dr.Soegioanto Sastrodiwiryo dalam bukunya berjudul: Danghyang Nirarta: Sebuah Dharmayatra (1478-1560) dari Daha ke Tambora, jauh sebelum Gunung Tambora meletus (1815) pada bulan Phalguna 1532 Masehi.

Danghyang Nirarta yang telah berusia 80 tahun setelah melaksanakan Dharmayatra di Pulau Lombok, memutuskan berlayar menuju Pulau Sumbawa menggunakan perahu, disertai nelayan Lombok yang pernah dibantu saat mereka terdampar di Mojok Batu (di pantai/pura Ponjok Batu- sekarang) di Singaraja. Selanjutnya, beliau melewati Teluk Taliwang hingga berlabuh di Teluk Sumbawa.

Kedatangan Danghyang Nirartha disambut Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat yang kebetulan saat itu kehidupan masyarakat di sana sedang kesusahan, akibat gagal panen akibat diserang hama penyakit. Atas permohonan kepala desa itu, akhirnya Danghyang Nirartha terpanggil membantu masyarakat petani dimaksud.
Beliau lantas memerintahkan masyarakat setempat untuk mengisi sawah dan ladangnya dengan padupaan yang berisi api dan kemenyan. Dengan memohon kepada Tuhan dan Dewa yang berstana di Gunung Tambora, keesokan harinya tiba-tiba hama penyakit berupa ulat dan belalang itu lenyap tanpa bekas. Karenanya, sejak itu masyarakat memanggil beliau dengan sebutan Tuan Semeru.

Mencermati sejarah Dharmayatra beliau, ada dua motivasi Danghyang Niratha melaksanakan Dharmayatra ke Pulau Sumbawa yakni, karena rasa kekaguman dan kerinduan yang mendalam untuk melihat Gunung Tambora ke dalam rasa keagamaannya membayangkan bagaimana Siwa (Tuhan) menjejakkan kakinya saat membangun tiga dunia. Beliau merasa bahwa jejak Siwa yang paling timur adalah Gunung Tambora. Beliau berharap agama Hindu masih bisa dipertahankan keajegannya di daerah ini.

Di samping itu, adanya hasrat yang besar untuk bertemu dengan kerabat leluhurnya yang merupakan seorang Brahmana Siwa yang sebelumnya diutus dan ditugaskan Raja Majapahit (tahun 1344 Masehi) untuk menaklukkan raja-raja di Sumbawa.
Setelah armada Majapahit di bawah pimpinan Mahasenopati Nala berhasil menaklukkan raja- raja yang ada di pulau Sumbawa. Danghyang Nirartha berharap dapat bertemu dengan putra-putri beliau, atau setidaknya bisa bertemu dengan cucu seangkatannya.
Setelah mendapat informasi dari penduduk Sumbawa, bahwa kerabatnya telah lama meninggal, Beliau pun melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambora, masuk ke Teluk Saleh melewati celah antara pulau Sumbawa dan pulau Moyo dan akhirnya sampai di pelabuhan di lereng selatan Gunung Tambora.

Saat itu, Gunung Tambora yang puncaknya tampak perkasa sesekali mulai mengeluarkan asap dan lidah api. Di pelabuhan itu, beliau kemudian disambut penghulu kaya dan rajin. Penghulu itu ternyata telah lama mendengar kehebatan beliau, karenanya begitu bertemu dengan beliau, penghulu itu memelas agar bersedia membantu menyembuhkan anaknya yang telah lama menderita suatu penyakit dan sangat sulit disembuhkan serta berbagai upaya dan usaha telah dilakukan tetapi satu pun tidak berhasil.
Selanjutnya Danghyang Nirartha mencoba mengobati dengan segala kemampuannya. Akhirnya anak penghulu itu pun berhasil dibantu. Sebagai ungkapan terima kasih penghulu itu merelakan anaknya diajak ke Bali. Selama berada daerah ini, Danghyang Nirartha kerap melakukan payogan. Salah satunya adalah di sekitar lokasi Pura Agung Gunung Tambora dimaksud. Seperti halnya di tempat lain, di manapun beliau pernah beryoga, tempat itu selalu menjadi tersohor karena biasanya tempat dimaksud mampu memancarkan aura spiritual yang sangat tinggi. Tak heran jika sebagian besar jejak perjalanan beliau, kini dibangun sebuah tempat yang megah serta banyak umat yang datang memohon anugrah sekaligus tuntunan spiritual beliau, tak terkecuali di Pura Agung Gunung Tambora yang mampu memancarkan aura kesejukan, kedamaian, dan ketenangan serta spiritual yang sangat kuat dan tinggi.
Tanjung Menangis.

Setelah dirasa cukup menunaikan tugas sucinya, serta puas berada di daerah ini, lanjut Jro Mangku Gede Tambora yang mantan pengerajin perak dan emas ini, beliau memutuskan kembali ke Bali. Namun, masyarakat di sana merasa sangat kehilangan dan sedih ketika beliau mengutarakan niatnya itu, bahkan sejumlah warga bersikeras agar beliau tetap berada di sana, tetapi itu tidak mungkin dilakukan. Akhirnya, dengan berat hati, masyarakat itu melepas kepulangan beliau dengan rasa haru dan sedih.
Sebagai rasa hormat dan bhaktinya kepada beliau, masyarakat lalu mengantar beliau beramai- ramai sekaligus berpisah di sebuah tanjung yang kemudian tanjung itu diberi nama Tanjung Menangis. Dinamakan seperti itu karena kepergian beliau diiringi dengan isak tangis.

Selanjutnya beliau kembali melalui pantai utara Lombok, dan pada April Icaka 1455 tiba di pelabuhan Kusamba serta langsung menuju ibukota Gelgel. Sampai di Bali, anak penghulu yang dibawa itu diberi nama Denden Sari. Setelah dewasa Denden Sari kemudian dinikahkan dengan cucunya Danghyang Nirartha bernama Ida Ketut Buruan Manuaba. Merekalah kemudian menurunkan Klen Manuaba sampai saat ini.

Lebih jauh Jro Mangku yang dikenal kaya pengalaman ini menjelaskan, Pura Gunung Tabora yang terletak di kaki Gunung Tambora tepatnya 146 Km dari Kota Dompu ini, merupakan Pura Kahyangan Jagat yang ada di NTB. Pura ini sangat dikeramatkan umat Hindu di Kabupaten Bima, Dompu, dan Sumbawa serta penduduk lain di sekitar pura.

Setiap Pujawali yang jatuh pada Purnamaning Sasih Kasa, umat Hindu di tiga kabupaten dimaksud berduyun-duyun tangkil ngaturang sembah bakti memohon anugrah sekaligus tuntunan spiritual beliau, serta permohonan lainnya. Banyak permohonan pamedek yang dilakukan dengan penuh ketulusan dikabulkan oleh beliau, sehingga tak heran jika seiring berjalannya waku, terutama pada waktu dan hari-hari tertentu pura ini ramai dikunjungi umat Hindu bahkan umat non-Hindu dengan tujuan tertentu.

“Pura ini dibangun atas petunjuk Ida Peranda Gede Putra dari Griya Cempaka, Singaraja yang sedang melaksanakan tirtayatra ngetut pemargin Danghyang Nirarta ke Pulau Sumbawa. Lokasi pura ditentukan melalui petunjuk yang diterima Ida Peranda melalui konsultasi niskala dengan beliau yang berstana di pura ini, akhirnya di sinilah tempat yang paling tepat,” ujar Jro Mangku Gede Tambora menegaskan seraya menambahkan, bahwa lokasi di mana pura ini didirikan, diyakini sebagai tempat payogan Danghyang Nirartha saat melaksanakan dharmayatra di daerah ini.

Terima kasih: Leak Bali, https://visittambora.com