Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Mengenal Gayatri Mantram


Gayatri Mantram merupakan ibu dari 4(empat) weda(Rgveda, Yayurveda, Samaveda dan Atharwaveda). Gayatri Mantram terdapat didalam Atharwaveda, mantra ini juga sering disebut sebagai Guru mantram, Savita mantram dan Maha Mantra. Gayatri Mantram adalah mantra yang paling suci diantara mantra. Veda, Upanisad, Purana dan Bhagawad-gita menyatakan bahwa Gayatri Mantram paling suci dan penting. Gayatri Mantram perlu dan penting diucapkan bagi seluruh umat untuk mencapai kebahagiaan dunia dan moksa, begitu pentingnya Gayatri Mantram sehingga Hyang Widhi menurunkan Atharwaveda untuk menjelaskan Gayatri Mantram ini.

Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam.
Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam
Mahyam dattwa vrajata brahmalokam.

Artinya: Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleh karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.

Penjelasan:

Dalam mantra di atas dijelaskan bahwa mantra yang berakhir dengan kata “Prachodayat” yang berarti Tuhan Selalu memberikan Karunia-Nya dan selalu melindungi. Jadi mantra dengan akhir Prachodayat yang terdapat dalam Gayatri mantra adalah Mantra Pokok, dalam seluruh Weda. Untuk itu ditetapkan bahwa Gaytri Mantram adalah ibu dari ke empat Weda, dimana seluruh Weda itu berisikan atau lahir untuk memberikan penjelasan tentang Gayatri Mantram. Hal demikian juga terdapat dalam cerita Ramayana. Rsi Walmiki mengambil Gayatri Mantram dari Weda terdapat 24 aksara Gayatri Mantram. Ke 24 aksara tersebut dijelaskan dalam keseluruhan cerita Ramayana.

Dalam mantram tersebut dijelaskan bahwa “Jika seseorang selalu mengucapkan Gayatri Mantram dengan baik segala keinginan yang baik akan selalu dipenuhi.” Hal tersebut terbukti dengan adanya kata “Warhadah” yang berarti seluruh keinginan yang baik bisa dipenuhi melalui dengan Gayatri Mantram tersebut. Gayatri mantram juga menjadi penebus dosa-dosa seseorang yang pernah dilakukan dengan sadar maupun tidak. Sehingga untuk menebus semua dosa bisa dengan berjapa Gayatri Mantram.

Demikian juga para Dwija akan menjadi suci dengan ucapan Gayatri Mantram. Dwija juga berarti lahir yang kedua kali, yaitu pertama dari Ibu dan yang kedua kali dari guru. Karena sang guru “Melahirkan” kita dengan memberikan kita pengetahuan untuk mencapai Moksa. Lebih lanjut dijelaskan jika seseorang setiap hari mengucapkan Gayatri Mantram, maka dia akan mendapatkan umur panjang, Prana yang sehat, keturunan yang cerdas dan sehat, tidak akan mendapat gangguan dari mahluk lain, mendapat nama baik (berkenalan dalam masyarakat), diberkati kekayaan, dan selalu akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirnya akan mendapatkan Moksa.

Gayatri Mantram adalah bait pertama dari Puja Tri Sandhya yang kita selalu kita lakukan setiap hari.

Om Bhur Bhuvah Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya dimahi dhiyo yo nah pracodayat.

Artinya:

Tuhan adalah bhùr svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita.

Hubungan Seks Yang Sehat dan Sakral Menurut Hindu


Hubungan Seks dalam sebuah ikatan perkawinan merupakan anugerah dan sumber kebahagiaan yang luar biasa dalam kehidupan keluarga. Di dalam agama Hindu, hubungan seks bertujuan untuk mendapatkan keturuan yang suputra. Kesucian dalam berhubungan seks, banyak diatur dalam Manawa Dharmasastra dan lontar lainnya: Hubungan seks dalam Hindu tidak semata-mata untuk sebuah kesenangan tetapi yang lebih utama adalah untuk mendapat keturunan yang disebut sebagai “dharma sampati.” Dengan demikian seks di luar nikah, menurut Hindu adalah dosa, termasuk “paradara” dalam trikaya parisuda (kayika).

Image by: Hindu Human Rights

Berikut adalah tips melakukan hubungan seks yang sehat dan sakral antara suami dan istri :

  1. Membersihkan badan/ mandi terlebih dahulu
  2. Sembahyang mohon restu Dewa-Dewi Smara Ratih
  3. Hubungan seks jangan dilakukan: ketika sedang marah, mabuk, tidak sadar, sedih, takut, terlalu senang. ketika wanita sedang haid, waktu yang tidak tepat: siang kangin (fajar), bajeg surya (tengah hari), sandyakala (menjelang matahari terbenam), purnama, tilem, rerainan (hari raya), odalan, sedang melaksanakan upacara panca yadnya. jangan meniru “gaya binatang”, yang disebut “alangkahi akasa” (melangkahi angkasa)dalam berhubungan seks selalu berbentuk “lingga-yoni”
  4. Kalau senang hubungan seks diiringi musik, pilih yang slow/ tenang, jangan lagu dangdut atau yang ribut/ underground atau house-music, apalagi gaya tripping. Makanya di Bali dahulu ada gambelan “semare pegulingan” (artinya: asmara di tempat tidur) adalah jenis gambelan khas yang di tabuh di Puri-Puri di saat Raja sedang berintim ria dengan Permaisuri.

Bila hubungan seks dilaksanakan dengan patut sesuai swadharma kama sutra, maka anak yang lahir mudah-mudahan berbudi pekerti yang baik, menuruti nasihat ortu, rajin sembahyang, pintar, sehat, pandai bergaul dan hidupnya sukses.

Tetapi bila hubungan seks menyimpang, maka anak yang lahir disebut anak “dia-diu” yakni: bandel, menyakiti hati ortu, bodoh, jahat, banyak musuh, sulit hidupnya, sakit-sakitan.

Sumber: stitidharma.org

Kiamat Dalam Pandangan Hindu


Banyak teori-teori hari kiamat kita temui dari berbagai media, internet khususnya. Bahkan salah satu teori menyebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun ini. Dongeng hari kiamat beredar dengan banyak versi mulai dari sebuah planet misterius yang akan menghantam bumi sampai akan adanya badai matahari yang dahsyat. Dalam pandangan agama-agama rumpun yahudi(abrahamic religions) istilah kiamat sangat populer sebagai hari hancurnya alam semesta beserta seluruh isinya tanpa terkecuali.

Dalam agama Hindu tak dikenal istilah hari kiamat seperti yang dikenal oleh rumpun agama-agama Abrahamistik. Tetapi setiap penciptaan selalu ada awal dan juga akhir (stiti, utpeti, pralina). Agama Hindu mengenal istilah Mahapralaya. Dalam Upanisad dianalogikan Tuhan mencipta dan mengakhiri ciptaannya seperti laba-laba yang menebar dan menarik jaring-jaring dari dan ke badan-Nya. Semuanya berjalan sesuai hukum alam. Ini berarti kelahiran dan kematian (musnah) bisa terjadi kapanpun sesuai dengan hukum alam. Dan ini terjadi berulang-ulang.

Pralaya merupakan sinonim dari Samhara, satu dari 5 fungsi Siwa. Pralaya (Sanskrit) artinya adalah berakhir, menyerap kembali alam di akhir jaman/kalpa; penghancuran dan Mati.

Pralaya di terminologi Hindu:

  • Pertama. Nitya pralaya berarti tidur, arti yang lebih luasnya adalah mati, terjadinya kematian tubuh.
  • Kedua. Laya atau Yuga Pralaya, di akhir Maha Yuga (4 yuga), terjadinya banyak sekali kematian (misalnya perang, gempa dll).
  • Ketiga. Mavantara Pralaya, terjadi di setiap mavantara, jadi sebanyak 14 mavantara, berupa banjir besar yang mendahului adanya Manu ‘manusia’.
  • Kempat. Dina (hari) Pralaya atau Naimittik Pralaya atau pralaya, terjadi di akhir kalpa (1 hari penuh Brahma = 1000 Maha yuga), hancurnya semesta, sorga dan neraka (3 dunia: bhur, bhuwah, swaha).
  • Kelima. Mahapralaya, terjadi di akhir Maha Kalpa (100 Kalpa), atau di akhir usia Brahma, di mana 14 Dunia, 5 elemen (tatwa) 3 sifat (triguna) musnah. Jadi seluruh Brahmanda (telur yang mengembang, semesta dan segala isinya termasuk para deva) diserap kembali oleh Brahman.
  • Keenam. Aatyantika Pralaya, ‘tercapainya perjalanan jiwa lepas dari roda samsara’, khusus arti yang ini, maka waktu terjadinya adalah relatif.
  • Ketujuh. Filosofi Samkya menyatakan bahwa pralaya berarti ‘kosong, tiada apapun, keadaan yang dicapai ketiga triguna (satwam, rajas, tamas) berada pada kondisi yang seimbang, arti no 6 ini merupakan sinonim dari no 5. Waktu terjadinya adalah relatif.

Jadi sejarah bumi saat ini berada di jaman Kaliyuga ke-28 pada tahun Brahma ke 51. Jaman Kaliyuga ini di mulai pada Februari 3102 SM (Manusmrithi 1:64-80; Surya Sidhantha 1:11-23) dan berakhir di 432.000 tahun kemudian.

Dalam ilmu fisika modern Letak matahari diperkirakan 150.000.000 kilometer jauhnya dari bumi. Sinar matahari akan sampai ke bumi dalam waktu 8 menit 20 detik. Para fisikawan telah menghitung energi matahari yang dipancarkan sama dengan 5,7×1000.000.000.000.000.000.000.000.000 kalori per menit dan mampu menyala selama 50 miliar tahun. Dengan demikian, waktu menyala bagi matahari juga terbatas dan pada suatu hari nanti, matahari tidak akan bersinar lagi.