Mengapa di pura banyak terdapat figur-figur menyeramkan ?
Di dalam pura-pura di Bali tidak hanya ada figur Hyang Acintya [yang tidak terpikirkan] dan dewa-dewi, tapi juga banyak ada figur-figur menyeramkan.
Di Penataran Agung Pura Besakih palinggih kiwa [kegelapan, keburukan] dan tengen [kesucian, kebaikan] diletakkan sejajar dan kedudukannya sama.
Kita mebanten tidak hanya ke “alam-alam luhur” tapi juga ke “alam bawah.
Kalau orang yang tidak paham tattva yang termuat di dalamnya, kita bisa dikira memuja setan.
Pura secara fisik memang sarat dengan simbol-simbol seram, tapi bagai sadhaka yang bathinnya sudah terdisiplinkan dari sad ripu dan dari dualitas pikiran, akan dapat melihat rahasianya, untuk kemudian terkagum-kagum. Karena ciri manusia yang sudah menyatu dalam keheningan sempurna adalah tidak ada lagi yang perlu dilawan dan ditendang. Semuanya sudah mengalir sempurna sesuai dengan putaran waktunya.
Bathinnya serupa ruang yang menyediakan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh, serupa langit yang memayungi semuanya, serupa matahari yang menyinari semua tanpa memilih. Sehingga tidak saja manusia dan mahluk baik yang diberi tempat dan ruang, tapi semuanya diberikan tempat dan ruang.
PENJELASAN
Salah satu penggerak pikiran untuk bekerja adalah ketika ada dualitas. Pikiran bekerja dengan sangat sibuk ketika Tuhan berkelahi dengan setan, benar berkelahi dengan salah, baik berkelahi dengan buruk, dihormati berkelahi dengan direndahkan, dll. Dimana ada dualitas, disana pikiran bekerja.
Dualitas menyebabkan pikiran kita tidak pernah bebas. Dualitas menyebabkan pikiran kita bergerak dari satu ketidakpuasan menuju ketidakpuasan yang lain, dari satu kemarahan menuju kemarahan yang lain, dari satu konflik menuju konflik yang lain, dari satu kebencian menuju kebencian yang lain. Rasa permusuhan tinggi, konflik, tersinggung, perkelahian dan perang tidak pernah berakhir.
Para maharsi yang sudah sadar, serta dalam berbagai teks-teks, bahkan secara gamblang menyebut dualitas sebagai bentuk avidya [ketidak-tahuan, kebodohan] paling berbahaya yang membuat hukum karma bekerja dan sebagai akibatnya siklus kelahiran berulang-ulang [samsara] terus terjadi. Hindu memulai perjalanan spiritual langsung di jantung persoalan pembebasan, yaitu memotong akar kelahiran. Dengan cara memotong akar kesengsaraan ini : seluruh dualitas hanya ada dalam pikiran manusia yang masih picik dan sempit.
Itu sebabnya dalam ajaran Hindu kita dibekali dengan tattva ring Rwa Bhinneda, yaitu melampaui dualitas. Tidak ada kegelapan yang ditendang, tidak ada keburukan yang diajak perang. Kesucian maupun kegelapan, kebaikan maupun keburukan, keduanya diletakkan sama sejajar, serta dihormati dan disayangi secara sama.
Jalan keutamaan berada diatas dualitas kiwa-tengen [baik-buruk]. Terlalu lama manusia kelelahan dalam pencarian religius dengan cara membuat Tuhan berperang dengan setan, kesucian bertempur dengan kegelapan, salah berbenturan dengan benar. Dan ketika semua peperangan, pertempuran dan benturan ini dihentikan, bathin langsung sampai kepada hakikat diri yang sejati : paramashanti. Disinilah semua unsur kehidupan dan alam semesta diolah menjadi welas asih, kedamaian dan kebaikan.
Dalam konteks sadhana :
Setiap mahluk di alam semesta ini adalah jiwatman yang mahasuci, percikan-percikan Brahman. Manusia, seekor semut, burung-burung dan termasuk mahluk-mahluk bhur loka [alam bawah], seperti bhuta kala, ashura, preta, dll. Yang membedakannya adalah putaran karma dan kualitas kesadaran masing-masing.
Rasa hormat, welas asih dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta [kepada bhur bvah svah, tiga alam semesta dan semua mahluk di dalamnya] sangat basis dan fundamental sebagai praktek religius terpenting dan ajaran religius terpenting. Karena tanpa rasa hormat, kasih sayang dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta, semua jalan religius menjadi berbahaya. Dan tanpa rasa hormat, kasih sayang dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta, semua praktek religius akan menemui kegagalan.
Dalam roda samsara, jiwa-jiwa yang terlahir di bhur loka, adalah jiwa-jiwa yang kekotoran bathinnya pekat dan karma buruknya banyak. Pahami mereka sebagai mahluk-mahluk menderita dan bukan mahluk jahat. Mereka sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita. Dan siapa tahu yang kita sebut bhuta kala atau ashura itu, beberapa kelahiran sebelumnya pernah menjadi orang tua kita. Tapi kebetulan karena karena kekotoran bathinnya pekat dan karma buruknya banyak, mereka mengalami kejatuhan dalam roda samsara.
Mahluk-mahluk alam bawah adalah mahluk menderita yang sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita.
Orang-orang jahat adalah mahluk menderita yang sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita.
Dan mereka juga bagian dari “tubuh semesta” yang sama dengan kita, yaitu : Brahman.
Dalam konteks jnana :
Tidak hanya kesucian yang layak kita hormati, kegelapan juga layak kita hormati. Tidak hanya yang baik layak kita hormati, yang jahat juga layak kita hormati. Karena kegelapan atau orang jahat :
Mereka sesungguhnya sedang memberikan kita kesempatan untuk membayar hutang karma. Membebaskan kita dari beban hutang karma buruk.
Mereka sesungguhnya sedang menyediakan dirinya untuk menjadi guru dharma tertinggi untuk kita secara gratis. Karena mereka sesungguhnya sedang melatih kita, guna membuat kita menjadi tenang, sabar dan bijaksana.
Dan demi seluruh sebab-sebab diatas, mereka rela menanggung karma buruk atau masuk neraka dari perbuatan mereka tersebut.
Sesungguhnya kesucian dan kegelapan berasal dari apa yang kita pikirkan. Jika ingin damai dan sadar, selalulah berpikir positif [suci] dan menyimak baik-baik pesan-makna dari setiap kejadian. Di balik hal-hal yang kita sebut buruk, tersimpan pesan-pesan dan bimbingan semesta yang indah. Inilah tattva ring RWA BHINNEDA dalam bathin yang berkesadaran sempurna, bahwa dualitas baik-buruk suci-gelap itu sama, hanya pikiran kitalah yang membuatnya menjadi berbeda.
Dalam konteks kesadaran kosmik :
Ajaran Hindu menyebutkan bahwa keseluruhan alam semesta [langit, matahari, bintang, bulan, bumi manusia, binatang, tetumbuhan, dewa, ashura, bhuta kala, dll], terangkai rapi kedalam jejaring kosmik yang tidak terbatas, yang tidak terpikirkan [Brahman].
Kalau sudah paham semua ini, sadar tentang hakikat ini, kita mau membenci siapa ? Mau perang dengan siapa ? Sehingga kita bisa memasuki puncak ajaran dharma, yaitu : KEHENINGAN SEMPURNA.
Sesungguhnya semuanya Brahman. Setiap atom, setiap wujud materi, setiap bentuk kehidupan. Tidak ada yang namanya dualitas kesucian-kegelapan, keburukan-kebaikan, itu hanya cara PIKIRAN mengerti dan bukan realita sebenarnya.
HUKUM ALAM SEMESTA
Sebagian orang memahami dharma sebagai yang benar ditegakkan dan yang salah dihancurkan. Tapi perlu diketahui bahwa ada banyak peperangan [bahkan sebagian peperangan begitu sia-sia], muncul dari orang yang menganggap dirinya dharma kemudian menganggap orang lain adharma demikian mudahnya.
Brahman ada diatas dualitas benar-salah dan tentu saja tidak memihak. Salah-benar dan memihak, itu hanyalah bahasa-bahasa pikiran. Brahman adalah Hyang Acintya [yang tidak terpikirkan].
Dengan catatan ada hukum mutlak alam semesta yang bekerja :
Kalau keseharian kita bersih [penuh welas asih, penuh kebaikan, jujur, polos, dll] kita akan mudah terhubung dengan bagian dari Brahman yang mahasuci, sebaliknya kalau keseharian kita penuh kegelapan [korupsi, selingkuh, suka marah, benci, dll] kita akan mudah terhubung dengan bagian dari Brahman yang juga gelap.
Kalau hidup kita penuh kebaikan maka kebahagiaan dan pembebasan yang datang, kalau hidup kita di jalan adharma maka kesengsaraan yang akan datang.
Benar-salah sesungguhnya ada dalam pilihan manusia. Dan putaran karma kitalah yang memihak.
PENUTUP
Om Bhur Bvah Svah, demikian mantra yang sering kita ucapkan. Ketiga kelompok alam semesta, beserta seluruh mahluk dan isi di dalamnya, adalah OM [Brahman]. Hal ini juga disimbolikkan pada bangunan padmasana [sebagai stana Hyang Acintya], dimana di bagian bawahnya ukiran seram-seram [lambang alam bhur], di tengahnya biasa [lambang alam bvah] dan diatasnya yang suci-suci [lambang alam svah].
Itulah sebabnya tempat suci dalam ajaran Hindu bukanlah tempat yang hanya ada yang suci-suci saja, melainkan semuanya ada disitu. Bhur, bvah, svah adalah sebuah tatanan kosmik yang menyatu rapi dalam diam dan hening. Tidak ada yang perlu ditambahkan, tidak ada yang perlu dikurangi. Semuanya sudah menyatu rapi dalam kesatuan semesta yang manunggal.
Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang kepemimpinan. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra Hindu seperti Ramayana dengan konsep Asta Brata.
Ilustrasi pemimpin
Dalam kitab Atharva Veda: 3.4.1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: “Wahai pemimpin negara, datanglah dengan cahaya, lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan, hadirlah sebagai pemimpin yang utama, seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu, raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini.”
Pada potongan video singkat ini kita bisa membedakan mana seorang leader yang baik.
Disamping sebagai pelindung rakyat, pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai berikut:
Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma, serta mencukupi kebutuhan rakyatnya, maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3.4.2).
Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat, maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling melindungi, demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya.
Pemimpin yang tidak terkalahkan, melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan, sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati, dan melindungi pemimpin tersebut. (Rg Veda: 4.50.9)
Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda, maka negara tersebut akan hancur. (Atharva Veda: 5.19.6)
Dalam Nitisastra 1. 1 1 disebutkan bahwa : Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. Ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula.
Dalam Tantri Kamandaka, si gajah yang besar dan kuat namun angkuh, mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung, lalat dan katak. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun.
Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya. Warga-warga disatukan, dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja. Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura, yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi, yaitu Sama, Beda, Dana dan Danda.
Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV, 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang ideal. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah: “Dan ia disuruh untuk menghormatinya, karena Ida Bhatara ada pada dirinya, delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu, itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni, demikian delapan jumlahnya, beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja, itulah sebabnya disebut Asta Brata”
Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat, ia memukul pencuri sampai mati, demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat, setiap yang merintangi usahakan musnahkan.
Bhatara Surya selalu menghisap air, tiada rintangan, pelan-pelan olehnya, demikianlah engkau mengambil penghasilan, tiada cepatcepat demikian Surya Brata.
Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya, perilaku lemah lembut tampak, senyummu manis bagaikan amerta, setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati.
Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang, hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua, dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara, inilah Bayu brata, tersembunyi namun mulia.
Nikmatilah hidup dengan nikmat, tidak membatasi makan dan minum, berpakaian dan berhiaslah, yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani.
Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit, itulah engkau tiru Pasabrata, engkau mengikat orang-orang jahat.
Selalu membakar musuh itu perilaku api, kejammu pada musuh itu usahakan, setiap engkau serang cerai berai dan lenyap, demikianlah yang disebut Agnibrata.
Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin.
“sakanikang rat kita yan wenang manut, manupadesa prihatah rumaksa ya, Ksaya nikang papa nahan prayojana, Jananuragadi tuwi kapangguha.
Artinya:
Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya Cinta orang tentu akan kita jumpai.
Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna, yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. Dari semua hukum-hukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin, disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. Dalam kakawin Ramayana, Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya.
Ika ta prassidha dharma ulahaning kadi Kita prabhu, si mangraksa rat juga, Mtangian mangkana,asihning wwang ring Sarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranya. Kotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat,ika ta sang prabu, Makambek mangakana
Terjemahan:
Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara, sebabnya demikian,sayangmu pada semua makhluk dharma namanya,penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan, untuk melindungi negara, demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku.
Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa,yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara, tidak menjadi panutan yang dipimpinnya, maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut:
“Laku bhrtya matinggal ratunya, yan hana ratu akeras mapanas ing gawe, byakta sira tininggal ing wadwa nira, leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda, yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira, ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa, awisesa ngaranya manarub, ya hana wwang kulina janma sinoraken, yang hana wang adhahjati dinuhuraken, yeka anarub ngaranya, yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma, (slokantara 40)
Terjemahan :
Pelayan dapat meninggalkan rajanya, bila raja kejam dan bengis tindakannya. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa, yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan, itulah mencampur-baurkan namanya. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif.
Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah kesejahteraan para pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini:
Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun, Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan, Bhukti akaharepta wehing bala kasukan, Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika. (Kakawin Ramayana III, 54)
Terjemahan:
Pura-pura (tempat suci), rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki, supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. Dharma, artha, dan kama namanya demikian itu.
Santasih nitya thaganan. Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan. (Ramayana III, 65)
Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya.
Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu “Gunamanta Sang Dasarata Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh”
Kutipan bait Ramayana di atas, menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita. Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya, yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma, dan seorang pandita yang arif bijaksana, selalu dalam kesucian, dan penuh cinta kasih.
Jro Mangku Sudiada- Dalam Nawa Natya digambarkan adanya sembilan syarat bagi seseorang yang dapat dipilih sebagai pemimpin pembantu raja.
Image: Ilustrasi @2018 Bedugul Bali
Sembilan syarat yang disebut Nawa Natya adalah:
Pradnya widagda, artinya bijaksana dan mahir dalam berbagai ilmu pengetahuan. Orang yang mampu menjadikan ilmu sebagai alat untuk memperkuat diri dan mampu menjadikan dirinya seorang bijaksana inilah yang disebut pradnya widagda.
Parama artha, artinya orang yang memiliki cita-cita mulia dalam hidupnya, adalah orang yang dalam mencari sumber hidup dan kehidupan melalui bhakti pada Tuhan dan mengabdi pada sesama dengan penuh cinta kasih. Dari bhakti-nya pada Tuhan dan pengabdiannya pada sesama itulah mereka mendapatkan sumber hidup dan kehidupan.
Wira sarwa yudha, artinya pemberani dalam menghadapi pertempuran, baik dalam keadaan perang ikut berperang maupun dalam keadaan damai tidak takut menghadapi masalah yang terjadi dalam melakukan tugas-tugas kepemimpinan. Pemimpin itu jangan lari dari persoalan yang dihadapi dalam pekerjaannya. Setiap persoalan yang timbul hendaknya diselesaikan secara baik atau berbadasarkan kebenaran dan menuju kebenaran.
Dirotsaha, artinya teguh dan tekun dalam berupaya. Dirotsaha berasal dari kata dira artinya teguh atau tekun dan utsaha artinya berupaya. Keteguhan dan ketekunan itu bukanlah suatu keangkuhan, namun didasarkan pada kuatnya rasa bhakti pada Tuhan dan disertai dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberikan petunjuk pada mereka yang teguh dan tekun berusaha untuk menemukan kebenaran.
Pragi wakya, artinya pandai menyusun kata-kata dalam pembicaraan. Salah satu tugas seorang pemimpin adalah menyampaikan buah pikirannya dalam suatu pembicaraan dengan pihak lain secara jelas, lugas, tepat dan teliti. Pragi wakya akan diperoleh melalui kegemaran membaca dan latihan-latihan berbicara.
Sama upaya, artinya taat pada janji. Janji adalah mahkota yang menentukan wibawa seorang pemimpin. Karena itu, pemimpin tidak boleh sembarang berjanji.. Kepercayaan adalah napas bagi seorang pemimpin.
Lagha wangartha, artinya orang yang tidak memiliki pamrih pribadi yang sempit, karena keyakinan nya sangat mendalam tentang kebenaran ajaran karma phala. Karena hanya perbuatan yang baiklah yang akan memberikan hasil yang baik. Oleh karena itu, berkonsentrasilah untuk selalu berbuat yang baik sesuai dengan swadharma.
Wruh ring sarwa bhastra, artinya tahu mengatasi kerusuhan, mirip dengan ilmu “manajemen krisis” dewasa ini. Seorang pemimpin harus sudah memperhitungkan semua kemungkinan tersebut dan harus sudah memiliki berbagai upaya dan konsep pencegahannya.
Wiweka, artinya kemampuan untuk dapat membeda-bedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang tepat dan mana yang kurang tepat. Juga mampu mengambil sikap mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting, dan seterusnya. Hal ini tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca buku saja, namun harus dilakukan melalui latihan-latihan yang tekun dalam masyarakat di samping itu harus juga ada bakat.
Recent Comments